KUPANG — Kasih Kristus bukan alasan untuk berdiam diri di hadapan ketidakadilan. Sebaliknya, kasih menuntut keberanian untuk melawan perdagangan orang, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta praktik sosial yang merendahkan martabat manusia, sekalipun perjuangan itu memicu pertentangan di tengah masyarakat dan keluarga.
Pesan tajam tersebut disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam renungan Renungan Jiwa bertajuk refleksi Pekan Biasa XXIX, Kamis, 22 Oktober 2026, dari Soverdi Oebufu.
Berangkat dari Bacaan I Efesus 3:14-21 dan Injil Lukas 12:49-53, P. Domi mengajak umat beriman memahami kasih Allah bukan sekadar sebagai penghiburan rohani, melainkan sebagai kekuatan yang membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan.
Dalam Injil Lukas, Yesus berkata, “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu menyala!” Bagi P. Domi, api tersebut menjadi gambaran kasih Allah yang menggerakkan manusia untuk berani menentukan sikap ketika berhadapan dengan kejahatan.
“Api kasih Allah yang membebaskan, yang tidak bisa ditawar,” menjadi inti pesan renungan tersebut.
Kasih yang Menguatkan Batin dan Memulihkan Martabat
Merefleksikan surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, P. Domi menyoroti doa Paulus agar umat dikuatkan oleh Roh Kudus di dalam batin dan mampu memahami betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus.
Menurutnya, kekuatan batin sangat penting bagi mereka yang terlibat dalam perjuangan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan atau Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC).
Perjuangan melawan perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan, dan praktik sosial yang menindas dapat menguras kekuatan emosional maupun spiritual. Karena itu, perjuangan membutuhkan keteguhan iman agar mereka yang membela korban tidak kehilangan harapan ataupun berubah menjadi sinis.
P. Domi menggambarkan kasih Kristus sebagai kasih yang menjangkau siapa saja, melampaui batas wilayah dan perbedaan suku; kasih yang bertahan sepanjang sejarah penderitaan; kasih yang mengangkat martabat anak-anak yang kehilangan kesempatan pendidikan; serta kasih yang hadir hingga ke kedalaman luka batin para korban perdagangan orang.
Bagi korban yang merasa dirinya tidak berharga akibat kekerasan dan eksploitasi, kasih Kristus menghadirkan pesan bahwa mereka tetap memiliki martabat dan layak memperoleh pemulihan.
Melawan Ketidakadilan, Meski Berhadapan dengan Pertentangan
Mengulas Injil Lukas 12:49-53, P. Domi menegaskan bahwa perjuangan atas nama kasih tidak selalu menghasilkan penerimaan dan suasana damai.
Ia mengingatkan bahwa Yesus berbicara tentang pertentangan yang dapat muncul ketika seseorang memilih untuk setia pada kebenaran. Bahkan, keputusan tersebut bisa menimbulkan perbedaan tajam di dalam keluarga sendiri.
Dalam konteks perjuangan JPIC di Timor, P. Domi mencontohkan penolakan terhadap praktik belis yang membebani keluarga, kekerasan terhadap istri, serta perekrutan tenaga kerja melalui jalur ilegal yang berisiko mengarah pada perdagangan orang.
Menurutnya, upaya menghentikan praktik-praktik yang merugikan manusia dapat berhadapan dengan penolakan karena dianggap bertentangan dengan kebiasaan atau kepentingan tertentu.
Namun, ia mengingatkan bahwa penghormatan terhadap adat dan upaya menjaga kerukunan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan maupun praktik yang merendahkan martabat manusia.
Pesan ini menjadi seruan agar umat beriman berani membedakan perdamaian sejati dari sikap diam yang membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.
Seruan bagi Pejuang JPIC: Jangan Padamkan Api Kebenaran
Secara khusus, P. Domi mengarahkan refleksinya kepada komunitas Soverdi Oebufu dan para pejuang JPIC agar tidak mundur hanya karena menghadapi pertentangan.
Ia menekankan dua hal yang harus berjalan bersama: kekuatan batin untuk tetap mengasihi, termasuk terhadap mereka yang menentang perjuangan, serta keberanian untuk menyuarakan kebenaran di tengah tekanan sosial.
Baginya, kasih tidak berarti membenci pelaku kejahatan. Kasih justru menuntut keberanian menghentikan tindakan yang merusak kehidupan, sekaligus membuka jalan bagi pertobatan dan pemulihan.
Ia mengingatkan bahwa perdagangan orang, KDRT, dan berbagai bentuk penindasan tidak boleh dibiarkan atas nama kerukunan, kepentingan keluarga, ataupun kenyamanan sosial.
Dalam refleksi itu, api kasih digambarkan memiliki dua daya: menghangatkan dan memulihkan korban yang terluka, sekaligus menerangi serta melawan praktik kejahatan yang membelenggu manusia.
Paulus, melalui doanya, mengajarkan pentingnya kekuatan batin. Sementara itu, Injil mengingatkan bahwa kesetiaan terhadap kebenaran membutuhkan keberanian mengambil sikap.
Menutup renungannya, P. Domi mengajak para misionaris dan seluruh umat beriman untuk membiarkan api kasih Allah tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam perjuangan membela kelompok rentan dan menegakkan martabat manusia.
Pesan utamanya jelas: kasih sejati tidak berhenti pada doa dan kata-kata. Kasih harus menjadi keberanian untuk membela korban, menolak ketidakadilan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih manusiawi.
Renungan Jiwa, Soverdi Oebufu, Kamis, 22 Oktober 2026.
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















