Aceh –
Di antara riuhnya peta politik dan sosial Indonesia, nama Ir. Sri Ariana Ningsih, CPM, CPCE, mungkin tidak segera dikenali banyak orang. Namun, di balik kesederhanaan itu tersimpan sebuah perjalanan karir yang luar biasa—sebuah mozaik panjang yang terangkai dari dedikasi di tingkat akar rumput hingga puncak kepemimpinan organisasi nasional.
Perempuan kelahiran Banda Aceh, 28 November 1962 ini adalah bukti nyata bahwa konsistensi, kerja keras, dan semangat melayani dapat membawa seseorang melampaui batas-batas yang seringkali dipasang masyarakat.
Dari Medan ke Kancah Nasional: Fondasi yang Kokoh
Pendidikan Sri Ariana dimulai dari TK Ibu Loes di Banda Aceh, lalu berlanjut ke SD Medan Putri, SMP Laksamana Martadinata, hingga SMA Negeri 3 Medan. Ia kemudian menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Pertanian Unaya. Namun, bekal formalnya tidak berhenti di situ. Berbagai pelatihan non-formal ia ikuti, mulai dari pelatihan mediator, ahli hukum kontrak, hingga kursus bahasa Inggris dan kewirausahaan. Ini menunjukkan kesadarannya yang tinggi akan pentingnya pengembangan diri sepanjang hayat.
Merintis dari Pelayanan Dasar
Awal kiprahnya dimulai dari dunia kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Prestasi sebagai Kader Posyandu Terbaik Tingkat Nasional tahun 1998 dan Pengelola KB Nasional Terbaik tahun 1999 adalah bukti awal dedikasinya yang tulus di tingkat komunitas. Ia tidak hanya duduk di belakang meja, tetapi turun langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Piagam penghargaan dari Menteri Kesehatan untuk Kesuksesan Pekan Imunisasi Nasional (1997) semakin mengukuhkan peran vitalnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak.
Melanglang Buana: Dari Bisnis hingga Rekonstruksi Aceh
Jiwa wirausaha dan kepemimpinannya tidak hanya terbatas di dalam negeri. Pada tahun 2000, ia terpilih sebagai peserta pertukaran perniagaan antar tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Thailand). Pengalaman internasionalnya terus bertambah dengan berbagai pelatihan yang didukung oleh lembaga internasional seperti Japan International Cooperation Agency (JICA), International Republican Institute (IRI), dan World Bank Group (IFC), khususnya pasca-tsunami Aceh. Ia aktif dalam workshop rekonstruksi Aceh, konsultasi bisnis, dan pengembangan ekspor, menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang pemikir dan pelaku pembangunan.
Berkarya di Ranah Politik dan Organisasi
Sri Ariana juga bukanlah pendatang baru di dunia politik. Jejaknya tercatat sebagai Anggota DPRA periode 2004-2009, dan beberapa kali maju sebagai calon legislatif untuk DPR RI. Pengalaman ini melengkapi pemahamannya tentang tata kelola pemerintahan.
Pada tingkat organisasi, Sri Ariana menunjukkan konsistensi dalam pengabdian dan kepemimpinan. Dari tahun 2020 hingga 2022, ia terpilih sebagai Ketua DPW PPSBI Provinsi Aceh. Selanjutnya, dari tahun 2022 hingga Desember 2024, ia menjabat sebagai Bendahara Umum DPN PPSBI. Kini, sejak tahun 2025, ia memegang posisi sebagai Ketua Umum DPN PPSBI. Selain itu, ia juga memimpin DPW KB WCP (Keluarga Besar Wirawati Catur Panca) Aceh.
Puncak dari perjalanan panjang ini adalah ketika ia memimpin pelantikan pengurus dan peresmian proyek percontohan listrik tenaga surya yang dihadiri oleh Gubernur Aceh dan seluruh Bupati/Walikota se-Aceh—sebuah peristiwa yang menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah.
Filsafat Hidup yang Menghidupi: “Bersama Kita Bisa”
Di balik segudang prestasi, Sri Ariana teguh pada moto hidupnya yang sederhana namun penuh makna: “Bersama Kita Bisa”. Filsafat ini tercermin dalam konsep manajemennya yang mengedepankan kerjasama dan support system yang solid untuk mencapai target tepat waktu. Baginya, kesuksesan bukanlah prestasi individu, melainkan hasil dari kolaborasi dan dukungan banyak pihak.
Dalam pandangannya, profesinya adalah sebuah amanah untuk menjadi panutan dan “srikandi” bagi perempuan Indonesia. Pesannya bagi generasi muda pun lugas: manfaatkan waktu seefisien mungkin untuk belajar dan jangan lupa beribadah. Ini adalah resep suksesnya yang menyelaraskan antara kecerdasan duniawi dan ketakwaan.
Sebuah Legacy Keteladanan
Perjalanan Ir. Sri Ariana Ningsih adalah sebuah feature hidup tentang ketekunan. Dari mengurus rumah tangga, menjadi kader posyandu, hingga memimpin organisasi nasional, ia membuktikan bahwa setiap fase kehidupan adalah kesempatan untuk belajar dan berkontribusi. Di usianya yang ke-63, ia tidak berhenti. Ia terus menorehkan inspirasi, mengajarkan bahwa menjadi “srikandi bangsa” bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati yang besar dan semangat pantang menyerah. Ia adalah bukti bahwa dengan bersama-sama, kita benar-benar bisa.
Penulis/ Editor : Boni Atolan

















