banner 728x250

90 Persen Karhutla Akibat Ulah Manusia, Bintan Tetapkan Status Darurat Bencana!

Kolonel Inf Abdul Hamid Soroti Krisis Air Bersih: Air yang Harusnya Diminum Malah Habis Buat Padamkan Api

banner 120x600
banner 468x60

BINTAN, Radar Perbatasan.com – Kabupaten Bintan kini berada dalam fase waspada tinggi. Pemerintah Kabupaten Bintan resmi menetapkan Status Keadaan Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta Kekeringan Air Bersih tahun 2026.

Keputusan krusial ini diambil dalam Rapat Koordinasi yang dipimpin langsung oleh Bupati Bintan, Roby Kurniawan, di Kantor Bupati Bintan, pada Kamis 25 Maret 2026. Hadir dalam pertemuan tersebut, Komandan Kodim (Dandim) 0315/Tanjungpinang, Kolonel Inf Abdul Hamid, yang memberikan catatan kritis sekaligus tamparan keras bagi kesadaran kolektif masyarakat.

banner 325x300

“Bukan Alam, Tapi Kita”

Dalam paparannya, Kolonel Abdul Hamid menegaskan sebuah fakta pahit di lapangan: alam jarang sekali membakar dirinya sendiri.

“Berdasarkan pengalaman kami, sekitar 90 persen kejadian karhutla dipicu oleh faktor manusia. Terutama praktik pembukaan lahan dengan cara membakar,” tegas Dandim dengan nada lugas.

Menurutnya, cuaca panas dan angin kencang memang mempercepat api merembet, namun pemantiknya tetaplah tangan manusia. Dia meminta agar edukasi dan pengawasan di tingkat desa hingga kecamatan diperketat sebelum semuanya menjadi arang.

Dilema Air: Antara Kebutuhan Hidup dan Pemadaman

Dandim juga menyoroti ironi yang terjadi saat kemarau panjang melanda. Ketika stok air di waduk menipis, air yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat justru harus “dibuang” untuk menjinakkan api akibat kelalaian oknum pembakar lahan.

“Ini memperparah krisis. Air yang terbatas seharusnya untuk rakyat, malah habis untuk memadamkan kebakaran,” tambahnya.

Prediksi BMKG: 2026 Lebih Kering

Data BMKG menjadi alarm bagi semua pihak. Curah hujan di tahun 2026 diprediksi berada di bawah normal. Hari tanpa hujan yang panjang telah menurunkan kelembapan tanah dan menguras cadangan air permukaan secara signifikan.

Merespons kondisi ini, Bupati Roby Kurniawan menginstruksikan langkah cepat:

* Patroli Hotspot: Memperketat pengawasan titik api.
* Distribusi Air: Menjamin pasokan air bersih sampai ke warga terdampak.
* Gakkum: Penegakan hukum tanpa kompromi bagi pelaku pembakar lahan.

“Kami mengimbau masyarakat: tolong jangan buka lahan dengan membakar. Hemat air, dan segera lapor jika melihat titik api,” ujar Bupati Roby.

Sebagai solusi jangka panjang, Dandim merekomendasikan pembangunan sumur bor dan perencanaan pengelolaan air berkelanjutan agar siklus kekeringan tahunan ini tidak terus menjadi “horor” bagi warga Bintan.

Editor: Budi Adriansyah

banner 325x300
error: Content is protected !!