Indeks

Tari Remo, Doa, dan Indonesia Raya: Meruwat Indonesia dengan Menanamkan Memori Kebudayaan Lintas Generasi

SURABAYA — Merawat Indonesia bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga memastikan nilai kebangsaan dan kekayaan budaya tetap hidup dalam ingatan generasi penerus. Pesan itu terasa kuat dalam kegiatan Meruwat Indonesia yang digelar di area makam Pahlawan Nasional Wage Rudolf Supratman, Surabaya, Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan 98 tahun lagu Indonesia Raya.

Sebanyak 40 penari dari Perguruan Seni Budaya Kampung Ilmu tampil membawakan tari Remo kolosal gaya Bolet. Gerakan yang dinamis dan kompak, hasil arahan koreografer Sasmita dan Putu, menghadirkan semangat seni tradisi di tengah suasana penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Bagi anak-anak tersebut, tampil di hadapan banyak orang menjadi pengalaman yang membahagiakan setelah melewati latihan panjang.

“Kalau menari ditonton banyak orang, rasanya senang. Latihan yang begitu lama dan capek akhirnya bisa menyenangkan penonton,” tutur Fay, didampingi dua temannya, Mega dan Zaskia, seusai pertunjukan.

Kegembiraan mereka menjadi gambaran bahwa kebudayaan dapat diwariskan bukan hanya melalui cerita dan pelajaran, melainkan juga melalui pengalaman langsung. Anak-anak tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mengambil bagian dalam menghidupkan tradisi.

Doa di pusara pencipta Indonesia Raya

Rangkaian Meruwat Indonesia diawali dengan prosesi kirim doa di pusara WR Supratman. Anak-anak bersama orang tua yang mendampingi mengikuti ritual yang dipandu Nyai Ngatinah, 69 tahun, menggunakan doa berbahasa Jawa.

Dalam prosesi tersebut, peserta juga melantunkan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Lagu ciptaan WR Supratman itu pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II di Batavia pada 28 Oktober 1928 dan menjadi salah satu tonggak penting perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia.

Suasana tersebut mempertemukan penghormatan terhadap tokoh sejarah dengan keterlibatan generasi masa kini. Di tempat peristirahatan sang pencipta lagu kebangsaan, anak-anak belajar mengenal sejarah melalui doa, nyanyian, dan ekspresi seni.

Nyai Ngatinah menghidupkan Doa Tolak Balak

Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah Teater Mantra dengan repertoar Doa Tolak Balak, dibawakan Nyai Ngatinah sebagai aktris tunggal dan diiringi permainan biola Hery Jolotundo.

Mengenakan kostum menyerupai resi pertapa, Ngatinah melantunkan mantra dengan ekspresi yang kuat. Pengalamannya sebagai pemain ludruk, ketoprak, dan sejumlah produksi film menjadi bekal dalam menghidupkan pertunjukan tersebut.

Salah satu bagian mantra yang dilantunkannya berbunyi: “Sengkala saking wetan sing nulak Sang Hyang Maha Dewa, sengkala balik mangetan Raja Iman Selamet.”

Mantra itu berlanjut dengan penyebutan arah selatan, barat, utara, tengah, hingga atas. Pada bagian tengah terdapat larik, “Sengkala saking tengah, sing nulak Sang Hyang Betara Bayu, sengkala lebur dadi awu.”

Secara simbolis, Doa Tolak Balak memuat permohonan agar malapetaka dijauhkan atau dilebur. Dalam konteks pertunjukan Meruwat Indonesia, mantra tersebut menjadi ungkapan harapan akan keselamatan dan kehidupan bangsa yang lebih baik.

Ngatinah memiliki perjalanan panjang dalam dunia seni tradisi sekaligus menjalani laku spiritual yang, menurut pengakuannya, menjadi sumber penghayatannya terhadap mantra. Perpaduan pengalaman panggung dan penghayatan tersebut menjadi kekuatan dalam penyampaian repertoar Teater Mantra.

Menanam memori kebudayaan untuk masa depan

Selain tari Remo dan Teater Mantra, panggung Meruwat Indonesia juga menghadirkan duet musik W Sibling dengan sajian oriental, paduan suara SMK Muhammadiyah Kapasan Surabaya, serta komunitas ibu-ibu berkebaya yang membawakan lagu-lagu nasional.

Beragam penampilan itu mempertemukan anak-anak, generasi muda, orang tua, dan para pelaku seni tradisi dalam satu ruang kebudayaan. Perbedaan usia dan ekspresi seni justru menjadi kekuatan untuk menyampaikan pesan yang sama: kebudayaan dan persatuan harus terus dirawat bersama.

Ketua pelaksana kegiatan dari komunitas KPIR (Kami Pecinta Indonesia Raya), Rokimdakas, mengatakan kegiatan lintas generasi tersebut dirancang untuk menanamkan memori kebudayaan kepada anak-anak.

“Dengan adanya lintas generasi seperti itu, harapan kami dari event ini bisa menanamkan memori kebudayaan di kalangan anak-anak. Di masa mendatang, mereka itulah yang kemungkinan besar akan merawat dan mengembangkan kekayaan budaya. Tanpa menyiapkan generasi pendukung, masa depan seni budaya kita akan menghadapi persoalan serius,” tutur Rokimdakas.

Pernyataan itu menegaskan bahwa keberlanjutan kebudayaan tidak cukup bergantung pada para pelaku seni yang ada saat ini. Harus ada generasi baru yang mengenal, mencintai, dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan warisan budaya bangsa.

Bagi Fay, Mega, Zaskia, dan puluhan penari lainnya, pengalaman di makam WR Supratman mungkin bermula dari latihan yang melelahkan dan berakhir dengan kegembiraan setelah tampil. Namun, perjumpaan mereka dengan tari tradisi, lagu kebangsaan, doa, dan sejarah dapat menjadi memori yang melekat sepanjang perjalanan hidup.

Di situlah Meruwat Indonesia menemukan maknanya: bukan sekadar mengenang sejarah dan merayakan kebudayaan, melainkan menanamkan kesadaran bahwa masa depan Indonesia juga berada di tangan generasi yang hari ini sedang belajar mencintai warisan bangsanya.

(Redho Fitriyadi)

error: Content is protected !!
Exit mobile version