NENUK, RADAR Perbatasan — Perjuangan iman bukanlah perang melawan sesama manusia, melainkan perjuangan melawan kuasa kejahatan, ketidakadilan, dusta, dan kemunafikan yang dapat bersembunyi di balik jabatan maupun aturan. Pesan keras ini menjadi inti Renungan Jiwa P. Domi K. Dheo, SVD, dari Biara St. Yoseph Nenuk, Kamis, 29 Oktober 2026, dalam refleksi bertajuk “Mengenakan Senjata Allah Saat Musuh Memakai Jubah Suci.”
Berangkat dari bacaan Efesus 6:10-20 dan Injil Lukas 13:31-35, P. Domi mengajak umat Kristiani mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan, tetap teguh dalam kebenaran, memperjuangkan keadilan, mewartakan damai, serta tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Dalam renungan yang bertepatan dengan Bulan Rosario dan Minggu Biasa XXX tersebut, ia menegaskan bahwa kehidupan Kristiani menuntut keberanian untuk tetap setia pada kebenaran, sekalipun menghadapi tekanan dan penolakan.
“Perjuangan kita bukan melawan darah dan daging,” demikian pesan utama yang diangkat dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus.
Menurut refleksi P. Domi, pesan tersebut mengingatkan umat agar tidak menjadikan sesama manusia sebagai musuh, tetapi berani melawan praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai Injil.
Enam Perlengkapan Senjata Allah
Mengacu pada gambaran perlengkapan senjata dalam Efesus 6, P. Domi menguraikan pentingnya kebenaran, keadilan, damai sejahtera, iman, keselamatan, dan Firman Allah dalam kehidupan orang beriman.
Pertama, ikat pinggang kebenaran. Kebenaran harus menjadi dasar kehidupan dan pelayanan. Kejujuran tidak boleh dikorbankan demi kepentingan pribadi, pencitraan, atau kedudukan. Laporan dan pernyataan harus mencerminkan kenyataan, bukan menutupi persoalan.
Kedua, baju zirah keadilan. Aturan tidak semestinya dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang merugikan orang kecil. Keadilan harus diwujudkan dengan memperhatikan martabat manusia, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Ketiga, kasut kerelaan mewartakan damai. Orang beriman dipanggil untuk menghadirkan perdamaian, bukan menghindari persoalan ataupun memperbesar konflik. Damai sejati lahir dari keberanian menghadapi masalah dengan kasih dan tanggung jawab.
Keempat, perisai iman. Iman menjadi kekuatan ketika seseorang menghadapi fitnah, tuduhan, dan penolakan. Umat diajak tidak membalas serangan dengan serangan, melainkan tetap teguh dan menyerahkan penghakiman terakhir kepada Tuhan.
Kelima, ketopong keselamatan. Harapan akan keselamatan membantu orang beriman menjaga hati dan pikirannya agar tidak dikuasai kebencian, keputusasaan, maupun keinginan membalas dendam.
Keenam, pedang Roh, yaitu Firman Allah. Firman Tuhan harus menjadi pedoman untuk menilai tindakan dan memperbaiki kehidupan. Firman bukan alat untuk menyerang atau menjatuhkan sesama, melainkan terang yang menuntun manusia kepada kebenaran.
Melalui gambaran tersebut, P. Domi mengingatkan bahwa kekuatan seorang pejuang iman tidak terletak pada jabatan, kuasa, atau kemampuan menjatuhkan orang lain, tetapi pada kesetiaan terhadap nilai-nilai Injil.
Ratapan Yesus atas Yerusalem: Panggilan untuk Berbenah
Dalam Injil Lukas 13:31-35, Yesus meratapi Yerusalem yang menolak para nabi dan orang-orang yang diutus kepadanya. Gambaran induk ayam yang mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap menjadi simbol kasih, perlindungan, dan kerinduan Allah untuk menyelamatkan umat-Nya.
P. Domi mengajak umat merenungkan bahwa teguran Yesus tidak hanya ditujukan kepada Yerusalem pada masa lampau, tetapi juga menjadi bahan pemeriksaan diri bagi setiap komunitas beriman masa kini.
Dalam konteks kehidupan menggereja dan membiara, ia mengingatkan bahaya ketika lembaga yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru kehilangan semangat kasih, keadilan, dan kepedulian terhadap mereka yang kecil.
Kritik dalam renungan tersebut diarahkan pada perilaku dan praktik yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Injil, seperti ketidakjujuran, ketidakadilan, penyalahgunaan aturan, serta tindakan yang dapat melemahkan pelayanan kepada masyarakat miskin.
Pesan ini menjadi ajakan untuk melakukan koreksi diri. Kesucian sebuah tempat atau lembaga tidak cukup ditunjukkan melalui nama, simbol, jabatan, dan aturan, tetapi harus tampak dalam cara memperlakukan sesama, terutama mereka yang rentan dan membutuhkan pertolongan.
Yesus, melalui gambaran induk ayam, memperlihatkan kasih yang bersedia melindungi anak-anaknya dari bahaya. Karena itu, setiap orang beriman dipanggil untuk membangun komunitas yang merangkul, bukan menyingkirkan; memulihkan, bukan melukai; serta melayani, bukan mencari keuntungan pribadi.
Bulan Rosario: Kekuatan Doa di Tengah Perjuangan
Memasuki Bulan Rosario, P. Domi juga mengajak umat menjadikan doa sebagai kekuatan untuk bertahan dalam perjuangan hidup dan pelayanan.
Ia mengutip nasihat Santo Josemaría Escrivá tentang pentingnya tetap berdoa Rosario, bahkan ketika seseorang lelah atau tidak memiliki banyak waktu. Doa dapat dilakukan dalam perjalanan maupun di sela-sela aktivitas sehari-hari, tanpa harus menarik perhatian orang lain.
Bagi para pelayan Gereja dan pejuang kemanusiaan, doa bukan alasan untuk menghindari persoalan nyata. Sebaliknya, doa menjadi sumber kekuatan batin agar tetap teguh, rendah hati, dan setia dalam memperjuangkan kebaikan.
P. Domi menghubungkan semangat tersebut dengan pelayanan kasih kepada masyarakat di wilayah perbatasan melalui Kasih Sin-Fronteras. Di tengah tantangan pelayanan, doa Rosario menjadi pengingat bahwa karya kemanusiaan harus berakar pada kasih, iman, dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
Ia mengajak umat tidak hanya mengandalkan strategi dan kemampuan manusiawi, tetapi juga membangun kedekatan dengan Tuhan melalui doa yang tekun.
Tetap Setia pada Kebenaran dan Kasih
Menutup renungannya, P. Domi mengajak umat memohon agar Tuhan mengenakan kepada mereka perlengkapan senjata rohani, sehingga mampu menghadapi kejahatan tanpa kehilangan kasih.
Ia juga memohon penyertaan Bunda Maria, Ratu Rosario, agar umat tetap tekun berdoa dan mampu merasakan kehadiran Kristus di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Pesan utama Renungan Jiwa kali ini jelas: melawan kejahatan tidak berarti membenci manusia, memperjuangkan keadilan tidak berarti menebar permusuhan, dan mempertahankan kebenaran tidak boleh dilakukan dengan kebohongan.
Orang beriman dipanggil untuk tetap teguh, tetapi tidak kehilangan belas kasih; berani mengoreksi ketidakadilan, tetapi tidak terjebak dalam kebencian; serta melayani sesama tanpa menjadikan kekuasaan sebagai tujuan.
Sebagaimana ditegaskan dalam refleksi P. Domi K. Dheo, SVD, perjuangan iman yang sejati bukanlah tentang siapa yang paling kuat menjatuhkan lawan, melainkan siapa yang tetap setia kepada kebenaran, keadilan, damai, dan kasih Allah.
Renungan Jiwa — Biara St. Yoseph Nenuk, 29 Oktober 2026.
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor — Kasih Sin-Fronteras
