Betun, 9 Oktober 2025 –
Pemerintah Kabupaten Malaka, melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, melaporkan capaian pengolahan lahan kering gratis menggunakan traktor TR-4 mencapai 1.097,45 hektare atau 36,58% dari target 3.000 hektare selama periode Agustus hingga Oktober 2025.
Program ini merupakan salah satu program unggulan Bupati-Wakil Bupati Stefanus Bria Seran – Henri Melki Simu (SBS-HMS) yang bertujuan meningkatkan produksi pangan di Kabupaten Malaka.
“Pengolahan lahan kering secara gratis ini merupakan upaya nyata pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Plh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malaka, Laurensius Bere, dalam keterangannya di Betun, Kamis (9/10).
Dari 12 kecamatan yang menjadi sasaran, dua kecamatan telah melampaui target, yakni Kobalina Timur dengan capaian 121,35% dan Sasitamean 96,40%. Beberapa kecamatan lain menunjukkan capaian menengah di atas rata-rata kabupaten, seperti Io Kufen, Malaka Timur, dan Malaka Barat. Namun, beberapa wilayah masih mencatat capaian di bawah 30%, termasuk Kobalima, Malaka Tengah, dan Wewiku.
Laurensius Bere menegaskan bahwa capaian pengolahan lahan ini harus diikuti dengan kesiapan petani untuk menanam dimusim penghujan dan merawat tanaman produktif seperti jagung, pisang, ubi kayu, dan aneka kacang-kacangan.
“Lahan sudah siap, sekarang giliran para petani dan masyarakat untuk bergerak cepat siap tanam, menyiangi, dan memupuk agar hasil pertanian optimal. Kami mengajak seluruh tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan desa untuk bersama-sama mengawal program ini demi manfaat yang sebesar-besarnya bagi ketahanan pangan keluarga dan masyarakat,” katanya.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan, termasuk penambahan alat dan koordinasi intensif di kecamatan dengan capaian rendah agar target pengolahan lahan kering dapat segera tercapai.
Program Pacul Tanah Gratis ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Malaka sekaligus mewujudkan visi SBS-HMS di bidang pertanian selama periode 2025-2030.
Editor : Boni Atolan
