Homili Minggu Biasa XXVIII: Iman Sejati Harus Terwujud dalam Solidaritas terhadap Migran dan Rakyat Kecil
ATAMBUA, RADAR PERBATASAN – Iman tidak cukup dibuktikan dengan rajin mengikuti Misa, menerima komuni, atau mengaku sebagai orang Katolik. Iman sejati harus tampak dalam kepedulian terhadap penderitaan sesama. Ketika manusia memilih menutup mata terhadap korban perdagangan orang, kemiskinan, dan penderitaan rakyat kecil, persoalan yang muncul bukan sekadar hilangnya solidaritas, melainkan juga matinya kepekaan hati terhadap panggilan Tuhan.
Pesan keras itu disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam homili Minggu Biasa XXVIII/A di Soverdi Oebufu, 11 Oktober 2026. Mengangkat tema “Perjamuan Kemenangan: Tapi Kamu Peduli atau Tidak?”, ia mengajak umat memeriksa kembali makna iman dan Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut P. Domi, persoalan mendasar manusia bukan selalu penolakan terhadap Tuhan secara terang-terangan, melainkan sikap tidak peduli yang perlahan-lahan menguasai hati.
Dalam Injil Matius 22:1-14 tentang perumpamaan perjamuan kawin, sejumlah orang memilih tidak memenuhi undangan karena sibuk dengan urusan ladang dan usaha masing-masing. Alasan itu tampak masuk akal, tetapi justru memperlihatkan bagaimana kepentingan pribadi dapat menggeser panggilan Tuhan.
“Kita tidak menolak Tuhan secara terang-terangan. Kita hanya tidak peduli pada-Nya. Kita lebih peduli pada ladang kita, pada HP kita, pada usaha kita,” demikian pesan reflektif P. Domi dalam homilinya.
Ia mengingatkan, ketidakpedulian menjadi persoalan serius ketika manusia kehilangan kepekaan terhadap penderitaan di sekitarnya. Kesibukan, kepentingan ekonomi, dan rutinitas keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan sesama yang membutuhkan pertolongan.
Migran Korban Penipuan, Tanah Terlantar, dan Rakyat yang Menderita
P. Domi membawa pesan Injil itu ke dalam kenyataan sosial masyarakat Timor dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia menyoroti sikap masyarakat yang dapat menjadi kebal terhadap penderitaan pekerja migran yang ditipu, sekaligus kenyataan tanah yang dibiarkan tidak produktif ketika masih banyak rakyat berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
“Hati yang tidak tergerak melihat migran ditipu. Hati yang tidak miris melihat banyak tanah di Timor dibiarkan asam sementara rakyat lapar,” menjadi salah satu kritik tajam dalam homilinya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa iman tidak boleh berhenti pada urusan altar dan ritual keagamaan. Kepedulian terhadap pekerja migran, perjuangan melawan perdagangan orang, perhatian terhadap kemiskinan, serta pemanfaatan potensi tanah untuk kesejahteraan rakyat merupakan bagian dari tanggung jawab moral terhadap sesama.
Bagi P. Domi, persoalannya bukan semata-mata apakah manusia masih memiliki hati, melainkan apakah hati itu masih mampu merasakan penderitaan orang lain dan menggerakkan tindakan nyata.
Rajin Misa, tetapi Abai terhadap Sesama
Kritik P. Domi tidak hanya diarahkan kepada mereka yang menjauh dari kehidupan Gereja. Ia juga mengingatkan umat yang aktif menjalankan praktik keagamaan, tetapi belum menerjemahkan imannya menjadi kasih dan solidaritas.
Melalui perumpamaan tentang tamu yang hadir dalam perjamuan tanpa mengenakan pakaian pesta, ia mengajak umat melihat bahwa kehadiran secara lahiriah belum tentu mencerminkan kesiapan batin.
Pakaian pesta, dalam refleksi P. Domi, melambangkan hati yang peduli dan solider.
“Apa artinya engkau datang ke Ekaristi, menyatu dengan Tubuh Kristus, tapi keluar dari gereja hatimu tidak pernah menyatu dengan penderitaan sesamamu?” demikian pertanyaan reflektif yang diajukannya.
Ia juga mengingatkan bahwa umat yang menyantap roti Ekaristi harus memiliki kesediaan berbagi dengan orang yang berkekurangan.
Merujuk 1 Korintus 10:17, tentang banyak orang yang menjadi satu tubuh karena mengambil bagian dalam satu roti, P. Domi menegaskan bahwa persatuan dalam Ekaristi semestinya melahirkan persatuan dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, ukuran iman bukan hanya seberapa sering seseorang beribadah, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan sesama, terutama mereka yang miskin, tertindas, ditipu, dan kehilangan harapan.
Ekaristi Harus Melahirkan Tindakan Nyata
Dalam penutup homilinya, P. Domi mengajak umat tidak pulang dengan perasaan nyaman sebelum berani menjawab pertanyaan tentang kepedulian mereka sendiri.
Ketika melihat orang lain menderita, apakah hati tergerak untuk membantu atau justru berlalu tanpa perhatian?
Pertanyaan itu menjadi ajakan untuk menguji hubungan antara doa, Ekaristi, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Perjamuan kemenangan yang disiapkan Tuhan, menurut refleksi homili tersebut, bukan alasan bagi umat untuk merasa sudah aman secara rohani. Undangan Tuhan justru menuntut jawaban melalui kehidupan yang mencerminkan kasih.
Pesan utamanya jelas: iman yang hidup harus melahirkan kepedulian. Perjuangan melindungi pekerja migran, keberanian melawan perdagangan orang, perhatian kepada rakyat miskin, dan solidaritas terhadap mereka yang menderita tidak boleh dipisahkan dari kehidupan menggereja.
Sebab, seseorang bisa berada di dalam ruang perjamuan, tetapi belum tentu menghidupi semangat perjamuan itu.
Homili P. Domi K. Dheo, SVD, akhirnya meninggalkan satu pertanyaan yang patut direnungkan setiap umat: ketika Tuhan memanggil untuk peduli, apakah kita menjawab panggilan itu atau memilih sibuk dengan urusan sendiri?
Amin.
P. Domi K. Dheo, SVD – JPIC SVD Timor

















