Renungan Jiwa: Biji Sesawi dan Ragi Mengajarkan Kekuatan Cinta, Kesetiaan, dan Tindakan Sederhana
NENUK, RADAR PERBATASAN — Perubahan besar tidak selalu bermula dari tindakan besar. Sebuah doa sederhana, bantuan kecil bagi sesama, keberanian menolak ketidakadilan, hingga kasih yang diwujudkan dalam keluarga dapat menjadi benih perubahan yang membawa berkat bagi banyak orang.
Pesan iman inilah yang disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor melalui Renungan Jiwa bertema “Small Is Beautiful – Allah Bekerja Lewat yang Kecil”, bertepatan dengan Minggu Biasa XXX Tahun A, Selasa (27/10/2026), di Biara St. Yoseph Nenuk.
Berangkat dari Injil Lukas 13:18-21 tentang biji sesawi dan ragi, serta Efesus 5:21-33 tentang kasih dalam kehidupan suami-istri, P. Domi mengajak umat untuk mengubah cara pandang terhadap hal-hal kecil yang kerap dianggap tidak berarti.
Menurutnya, Allah tidak selalu menyatakan kuasa-Nya melalui sesuatu yang besar, megah, dan mengundang perhatian. Sebaliknya, Allah justru berkarya melalui kesederhanaan, ketulusan, dan kesetiaan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Kita hidup di zaman yang mengagungkan yang besar. Gereja yang besar, gedung yang megah, jumlah umat yang ribuan, donasi yang miliaran. Kita malu dengan yang kecil. Tapi hari ini Yesus membalik logika kita: Kerajaan Allah itu kecil,” demikian pesan reflektif dalam renungan tersebut.
Biji Sesawi: Hal Kecil yang Menjadi Berkat Besar
Mengulas perumpamaan biji sesawi, P. Domi menjelaskan bahwa sesuatu yang tampak kecil dan tidak berarti dapat bertumbuh menjadi tempat bernaung bagi banyak orang apabila berada dalam penyelenggaraan Allah.
Ia mengajak umat melihat bahwa biji sesawi dalam kehidupan sehari-hari dapat hadir melalui doa sederhana, kepedulian terhadap tetangga yang sakit, kesediaan menahan amarah, serta keberanian mengambil sikap benar di tengah lingkungan yang tidak selalu mendukung kebaikan.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Timor, tindakan sederhana seperti membantu sesama yang berkekurangan atau menolak praktik percaloan dalam perekrutan tenaga kerja migran merupakan bentuk nyata iman yang bekerja.
Renungan itu juga menyinggung pengalaman pelayanan dan karya sosial. Sebuah lagu yang dinyanyikan dengan tulus, misalnya, dapat menghasilkan bantuan nyata bagi sesama. Hal tersebut menjadi gambaran bahwa tindakan sederhana, ketika dilakukan dengan cinta, dapat melahirkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
“Jangan hina yang kecil. Di tangan Allah, yang kecil itu menjadi pohon besar yang menjadi naungan bagi banyak orang,” demikian penegasan dalam renungan tersebut.
Pesan ini sekaligus menjadi penguatan bagi mereka yang merasa tidak memiliki pengaruh, tidak mempunyai banyak harta, atau merasa suaranya kurang didengar. Nilai seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kekuasaan, kekayaan, maupun pengakuan publik, melainkan juga oleh kesetiaan dalam melakukan kebaikan.
Menjadi Ragi yang Mengubah Dunia dari Dalam
Selain biji sesawi, P. Domi mengangkat perumpamaan ragi yang digunakan Yesus untuk menggambarkan Kerajaan Allah.
Ragi bekerja tanpa banyak terlihat, tetapi perlahan memengaruhi seluruh adonan. Gambaran ini mengajak umat untuk menjadi pembawa perubahan melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata atau penampilan luar.
Dalam kehidupan keluarga, misalnya, kasih diwujudkan melalui sikap saling menghormati, kesetiaan, tanggung jawab, dan keberanian menghentikan kekerasan.
Mengacu pada Efesus 5:21-33, renungan tersebut mengingatkan bahwa hubungan suami-istri tidak seharusnya dipahami sebagai pembenaran untuk menindas salah satu pihak. Kasih suami kepada istri harus bercermin pada kasih Kristus kepada Gereja, sedangkan kehidupan perkawinan dipanggil untuk bertumbuh dalam sikap saling mengasihi dan merendahkan diri.
Di tengah persoalan kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, perjudian daring, dan kebiasaan mabuk, keluarga dipanggil menjadi ruang pertama untuk menumbuhkan perubahan melalui kasih dan tanggung jawab.
Pesan yang sama berlaku dalam kehidupan sosial. Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dengan memungut sampah, sedangkan upaya mencegah perdagangan orang dapat dimulai dengan mengingatkan seorang anak muda agar tidak menggunakan jalur perekrutan ilegal dan membantunya mencari informasi melalui instansi resmi.
“Jadilah ragi. Jangan jadi terompet,” menjadi salah satu seruan utama dalam renungan tersebut.
Pesan ini menekankan bahwa kesaksian iman tidak cukup berhenti pada khotbah, kampanye, atau kegiatan seremonial. Iman harus hadir dalam tindakan sederhana yang membawa perubahan nyata bagi orang lain.
Allah Memilih yang Kecil untuk Menghadirkan Keselamatan
Lebih jauh, P. Domi mengajak umat merenungkan alasan Allah berkarya melalui hal-hal kecil.
Dalam refleksi tersebut, ia menunjuk Betlehem sebagai tempat kelahiran Yesus, Maria dari Nazaret sebagai pribadi yang menerima panggilan Allah, serta salib sebagai tanda keselamatan. Ketiganya menjadi gambaran bahwa Allah tidak selalu memilih sesuatu yang menurut ukuran dunia tampak besar, berkuasa, atau terhormat.
Karena itu, orang yang merasa kecil, tidak berdaya, atau tidak didengar tidak perlu kehilangan harapan. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat baik.
Allah tidak menuntut manusia menjadi hebat menurut ukuran dunia. Yang dibutuhkan adalah kesetiaan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk menjadi saluran kasih-Nya.
Pesan ini juga relevan bagi para pelayan Gereja, pejuang keadilan dan perdamaian, serta siapa saja yang bekerja dalam keheningan tanpa banyak mendapat pengakuan.
Karya yang dilakukan dengan tulus tetap memiliki nilai, sekalipun tidak selalu terlihat atau mendapat pujian.
Satu Tindakan Kecil, Satu Langkah Menghadirkan Kerajaan Allah
Menutup renungannya, P. Domi mengajak umat memulai perubahan dari satu tindakan sederhana yang dilakukan dengan cinta besar.
Mencuci piring tanpa disuruh, meminta maaf lebih dahulu, mendoakan sesama yang sedang berjuang, atau memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan merupakan langkah kecil yang dapat menghidupkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Ajakan ini menjadi inti permenungan Minggu Biasa XXX: umat tidak harus menunggu memiliki banyak uang, jabatan, atau kesempatan besar untuk menjadi berkat bagi sesama.
Setiap orang dapat memulai dari apa yang dimiliki, dari tempat ia berada, dan dari orang-orang yang dijumpainya setiap hari.
Melalui gambaran biji sesawi dan ragi, Injil mengingatkan bahwa perubahan sejati dapat berawal dari sesuatu yang kecil, bertumbuh melalui kesetiaan, lalu membawa pengaruh bagi kehidupan bersama.
“Small is beautiful, small is powerful.” Hal kecil menjadi indah ketika dilakukan dengan cinta, dan menjadi kuat ketika Allah menggunakannya untuk menghadirkan kebaikan bagi banyak orang.
Amin.
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor – Kasih Sin-Fronteras
Biara St. Yoseph Nenuk, Selasa, 27 Oktober 2026

















