JAKARTA – Inovasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu cara Nur Syifa Nadiastuti mengajak generasi muda mencintai batik Indonesia. Gagasan tersebut mengantarkan finalis perwakilan Sulawesi Selatan itu meraih penghargaan Best Influencer Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) 2026.

Melalui advokasi bertajuk JatiBatik, Syifa ingin menjadikan teknologi sebagai jembatan antara warisan budaya Nusantara dan generasi digital. Platform tersebut dirancang untuk membantu masyarakat menemukan motif batik berdasarkan nilai dan karakter yang ingin direpresentasikan, sekaligus mencari UMKM batik terdekat.
Bagi Syifa, pelestarian batik tidak cukup hanya dengan mengenakannya. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memahami filosofi di balik setiap motif, menghargai proses pembuatannya, serta mendukung para pembatik dan pelaku usaha batik lokal.
“Batik bukan sekadar kain atau fashion, tetapi memiliki filosofi, identitas, dan proses panjang yang melibatkan keterampilan para pembatik. Melalui JatiBatik, saya ingin membantu masyarakat memahami makna setiap motif sehingga tumbuh rasa bangga, cinta, dan apresiasi terhadap batik Indonesia,” ujar Syifa.
Perempuan berusia 23 tahun yang akrab disapa Syifa ini merupakan lulusan Sarjana Manajemen Universitas Negeri Jakarta. Ia berasal dari Jakarta, bekerja di bidang pemasaran pada PT Brilian Indah Gemilang, serta aktif membangun karier sebagai influencer.
Di media sosial, Syifa memiliki lebih dari 125 ribu pengikut di Instagram melalui akun @nursyifanadiastuti dan sekitar 50 ribu pengikut di TikTok. Jangkauan digital tersebut menjadi modal untuk memperluas edukasi budaya, khususnya kepada generasi muda yang akrab dengan teknologi dan media sosial.
Syifa juga memiliki rekam jejak prestasi dengan lebih dari 150 penghargaan. Ia pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama Universitas Negeri Jakarta, Duta Universitas Negeri Jakarta, dan Duta Museum Listrik PLN. Selain itu, ia aktif menjadi pembicara dan juri dalam berbagai kegiatan tingkat nasional maupun internasional.
Ketertarikannya terhadap perjalanan dan budaya Indonesia turut mendorong Syifa memperkenalkan kekayaan Nusantara kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan lokal dan mancanegara.
Menghubungkan Batik, Teknologi, dan UMKM
Syifa menilai salah satu tantangan dalam pelestarian batik adalah membangun kesadaran masyarakat untuk menghargai filosofi, proses produksi, serta karya para pembatik. Karena itu, ia mendorong generasi muda agar tidak berhenti pada penggunaan batik sebagai busana, tetapi juga mengenal makna motif dan mendukung keberlangsungan UMKM batik.
Melalui JatiBatik, ia ingin menghadirkan pengalaman mengenal batik yang lebih personal dan mudah diakses. Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu masyarakat menemukan motif yang sesuai dengan karakter atau nilai yang ingin mereka tampilkan, sekaligus membuka peluang bagi produk UMKM batik lokal untuk lebih dikenal.
Bagi Syifa, perkembangan teknologi tidak harus menjauhkan generasi muda dari tradisi. Sebaliknya, inovasi digital dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia dengan pendekatan yang lebih relevan bagi masyarakat masa kini.
Penghargaan Best Influencer PPBN 2026 pun menjadi momentum baginya untuk memperluas jangkauan advokasi tersebut melalui konten digital, inovasi teknologi, dan kolaborasi dengan para pembatik serta pelaku UMKM.
Batik sebagai Identitas dan Kekuatan Ekonomi Kreatif
Putra Putri Batik Nusantara telah diselenggarakan sejak 2011. Ajang ini memiliki lebih dari 280 alumni yang tersebar di 38 provinsi dan terhubung dengan berbagai pihak di lebih dari 25 negara.
Pada 2026, PPBN mengangkat batik Derawan dan Maratua dari Kalimantan Timur sebagai tema penyelenggaraan. Tema tersebut menyoroti keterkaitan batik dengan identitas daerah, pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.
Selama karantina nasional pada 22–28 September 2026 di Jakarta, para finalis mendapatkan pembekalan mengenai pengetahuan batik, komunikasi, kepemimpinan, diplomasi budaya, personal branding, serta pengembangan diri.
Dalam konteks tersebut, advokasi JatiBatik yang diusung Syifa menawarkan pendekatan yang memadukan pelestarian budaya dengan perkembangan teknologi. Upaya ini juga menempatkan UMKM sebagai bagian penting dari ekosistem batik yang perlu mendapat perhatian dan dukungan masyarakat.
Dukungan Keluarga dan Berbagai Pihak
Di balik pencapaiannya, Syifa menyampaikan terima kasih kepada ibunya yang selalu memberikan dukungan. Ia juga mengenang mendiang ayahnya sebagai sumber semangat untuk terus berkarya dan meraih prestasi.
Apresiasi turut disampaikan kepada pasangan, teman-teman, para pengikut media sosial, serta manajemen PT Brilian Indah Gemilang yang memberikan izin dan dukungan selama proses pemilihan berlangsung.
Syifa juga mengapresiasi para mitra dan sponsor, di antaranya UMKM batik Trissia Dewi, Organ Batik Sinaga, Batik ISTINANA, A’BATE’ Lontara, dan Marika Batik, serta Aurana Rent, mitra tata rias, videografi, dan berbagai pihak lainnya.
Dukungan juga datang dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Ketua APINDO Sulawesi Selatan, Staf Ahli Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan RI, Wali Kota Jakarta Timur, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, serta pihak-pihak lain yang turut mendukung perjalanannya.
Ke depan, Syifa berharap penghargaan Best Influencer PPBN 2026 dapat menjadi titik awal untuk memperluas edukasi batik melalui media sosial, inovasi AI, dan kerja sama dengan pembatik serta UMKM lokal.
Ia ingin mengajak generasi muda tidak sekadar memakai batik, tetapi juga memahami filosofi, menghargai proses pembuatannya, serta bangga terhadap warisan budaya Indonesia.
Baginya, batik akan tetap hidup apabila terus dipahami, digunakan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.
(Redho Fitriyadi)

















