banner 728x250

Pulau Penyengat Disiapkan Jadi Titik Nol Bahasa

Menyongsong 100 Tahun Sumpah Pemuda 2028, Kepri desak pembangunan Monumen Bahasa dan lobi Presiden agar gelaran Kongres Kebangsaan dipusatkan di Tanah Melayu

banner 120x600
banner 468x60

TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Pulau Penyengat bukan sekadar hamparan tanah di pelupuk mata Kota Tanjungpinang. Di pulau inilah detak jantung bahasa Indonesia bermula. Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 mendatang, sebuah visi besar kembali dihembuskan: membangun Monumen Bahasa, sebuah simbol sakralitas jati diri bangsa, bukan sekadar tugu batu tanpa jiwa.

Staf Khusus Bidang Pemuda Tim Percepatan Pembangunan Kepulauan Riau (Kepri), Basyaruddin Idris, S.H., C.P.M., C.P.Arb, yang akrab disapa Tok Oom, menegaskan bahwa kehadiran monumen ini sudah menjadi kebutuhan yang mendesak.

banner 325x300

“Ini bukan sekadar tugu biasa. Ini Monumen Bahasa. Nilainya sangat tinggi karena di sinilah akar bahasa Melayu bertransformasi menjadi bahasa Indonesia,” ujar Tok Oom di Tanjungpinang, pada Senin 26 Oktober 2026.

Menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda: Seruan Ziarah dan Kebanggaan Bahasa Melayu

Menjelang momentum bersejarah satu abad lahirnya komitmen kebangsaan, Tok Oom menyerukan ajakan penting kepada seluruh organisasi pemuda di Tanah Air. Dia mengajak para generasi muda untuk membakar kembali semangat persatuan menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda.

Pria yang dikenal sebagai tokoh pejuang pembentukan Provinsi Kepri ini menegaskan bahwa sejarah panjang bangsa Indonesia tidak lepas dari peran sentral bahasa Melayu, yang ditetaskan sebagai akar dari bahasa persatuan untuk merajut keberagaman Nusantara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kita menghimbau seluruh organisasi pemuda untuk menyerukan semangat menuju 100 tahun Sumpah Pemuda. Bahasa Melayu adalah bahasa persatuan yang menyatukan NKRI,” tegas Tok Oom.

Sebagai langkah nyata menghargai sejarah, Tok Oom secara khusus mengetuk hati generasi muda Kepri untuk berziarah ke makam Pahlawan Nasional bidang bahasa, Raja Ali Haji, yang bersemayam di Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Menurutnya, Raja Ali Haji bukan sekadar tokoh kebanggaan masyarakat Melayu, melainkan pilar penting yang meletakkan fondasi tata bahasa Melayu sebagai mahakarya persatuan bangsa.

Ruh Kebangsaan di Tanah Sang Pahlawan

Bagi Tok Oom, tahun 1928 adalah angka keramat. Menjelang momen bersejarah 100 tahun Sumpah Pemuda, Kepri dinilai harus mengambil peran sentral. Monumen Bahasa diproyeksikan menjadi “ruh” pembakar semangat pemuda sekaligus magnet daya tarik internasional.

Terlebih, sejarah mencatat kebesaran Raja Ali Haji, Sang Bapak Bahasa sekaligus Pahlawan Nasional, yang makamnya bersemayam di Pulau Penyengat.

“Kita punya kebanggaan besar. Raja Ali Haji telah mewujudkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Bahkan kini dunia mengakuinya melalui forum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang mengusulkan bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di Asia,” ungkap Tok Oom.

Lobi Presiden: Targetkan Kepri Jadi Tuan Rumah Upacara 2028

Tidak berhenti pada seruan moral, Tok Oom bersama timnya kini tengah menyiapkan agenda strategis nasional. Pihaknya berencana melobi langsung Presiden Republik Indonesia agar Upacara Peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda pada tahun 2028 dapat diselenggarakan di Provinsi Kepulauan Riau. Langkah ini dinilai sangat beralasan dan sarat nilai sejarah, mengingat Kepri merupakan ‘rahim’ dari bahasa Melayu yang kini dijunjung tinggi sebagai bahasa Indonesia.

Rekam jejak kepemimpinan dan dedikasi Tok Oom dalam memperjuangkan Kepri memang tidak perlu diragukan lagi. Kiprahnya membentang luas di berbagai organisasi pemuda, kebudayaan, hingga olahraga sejak era 1990-an:
• Pilar Organisasi Kepemudaan: Pendiri HIPEMARI di Solo (1991), Kepala Asrama Mahasiswa Riau di Semarang (1992), Wakil Ketua Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Kepri (1997), Ketua AMPG Kabupaten Kepri (2003), hingga Majelis Pemuda Indonesia (KNPI Provinsi Kepri 2007).
• Melestarikan Budaya: Pelopor/Pendiri Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) KEPRI (2005), Ketua Pemuda DMDI Indonesia, Ketua GMBP3KR, serta Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Kepri.

• Dunia Olahraga: Mantan Sekretaris KONI Kota Tanjungpinang (2012) dan Wakil Ketua KONI Provinsi Kepri.

Tangan Dingin Ismeth Abdullah dan Pengawalan Lahirnya UMRAH

Selain berkiprah di panggung organisasi pemuda, Tok Oom juga mencatatkan tinta emas sebagai salah satu pendorong utama lahirnya Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Perjuangan panjang tersebut dia gagas sejak tahun 2004 hingga UMRAH resmi berdiri kukuh pada tahun 2009.

Proses perintisan kampus kebanggaan masyarakat Kepri tersebut saat itu dikawal oleh tim konsorsium yang dipimpin oleh Abdul Malik, yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kepri kala itu.

Tok Oom mengakui, keberhasilan mewujudkan perguruan tinggi negeri pertama di Kepri tersebut tidak lepas dari peranan kepemimpinan kepala daerah saat itu.

“Di tangan dingin Ismeth Abdullah selaku Gubernur Kepri masa itu, cita-cita besar dan gagasan berdirinya UMRAH akhirnya bisa terwujud nyata,” kenangnya.

Melalui kilas balik sejarah dan perjuangan panjang ini, Tok Oom berharap generasi muda hari ini tidak melupakan akar budayanya, terus merawat kebanggaan atas bahasa persatuan, serta berani mengambil peran dalam menjaga keutuhan NKRI.

Mengusulkan Kongres Kebangsaan dan Kehadiran Presiden

Sejarah mencatat Sumpah Pemuda digembleng melalui dua fase penting: Kongres Mei 1926 dan Oktober 1928 di Jakarta. Kini, sebuah gagasan berani ditiupkan dari timur Sumatera: mengusulkan Kongres Sumpah Pemuda Ke-3 sekaligus Kongres Bahasa Indonesia (KBI) Spesial 1 Abad digelar di Pulau Penyengat pada 2028.

Harapan besar digantungkan agar perayaan 100 tahun Sumpah Pemuda menjadi momentum nasional yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia.

“Kita harapkan masyarakat Kepri bisa bangga. Jika perlu, Presiden langsung yang memimpin upacara nasional di Pulau Penyengat sekaligus meresmikan Monumen Bahasa tersebut,” tegas Tok Oom.

Menebus Kegagalan Masa Lalu

Rencana pembangunan Monumen Bahasa sejatinya bukan hal baru. Jejaknya sudah ada sejak era mantan Gubernur Kepri almarhum Muhammad Sani. Namun, proyek tersebut terhenti akibat kendala teknis dan dinamika hukum.

Kini, dengan semangat “Menuju 100 Tahun”, momentum ini dinilai sebagai waktu paling tepat untuk penebusan. Kehadiran Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) serta pengakuan internasional terhadap bahasa Melayu menjadi bukti kuat bahwa fondasinya telah kokoh.

PRAKARSA BERSAMA: MENYAMBUT 100 TAHUN SUMPAH PEMUDA (1928-2028)

“Dari Pulau Penyengat untuk Indonesia: Memperkokoh Akar Sejarah, Menyongsong Indonesia Emas 2045”

1. Penghormatan Akar Bahasa Nasional
• Titik Pusat Sejarah: Menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda untuk mengenang rahim Bahasa Melayu Riau-Lingga.
• Refleksi Literasi: Menanamkan rasa bangga berbahasa nasional di tengah gelombang globalisasi.

2. Penyatuan Pemuda 38 Provinsi
• Ikrar Kebhinekaan: Menghimpun perwakilan pemuda dari 38 provinsi di Pulau Penyengat untuk memperbarui komitmen menjaga NKRI.
• Simbol Kebudayaan: Mengakomodasi keragaman tradisi sebagai modal sosial pembangunan bangsa.

3. Kongres Bahasa Indonesia (KBI) 2028
• KBI Spesial 1 Abad: Merumuskan strategi internasionalisasi Bahasa Indonesia.
• Adaptasi Era Digital: Pengayaan istilah teknologi, Kecerdasan Buatan (AI), serta pelestarian bahasa daerah.
* (Tim Perumus Ikrar menuju 100 tahun Sumpah Pemuda: Daeng Firmasyah dan Basyaruddin Idris)

Kini, bola panas berada di tangan kemauan politik (political will) dan dukungan masyarakat luas. Jika terwujud, Pulau Penyengat tidak sekadar menjadi situs sejarah yang sunyi, melainkan bertransformasi menjadi mercusuar bahasa yang menyatukan Nusantara dan bergema di Asia.

Editor/Penulis: Budi Adriansyah

 

banner 325x300
error: Content is protected !!