P. Domi K. Dheo, SVD: Melawan Perdagangan Orang Membutuhkan Doa, Kesiapsiagaan, dan Kepedulian Tanpa Henti
NENUK, RADAR PERBATASAN — Perjuangan melawan perdagangan orang (human trafficking) tidak cukup hanya dengan keberanian menghadapi pelaku dan mendampingi korban. Para pejuang kemanusiaan juga dituntut menjaga keteguhan iman, kejernihan hati, dan kesehatan diri agar tidak tumbang di tengah perjuangan panjang.
Pesan itu disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dalam Renungan Jiwa untuk Pejuang yang Tidak Pernah Tidur, Selasa (20/10/2026), dari Biara St. Yoseph Nenuk. Berangkat dari Injil Lukas 12:35-38 dan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus 2:12-22, ia mengajak para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) untuk memahami berjaga-jaga bukan sekadar kesiapan bekerja setiap saat, melainkan cara hidup yang berakar pada doa, kesetiaan, dan solidaritas terhadap sesama.
Menurut P. Domi, para pendamping korban perdagangan orang kerap menghadapi situasi yang tidak mengenal waktu. Laporan kasus dapat masuk pada tengah malam, korban kekerasan dalam rumah tangga membutuhkan pendampingan, sementara para perekrut atau calo pekerja migran ilegal masih terus beroperasi.
Namun, kesiapsiagaan tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai kewajiban untuk bekerja tanpa istirahat.
“Berjaga-jaga adalah cara hidup yang menyelamatkan kita,” demikian penekanan utama dalam renungan tersebut.
Ia mengingatkan, semangat pengabdian yang tidak diimbangi kemampuan menjaga diri dapat membuat para pejuang mengalami kelelahan, kekecewaan, kemarahan, bahkan kehilangan semangat untuk melanjutkan perjuangan.
“Berjaga-jaga yang Yesus maksud adalah cara hidup yang sadar. Pinggang berikat artinya siap bekerja, siap berlari, siap melayani. Pelita menyala artinya hati tetap terang oleh doa, bukan gelap oleh dendam dan kecewa,” tulisnya.
Doa Menjaga Pejuang agar Tidak Kehilangan Arah
Dalam renungannya, P. Domi menempatkan doa sebagai salah satu fondasi penting dalam perjuangan kemanusiaan. Tanpa kekuatan rohani, para pendamping berisiko terjebak dalam prasangka, diskriminasi, dan kemarahan terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan.
Ia mengajak para pejuang JPIC untuk melihat setiap manusia sebagai bagian dari keluarga Allah, tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang sosial.
Bahkan terhadap pelaku perdagangan orang, sikap tegas terhadap kejahatan harus tetap disertai harapan akan pertobatan. Artinya, menolak dan melawan tindakan yang merusak martabat manusia tidak harus membuat para pejuang kehilangan kasih terhadap sesama.
Doa, dalam perspektif tersebut, bukan pelarian dari kenyataan, melainkan sumber kekuatan agar perjuangan tidak berubah menjadi dendam.
“Jika kita tidak berjaga dalam doa, kita akan bekerja dengan benci, bukan dengan cinta,” tulis P. Domi.
Jangan Sampai Korban Mengetuk, tetapi Pelita Sudah Padam
Selain doa, kesiapsiagaan dalam karya menjadi perhatian utama. Mengacu pada perumpamaan Yesus tentang hamba yang menantikan kedatangan tuannya, P. Domi mengingatkan bahwa kebutuhan korban sering muncul tanpa pemberitahuan.
Karena itu, para pendamping perlu memastikan kesiapan nyata dalam pelayanan, mulai dari penataan data korban hingga ketersediaan kontak layanan terkait, seperti P2TP2A, unit kepolisian yang menangani perempuan dan anak, serta BP3MI.
Kesiapsiagaan juga menyangkut integritas pribadi. Para pejuang perlu memeriksa motivasi pelayanan agar tidak terjebak dalam keinginan memperoleh pujian, kepentingan pribadi, atau kekecewaan ketika korban kembali berhubungan dengan pihak yang mengeksploitasinya.
Bagi P. Domi, kesetiaan tidak hanya terlihat ketika perjuangan mendapat hasil yang menggembirakan. Kesetiaan justru diuji ketika pelayanan terasa berat, perubahan berjalan lambat, dan korban membutuhkan pendampingan berulang kali.
Pesan ini menegaskan bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan lebih dari sekadar semangat sesaat. Diperlukan sistem pendampingan yang siap, komitmen yang konsisten, dan hati yang tetap terbuka terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan.
Tuhan Juga Melayani Mereka yang Melayani
Bagian yang paling menguatkan dalam renungan tersebut adalah janji Yesus dalam Lukas 12:37. Dalam gambaran Injil itu, tuan yang mendapati hamba-hambanya berjaga-jaga justru mengikat pinggangnya dan melayani mereka.
P. Domi memaknai gambaran tersebut sebagai penghiburan bagi para pejuang kemanusiaan yang kerap bekerja dalam kelelahan dan menghadapi kekecewaan.
Kekuatan untuk melanjutkan perjuangan dapat hadir melalui doa bersama, persaudaraan dalam komunitas, senyum anak yang kembali bersekolah, atau keberanian seorang ibu untuk menolak praktik belis yang dianggap menindas martabatnya.
Pengalaman-pengalaman sederhana itu menjadi pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan tidak selalu menghasilkan perubahan besar dalam sekejap. Namun, setiap langkah yang memulihkan martabat manusia tetap memiliki arti.
“Kita tidak menyelamatkan diri sendiri dengan berjaga-jaga. Cara hidup yang berjaga-jagalah yang menyelamatkan kita dari keputusasaan, dari menjadi sinis, dari berhenti di tengah jalan,” tulisnya.
Berjuang Tanpa Kehilangan Kemanusiaan
Melalui renungan ini, P. Domi mengajak para pejuang JPIC SVD Timor untuk mempertahankan semangat pelayanan tanpa mengabaikan batas kemampuan diri. Berjaga-jaga bukan berarti menolak istirahat, melainkan membangun kesiapan yang berkelanjutan agar pelayanan tetap berjalan dengan jujur, penuh kasih, dan bertanggung jawab.
Di tengah perjuangan melawan perdagangan orang, kekerasan dalam rumah tangga, dan berbagai bentuk ketidakadilan, para pendamping tidak hanya dituntut peka terhadap penderitaan korban. Mereka juga perlu menjaga agar hati tidak dikuasai dendam, kelelahan tidak berubah menjadi keputusasaan, dan pelayanan tidak kehilangan tujuan utamanya.
Renungan yang disampaikan dari Biara St. Yoseph Nenuk, Selasa (20/10/2026), itu ditutup dengan doa agar Tuhan menguatkan para pejuang untuk bekerja dengan jujur, setia dalam doa, serta tidak menyerah ketika berhadapan dengan persoalan kemanusiaan.
Sebab, bagi para pejuang kemanusiaan, pelita yang tetap menyala bukan hanya tanda kesiapan menyambut mereka yang membutuhkan pertolongan. Pelita itu juga menjadi lambang iman dan harapan yang menjaga mereka agar tetap setia berjalan bersama sesama.
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor















