banner 728x250

40 Tahun Setia Menghidupi Panggilan Imamat, Rm. Aloysius Kosat, Pr., Rayakan Yubileum di Manikin – TTU

banner 120x600
banner 468x60

NOEMUTI TIMUR, RADAR PERBATASAN – Empat puluh tahun bukan perjalanan singkat dalam menghidupi panggilan imamat. Sejak ditahbiskan pada 19 Oktober 1986, Rm. Aloysius Kosat, Pr., telah melewati perjalanan panjang pendidikan, pembinaan rohani, dan pelayanan pastoral di sejumlah paroki. Senin (19/10/2026), perjalanan empat dekade itu dirayakan dalam Misa Syukur Yubileum 40 Tahun Imamat di Desa Manikin, Usapi Baamfaun, Kecamatan Noemuti Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

banner 325x300

Perayaan yang bertepatan dengan tanggal tahbisan imamatnya tersebut dipimpin Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr., didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, para deken, serta lebih dari seratus imam konselebran dari seluruh Keuskupan Atambua. Hadir pula para biarawan dan biarawati, pejabat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wakil Bupati TTU bersama jajaran perangkat daerah, serta umat dari sejumlah paroki di Dekanat Malaka dan Dekanat TTU.

Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH, bersama istrinya, Ny. Beatrix Bria Seran selaku Ketua TP PKK Kabupaten Malaka, kepala perangkat daerah, dan Tim Pendamping Pembangunan Kabupaten Malaka turut menghadiri perayaan tersebut.

Misa berlangsung khidmat dengan iringan koor umat paroki. Kehadiran para imam, biarawan-biarawati, pemerintah, dan umat dari berbagai wilayah pelayanan menjadikan perayaan ini sebagai momentum syukur atas perjalanan panjang seorang imam dalam Gereja Katolik.

Dari Bineonmau Menapaki Jalan Imamat

Rm. Aloysius Kosat, Pr., lahir di Bineonmau pada 17 Juli 1953. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, putra pasangan almarhum Olandus Kosat dan almarhumah Rofina Silab. Ia berasal dari Paroki St. Paulus Maubam.

Perjalanan panggilannya dimulai melalui pendidikan dasar di SDK Manikin pada 1962–1968, kemudian dilanjutkan di SDK Hackto pada 1968–1969. Ia menempuh pendidikan menengah di SMPK St. Yoseph Nenuk dan SMPK St. Yoseph Noemuti sebelum melanjutkan pendidikan calon imam di Seminari Menengah Lalian pada 1973–1977.

Pembinaan rohaninya berlanjut melalui Tahun Orientasi Rohani di Ritapiret pada 1977–1978 dan studi Skolastikat Filsafat dan Teologi pada 1979–1981. Ia kemudian menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Petrus Lahurus dan Paroki St. Yohanes Baptista Besikama.

Pada 15 Juni 1986, ia ditahbiskan menjadi diakon di Dili, Timor-Timur. Setelah menjalani praktik diakonat di Paroki St. Yohanes Baptista Besikama, ia menerima tahbisan imamat pada 19 Oktober 1986 di Paroki St. Theresia Kefamenanu.

Tanggal tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan hidupnya. Empat puluh tahun kemudian, pada tanggal yang sama, ia merayakan Yubileum Imamat sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panggilan yang telah dijalaninya.

Melayani dari Betun hingga Seon

Setelah ditahbiskan menjadi imam, Rm. Aloysius Kosat memulai tugas perutusannya pada 1986–1988 sebagai pastor pembantu di Paroki Sta. Maria Fatima Betun, sekaligus membantu pelayanan di Paroki St. Fransiskus Xaverius Bolan.

Pada 1988–1992, ia bertugas sebagai pastor administrasi di Paroki St. Yohanes Baptista Besikama. Selanjutnya, pada 1992–1998, ia menjadi pastor paroki di Paroki St. Yohanes Maria Vianey Maubesi.

Perjalanan pelayanannya berlanjut di Paroki Sta. Theresia Kefamenanu. Ia menjadi pastor paroki pada 1998–2007 dan kembali menjalankan tugas yang sama pada 2007–2013, sekaligus merangkap sebagai Deken Dekanat Kefamenanu.

Sejak 2013, berdasarkan riwayat tugas perutusan yang tersedia, ia melayani sebagai pastor paroki di Paroki Kristus Raja Seon.

Rentang penugasan tersebut mencatat perjalanan pastoralnya di sejumlah wilayah, termasuk Betun, Bolan, Besikama, Maubesi, Kefamenanu, dan Seon. Di setiap tempat, tugas imamat dijalankan dalam konteks kehidupan umat dan kebutuhan pelayanan Gereja setempat.

Yubileum sebagai Momentum Syukur

Kehadiran umat dari paroki-paroki yang pernah menjadi tempat pelayanannya menambah makna perayaan Yubileum 40 Tahun Imamat Rm. Aloysius Kosat. Perayaan ini bukan hanya menandai perjalanan waktu sejak tahbisan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Gereja dan umat untuk bersyukur atas panggilan imamat yang telah dijalaninya.

Empat puluh tahun perjalanan imamat Rm. Aloysius Kosat, Pr., merekam sebuah perjalanan panjang: dari pendidikan dan pembinaan sebagai calon imam, tahbisan diakon, hingga pelayanan pastoral di berbagai paroki.

Di Manikin, pada 19 Oktober 2026, perjalanan itu dirayakan dalam Ekaristi bersama Uskup Atambua, para imam, kaum religius, pemerintah, dan umat. Sebuah momentum syukur atas empat dekade panggilan dan pengabdian dalam Gereja Katolik.

Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!