ATAMBUA — Suasana sukacita menyelimuti Biara St. Yoseph Nenuk, Atambua, Kamis (1/10/2026), saat enam putra Timor menerima tahbisan imamat dan diutus untuk mengambil bagian dalam tugas pelayanan Gereja di tengah dunia.
Perayaan tahbisan tersebut dipimpin Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., dengan tema “Inilah Aku, Utuslah Aku”, yang diambil dari Yesaya 6:8: “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ Maka sahutku: ‘Inilah aku, utuslah aku!’”
Enam imam baru yang ditahbiskan adalah P. Kanisius Bauk, SVD; P. Yosef Mario Ambasan, SVD; P. Clitus Marselinus Hausufa, SVD; P. Febronius Meni Subun, SVD; P. Wilfridus Oki, SVD; dan P. Robertus Bellarminus Meak, Sch.P.
Dalam renungan pesta tahbisan, P. Domi Kadju Dheo, SVD, menggambarkan tahbisan tersebut bukan sekadar sebuah perayaan, melainkan lahirnya enam utusan baru untuk Kerajaan Allah, yang siap menjalankan perutusan di mana pun mereka ditempatkan.
“Enam jawaban baru atas pertanyaan lama Tuhan: ‘Siapakah yang akan Kuutus?’ Dan enam pemuda ini menjawab dengan seluruh hidupnya: Inilah aku Tuhan, utuslah aku,” tulis P. Domi dalam renungannya.
Tiga Tugas dalam Diri Kristus
Dalam homilinya, Mgr. Dominikus Saku, Pr., mengingatkan para imam baru mengenai tiga tugas yang kini mereka emban dalam diri Kristus, yakni nabi, imam, dan raja.
Ketiga tugas tersebut, menurut refleksi P. Domi, bukanlah gelar kehormatan, melainkan jalan pelayanan dan pengorbanan.
Sebagai nabi, para imam baru dipanggil untuk menggaungkan suara Tuhan di tengah kebisingan dunia.
Di tengah beragam persoalan seperti hoaks, ujaran kebencian, perdagangan manusia, persoalan migran, hingga isu lingkungan, suara kenabian dituntut tetap hadir untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan.
“Tugas nabi adalah memastikan suara kebenaran Allah tetap diperdengarkan. Suara para nabi tidak boleh padam,” demikian refleksi tersebut.
Dalam perspektif JPIC, tugas kenabian itu juga berarti menghadirkan suara bagi mereka yang tidak memiliki ruang untuk menyuarakan penderitaan dan persoalannya.
Imam Dipanggil Menjadi Tanda Keselamatan
Sebagai imam, keenam imam baru dipanggil bukan untuk mencari kehebatan pribadi, tetapi untuk menghadirkan Tuhan di tengah umat.
Melalui pelayanan imamat, mereka menjadi tanda kehadiran Allah dalam kehidupan umat, termasuk melalui perayaan Ekaristi, pelayanan sakramen, pengampunan dosa dan pengurapan orang sakit.
“Imam adalah tanda bahwa Allah masih mau tinggal di tengah umat-Nya yang luka,” tulis P. Domi.
Karena itu, pelayanan imamat diharapkan menyentuh realitas kehidupan manusia: penderitaan korban bencana, kekeringan, persoalan keluarga migran dan berbagai luka sosial lainnya.
Menjadi Raja dengan Kerendahan Hati
Sementara sebagai raja, para imam dipanggil untuk menuntun umat dengan kerendahan hati, bukan dengan kuasa.
Dalam refleksinya, P. Domi mengangkat keteladanan St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, yang pestanya dirayakan pada 1 Oktober, serta Yohanes Pembaptis.
Keduanya menjadi gambaran spiritualitas jalan kecil dan penyangkalan diri: “Biarlah Dia semakin besar dan aku semakin kecil.”
Kepemimpinan seorang imam, karena itu, bukanlah tentang mencari tahta, melainkan mencari dan melayani domba yang membutuhkan pertolongan.
“Raja yang mencuci kaki, bukan yang minta kakinya dicium,” demikian salah satu penegasan dalam refleksi P. Domi.
Ia berharap keenam imam baru memilih jalan kecil tersebut—jalan sunyi St. Theresia dan jalan keberanian Yohanes Pembaptis—sebagai jalan pelayanan imamat mereka.
Diutus ke Kebun Anggur Dunia
Tahbisan enam imam baru tersebut juga bertepatan dengan awal Bulan Rosario.
Dalam refleksinya, P. Domi mengajak umat menempatkan kehidupan dan pelayanan para imam dalam doa serta perlindungan Bunda Maria, yang dihormati sebagai Ratu Para Imam.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan pelayanan tidak selalu mudah. Para pelayan Tuhan dapat mengalami kelelahan, kekecewaan maupun godaan untuk menjadi angkuh.
Karena itu, doa dan rahmat Tuhan menjadi kekuatan agar perutusan yang dipercayakan kepada para imam dapat menghasilkan buah bagi umat.
Kepada keenam imam baru, P. Domi menyampaikan pesan perutusan:
“Selamat menjadi kecil. Selamat diutus ke kebun anggur yang luas, yang penuh dengan tantangan JPIC di dunia ini.”
Dan dengan semangat tema tahbisan, pesan itu ditutup dengan sebuah ajakan sederhana namun kuat:
“Inilah kamu, pergilah. Timor menantimu.”
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor – Nenuk

















