Malaka –
Kasus penembakan dua ekor sapi milik Wilhelmina Aek (71), warga Dusun Baunakan, Desa Tunabesi, Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyita perhatian masyarakat setelah muncul dugaan penggunaan senjata api laras panjang oleh orang tak dikenal (OTK).
Peristiwa yang terjadi pada Senin (29/6/2026) sekitar pukul 16.30 Wita itu mengakibatkan seekor sapi betina yang sedang bunting mati, sementara seekor sapi jantan berusia sekitar satu tahun mengalami luka tembak pada bagian rahang. Kerugian yang dialami keluarga korban diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Tidak hanya dugaan penembakan ternak, keluarga korban juga menyoroti adanya percakapan yang dinilai penting untuk didalami penyidik. Sebelum korban menemukan sapi yang terluka, tiga pria tak dikenal yang berada di lokasi sempat menghampiri Wilhelmina Aek dan anaknya, Martha Bubu.
Menurut keterangan Engelbertus Nahak, keponakan korban, salah seorang dari ketiga pria tersebut berbicara menggunakan bahasa Dawan R dan menanyakan apakah mereka mengetahui siapa yang menumpuk potongan kayu di lokasi tersebut serta siapa yang bermain dan menjadi “bos dolgen” di kawasan itu. Martha mengaku tidak mengetahui maksud maupun jawaban atas pertanyaan tersebut.
Beberapa saat setelah percakapan itu berakhir, Wilhelmina dan Martha melanjutkan perjalanan menuju lokasi tempat sapi mereka berada. Sesampainya di lokasi, mereka menemukan seekor sapi mengeluarkan darah dari hidung dan, setelah diperiksa, terdapat luka yang diduga akibat tembakan. Tak lama kemudian, ketiga pria tersebut dilaporkan meninggalkan lokasi menggunakan sepeda motor.
Merasa dirugikan, keluarga korban segera melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sasitamean. Pada malam harinya, personel kepolisian mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memulai penyelidikan.
Kasus ini memunculkan sejumlah pertanyaan yang dinilai perlu dijawab melalui penyelidikan kepolisian, antara lain mengenai identitas tiga pria yang berada di lokasi, asal-usul senjata yang diduga digunakan, motif dugaan penembakan terhadap ternak, serta konteks pertanyaan mengenai potongan kayu dan istilah “bos dolgen” yang disampaikan kepada korban.
Masyarakat berharap Polsek Sasitamean bersama jajaran kepolisian dapat mengusut perkara ini secara profesional, transparan, dan menyeluruh. Penyelidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada dugaan penembakan sapi, tetapi juga menelusuri seluruh rangkaian peristiwa, termasuk identitas orang-orang yang berada di lokasi dan percakapan yang terjadi sebelum korban menemukan sapinya terluka.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai identitas terduga pelaku, motif kejadian, maupun hasil penyelidikan awal. Karena itu, seluruh dugaan dalam perkara ini masih memerlukan pembuktian melalui proses penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Editor: Jery Manek

















