banner 728x250

Romo Gabriel Alos di Stasi Tubmas: Tuhan Mengundang Semua Orang, Jangan Terjebak Kesombongan dan Merasa Paling Berjasa

banner 120x600
banner 468x60

Kefamenanu, — Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XXVIII di Stasi Tubmas, Paroki Naesleu, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Minggu (11/10/2026), menjadi momentum penting bagi umat Katolik untuk kembali merenungkan panggilan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

banner 325x300

Melalui perumpamaan tentang perjamuan kawin dalam Injil Matius 22:1-14 umat diajak menyadari bahwa Tuhan senantiasa membuka pintu keselamatan bagi setiap orang, tanpa membeda-bedakan latar belakang, status sosial, maupun asal-usulnya.

Misa kudus yang dipimpin oleh Romo Gabriel Alos, Pr., berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh penghayatan iman. Kehadiran umat yang mengikuti perayaan Ekaristi, disertai lantunan pujian dari koor sponsor Kelompok Umat Basis (KUB) Santo Yosep, Lingkungan Maslete, semakin memperkuat suasana doa dan persekutuan umat di Kampung Adat Maslete Tubuhue.

Dalam homilinya, Romo Gabriel mengajak umat untuk tidak menutup telinga terhadap undangan Tuhan yang hadir setiap saat dalam kehidupan manusia. Menurutnya, di tengah perkembangan dunia modern yang semakin pesat, manusia sering kali larut dalam kesibukan, hiburan, urusan adat, pesta, dan berbagai aktivitas sosial hingga melupakan hal yang paling mendasar, yakni hubungan dengan Tuhan.

Tuhan mengundang semua orang, tetapi manusia sering kali terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Pesan inilah yang menjadi salah satu inti permenungan dalam perayaan Ekaristi tersebut. Undangan Tuhan bukan sekadar ajakan untuk menghadiri perayaan liturgi, melainkan panggilan untuk membangun kehidupan yang berlandaskan kasih, kerendahan hati, persaudaraan, dan kesediaan melayani sesama.

Ketika Layar Ponsel Mengalahkan Panggilan Tuhan

Dalam kehidupan modern, telepon genggam telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas manusia. Melalui perangkat tersebut, orang dapat memperoleh informasi, berkomunikasi, bekerja, dan menikmati berbagai hiburan. Namun, ketika penggunaannya tidak terkendali, manusia berisiko kehilangan waktu untuk berdoa, merenungkan firman Tuhan, dan membangun relasi yang mendalam dengan sesama.

Romo Gabriel mengajak umat untuk bercermin pada kebiasaan sehari-hari. Ada orang yang begitu sibuk menatap layar ponsel sepanjang hari, mengikuti berbagai informasi dan hiburan, tetapi justru melupakan undangan Tuhan untuk datang kepada-Nya melalui doa dan perayaan Ekaristi.

Kesibukan duniawi, menurut pesan yang disampaikan dalam homili tersebut, hendaknya tidak membuat manusia kehilangan prioritas rohaninya. Teknologi seharusnya menjadi sarana yang membantu kehidupan, bukan sesuatu yang menguasai manusia hingga melupakan nilai-nilai iman.

Menghadiri Misa bukan sekadar memenuhi kewajiban keagamaan. Perayaan Ekaristi merupakan kesempatan bagi umat untuk mendengarkan sabda Tuhan, menerima kekuatan rohani, memperbarui komitmen iman, serta belajar mengasihi sesama dengan lebih tulus.

Tuhan terus memanggil manusia, tetapi setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjawab panggilan tersebut melalui sikap dan tindakan nyata.

Urusan Adat dan Kehidupan Sosial Jangan Menggeser Nilai Kerendahan Hati
Selain menyoroti tantangan kehidupan modern, Romo Gabriel juga mengajak umat untuk merefleksikan keterlibatan dalam urusan adat, pesta rumah adat, dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Adat merupakan bagian penting dari identitas dan kehidupan masyarakat Timor. Tradisi adat mengajarkan penghormatan kepada leluhur, persaudaraan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Namun, nilai-nilai luhur tersebut perlu dijalankan dengan semangat kasih dan kerendahan hati agar tidak berubah menjadi alasan untuk membanggakan diri atau merendahkan orang lain.

Persoalan muncul ketika seseorang merasa dirinya paling berjasa, paling berhak, atau paling menentukan dalam kehidupan bersama. Perasaan demikian dapat membuat seseorang sulit menerima pendapat orang lain, mudah tersinggung, dan cenderung mengukur sesama berdasarkan kedudukan atau kontribusi yang dianggap telah diberikannya.

Dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat, mentalitas merasa paling berjasa dapat menumbuhkan kecemburuan, sikap diskriminatif, dan perpecahan di antara sesama.

Padahal, setiap orang memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Tidak seorang pun dapat mengklaim bahwa dirinya lebih berharga daripada orang lain hanya karena jabatan, kekayaan, pengaruh sosial, atau jasa yang pernah diberikan.

Kehidupan beriman justru menuntut manusia untuk semakin rendah hati, menyadari keterbatasan diri, dan menghargai kehadiran sesama sebagai bagian dari keluarga besar umat Allah.

Jangan Memandang Sesama sebagai Pendatang di Rumah Tuhan

Salah satu pesan yang menonjol dalam homili Romo Gabriel adalah pentingnya menghapus mentalitas yang memandang orang lain sebagai pendatang atau orang luar dalam kehidupan menggereja.

Dalam sebuah komunitas, terkadang muncul anggapan bahwa orang yang telah lama tinggal, lebih dahulu terlibat, atau memiliki kontribusi tertentu berhak menentukan siapa yang layak diterima dan siapa yang harus ditempatkan di luar lingkaran pergaulan.

Cara pandang semacam ini berpotensi merusak persaudaraan apabila tidak disadari dan diperbaiki.

Gereja bukan milik kelompok tertentu. Gereja adalah rumah bersama bagi umat beriman yang dipanggil untuk berjalan bersama dalam kasih Kristus. Setiap orang yang datang dengan niat baik untuk berdoa, bersekutu, dan melayani patut disambut dengan penuh persaudaraan.

Dalam penegasannya, Romo Gabriel Alos menyampaikan:
“Dalam melayani Gereja janganlah memandang sesama sebagai pendatang. Ini keliru,” tandas Romo Gabriel Alos.

Pesan tersebut menjadi ajakan reflektif bagi seluruh umat agar tidak menjadikan identitas, asal-usul, atau lamanya keterlibatan sebagai ukuran untuk menerima seseorang dalam kehidupan menggereja.

Semangat pelayanan sejati tidak mengenal tembok pemisah. Pelayanan harus membuka ruang bagi setiap orang untuk mengambil bagian, mengembangkan talenta, dan bertumbuh bersama dalam iman.

Seseorang yang baru bergabung dalam suatu lingkungan bukanlah ancaman bagi mereka yang telah lebih dahulu berada di sana. Sebaliknya, kehadiran orang baru dapat menjadi kesempatan untuk memperluas persaudaraan, memperkaya pengalaman, dan memperkuat semangat pelayanan.

Karena itu, komunitas Gereja dipanggil untuk menjadi tempat yang menghadirkan penerimaan, bukan penolakan; persaudaraan, bukan persaingan; serta kasih, bukan diskriminasi.

Belajar dari Nabi Yesaya: Tuhanlah Sumber Segala Berkat.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Yesaya 25:6-10a, umat diajak merenungkan gambaran tentang Tuhan yang menghidangkan perjamuan bagi segala bangsa di Gunung Sion.
Perjamuan tersebut melambangkan kelimpahan berkat, keselamatan, pengharapan, dan kemenangan Tuhan atas segala sesuatu yang membelenggu kehidupan manusia.

Melalui gambaran perjamuan itu, umat diingatkan bahwa segala sesuatu yang baik pada akhirnya bersumber dari Tuhan. Manusia boleh bekerja keras, berjuang, membangun rumah, mengembangkan usaha, mempertahankan tradisi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Namun, semua itu tidak seharusnya membuat manusia melupakan bahwa hidup dan segala berkat yang diterimanya merupakan anugerah.

Tidak seorang pun dapat membanggakan dirinya seolah-olah seluruh keberhasilan semata-mata merupakan hasil kekuatannya sendiri.

Tuhanlah yang memberikan kehidupan, kemampuan, kesempatan, dan kekuatan untuk menjalani berbagai tantangan. Karena itu, setiap keberhasilan seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan; mendorong pelayanan, bukan tuntutan untuk selalu dihormati; serta mempererat persaudaraan, bukan menciptakan sekat di antara sesama.
Pesan bacaan Yesaya menjadi pengingat bahwa perjamuan Tuhan terbuka bagi semua bangsa.

Kasih Allah tidak dibatasi oleh perbedaan suku, status, maupun latar belakang kehidupan.
Dalam terang sabda tersebut, umat diajak untuk membangun komunitas yang semakin terbuka, bersahabat, dan berbelas kasih.

Rasul Paulus Mengajarkan Kerendahan Hati dan Ketergantungan kepada Tuhan
Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 4:12-14, 19-20 menghadirkan teladan iman yang tidak kalah penting.

Rasul Paulus berbicara tentang pengalamannya menghadapi berbagai keadaan hidup, baik ketika berkekurangan maupun ketika berkelimpahan. Dalam segala situasi, ia menemukan kekuatan melalui Kristus.

Pesan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan dan keteguhan iman tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau besarnya pengakuan manusia. Kekuatan sejati tumbuh dari relasi yang mendalam dengan Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering tergoda membandingkan dirinya dengan orang lain. Ada yang merasa lebih hebat karena memiliki kekayaan, ada yang merasa lebih penting karena menduduki jabatan tertentu, dan ada pula yang mengharapkan penghormatan karena merasa telah berjasa besar.

Namun, teladan Rasul Paulus mengajak setiap orang untuk kembali pada dasar kehidupan beriman: bersyukur atas berkat Tuhan, menerima keterbatasan diri, serta tetap setia melakukan kebaikan dalam keadaan apa pun.
Sejalan dengan pesan tersebut, Romo Gabriel mengajak umat agar tidak terjebak dalam persaingan untuk menunjukkan siapa yang paling berjasa, melainkan berlomba-lomba menghadirkan kebaikan bagi sesama.

“Mari kita fokus pada kebaikan Tuhan yang mencukupi kebutuhan kita, karena di hadapan Tuhan kita semua adalah tamu. Selalu saling melayani dengan semangat kerendahan hati,” pinta Romo Paroki Naesleu.

Ajakan tersebut menegaskan bahwa kehidupan menggereja tidak seharusnya menjadi ruang untuk mencari pujian atau mempertahankan pengaruh pribadi. Sebaliknya, Gereja harus menjadi tempat bagi setiap orang untuk belajar melayani dengan tulus, mengampuni dengan lapang hati, dan menerima sesama tanpa prasangka.

“Kerendahan hati bukan berarti seseorang tidak memiliki kemampuan atau tidak boleh berkontribusi. Kerendahan hati berarti menyadari bahwa setiap talenta merupakan anugerah yang harus digunakan untuk kebaikan bersama”ungkap Romo Alos .

Lebih lanjut alumnus Seminari Lalian Atambua mengatakan bahwa
Orang yang sungguh-sungguh melayani tidak selalu menuntut namanya disebut atau jasanya diumumkan. Ia tetap berbuat baik karena menyadari bahwa pelayanan merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan.

Perumpamaan Perjamuan Kawin: Undangan yang Menuntut Jawaban Nyata
Bacaan Injil Matius 22:1-14 mengisahkan perumpamaan tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin bagi anaknya.
Raja tersebut mengundang banyak orang untuk menghadiri perjamuan. Namun, sebagian dari mereka menolak undangan itu karena lebih memilih kesibukan dan urusan masing-masing. Sang raja kemudian memerintahkan agar orang-orang dari berbagai tempat diundang untuk memenuhi ruang perjamuan.

Perumpamaan ini mengandung pesan mendalam tentang kemurahan hati Allah dan tanggapan manusia terhadap panggilan-Nya.
Undangan Tuhan diberikan secara luas, tetapi manusia sering kali memiliki alasan untuk mengabaikannya.

Ada yang terlalu sibuk mengejar kepentingan duniawi, ada yang merasa tidak membutuhkan Tuhan, dan ada pula yang begitu terikat pada kebanggaan diri sehingga sulit membuka hati bagi sesama.

Namun, perumpamaan tersebut juga mengingatkan bahwa menerima undangan Tuhan bukan sekadar hadir secara lahiriah. Kehadiran itu perlu diwujudkan dalam perubahan sikap, pertobatan, dan kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Dengan kata lain, seseorang tidak cukup hanya rajin mengikuti kegiatan keagamaan apabila dalam kehidupan sehari-hari masih memelihara kebencian, kecemburuan, diskriminasi, dan kesombongan.

Iman harus tampak dalam tindakan nyata: menghormati sesama, menghindari perkataan yang melukai, memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, dan membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang.

Pesan Injil ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan keluarga, lingkungan, masyarakat adat, dan komunitas Gereja di wilayah Kefamenanu.

Tuhan mengundang semua orang untuk mengambil bagian dalam kasih-Nya. Karena itu, setiap umat dipanggil untuk menjawab undangan tersebut melalui kehidupan yang semakin mencerminkan kasih Kristus.

Koor KUB Santo Yosep Maslete Menghidupkan Suasana Liturgi

Perayaan Ekaristi di Stasi Tubmas semakin khidmat dengan pelayanan koor sponsor dari Kelompok Umat Basis (KUB) Santo Yosep, Lingkungan Maslete, Paroki Naesleu, Kefamenanu.

Koor yang dipandu oleh dirigen Maria Letisia Sijao, dengan iringan organ oleh Vinsentius Sintu Lopes, turut mengantar umat untuk menghayati setiap bagian liturgi melalui pujian dan nyanyian liturgi.

“Paduan suara dalam perayaan Ekaristi bukan sekadar pelengkap acara atau pertunjukan musikal. Dalam liturgi Gereja Katolik, nyanyian merupakan bagian dari doa bersama yang membantu umat mengarahkan hati kepada Tuhan,”ungkap ketua KUB St.Yosef Yulius Sonbay.

Lebih jauh Yulius mengatakan bahwa Melalui harmonisasi suara, iringan musik, dan penghayatan lagu-lagu liturgi, umat diajak untuk memasuki suasana doa yang lebih mendalam.

Pelayanan koor juga menjadi bentuk partisipasi umat dalam kehidupan menggereja. Setiap suara, setiap iringan, dan setiap tugas yang dijalankan dengan tulus memiliki makna ketika diarahkan untuk memuliakan Tuhan dan membantu umat berdoa.

Keterlibatan KUB Santo Yosep Lingkungan Maslete memperlihatkan bahwa kehidupan Gereja bertumbuh melalui kerja sama dan pelayanan banyak orang. Tidak ada satu pihak yang dapat menjalankan seluruh tugas sendirian. Setiap orang memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun persekutuan umat beriman.

Semangat inilah yang perlu terus dipelihara agar pelayanan liturgi tidak berhenti pada kemeriahan perayaan, tetapi berbuah dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghargai, saling mendukung, dan saling mengasihi.

Di tengah kehidupan masyarakat Kampung Adat Maslete yang kaya akan tradisi dan nilai persaudaraan, perayaan Ekaristi menjadi kesempatan untuk mempertemukan iman, budaya, dan semangat pelayanan dalam satu kesatuan yang harmonis.

Gereja Harus Menjadi Rumah Persaudaraan bagi Semua

Pesan yang disampaikan dalam perayaan Ekaristi tersebut mengajak umat untuk melihat kembali makna kehadiran Gereja di tengah masyarakat.

Gereja tidak hanya hadir sebagai bangunan tempat umat berkumpul setiap hari Minggu. Lebih dari itu, Gereja dipanggil menjadi tanda kasih Tuhan yang nyata melalui kehidupan umatnya.

Ketika seseorang yang baru datang disambut dengan ramah, Gereja sedang menghadirkan kasih. Ketika orang yang berbeda pendapat tetap dihormati, Gereja sedang membangun persaudaraan. Ketika mereka yang lemah dibantu tanpa mengharapkan imbalan, Gereja sedang mewujudkan pelayanan Kristus.
Sebaliknya, ketika kesombongan, kecemburuan, prasangka, dan diskriminasi dibiarkan berkembang, nilai-nilai persaudaraan dapat terkikis dan kehidupan bersama menjadi rapuh.

Karena itu, setiap umat perlu melakukan pemeriksaan batin: apakah kehadirannya dalam Gereja telah membawa kedamaian?

Apakah perkataannya membangun atau justru melukai? Apakah keterlibatannya dalam pelayanan membuka ruang bagi sesama atau malah membuat orang lain merasa tersisih?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting direnungkan agar iman tidak hanya menjadi identitas, tetapi sungguh-sungguh menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan.

Di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan kebersamaan, nilai-nilai budaya yang luhur dapat menjadi kekuatan besar untuk membangun persaudaraan. Namun, semuanya perlu dijalankan dengan semangat kasih, sehingga tidak ada orang yang merasa lebih tinggi atau lebih berhak daripada sesamanya.

Adat dan iman dapat berjalan bersama ketika keduanya mengarahkan manusia kepada penghormatan terhadap kehidupan, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab membangun kedamaian.

Menjawab Undangan Tuhan Melalui Tindakan Nyata

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XXVIII di Stasi Tubmas, Paroki Naesleu, Kefamenanu, menjadi pengingat bahwa undangan Tuhan selalu terbuka bagi setiap orang.

Melalui bacaan Kitab Yesaya, umat diajak percaya kepada Tuhan sebagai sumber keselamatan dan segala berkat. Melalui teladan Rasul Paulus, umat belajar menemukan kekuatan dalam Kristus, baik ketika mengalami kelimpahan maupun kekurangan. Sementara itu, melalui perumpamaan perjamuan kawin dalam Injil Matius, umat diingatkan untuk tidak mengabaikan panggilan Tuhan hanya karena terlalu sibuk dengan kepentingan pribadi.

Pesan-pesan tersebut mengarah pada satu panggilan mendasar: menjadi manusia yang rendah hati, bersyukur, dan bersedia melayani.
Dalam kehidupan sehari-hari, jawaban terhadap undangan Tuhan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menyediakan waktu untuk berdoa, mengikuti perayaan Ekaristi, menghormati orang tua, menjaga keharmonisan keluarga, menyambut orang baru dengan ramah, membantu tetangga yang mengalami kesulitan, serta menghindari perkataan yang merendahkan orang lain merupakan bagian dari kesaksian iman.

Tidak perlu menunggu memiliki kedudukan tinggi atau kekayaan berlimpah untuk melakukan kebaikan. Setiap orang dapat menjadi pembawa kasih Tuhan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah siapa yang paling lama berada dalam lingkungan Gereja, siapa yang paling banyak memberikan sumbangan, atau siapa yang paling sering disebut sebagai orang berjasa. Yang terpenting adalah sejauh mana setiap orang membiarkan kasih Tuhan membentuk hati dan tindakannya.
Perayaan Ekaristi di Kampung Adat Maslete pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama: membangun Gereja yang terbuka, menjaga persaudaraan, menghargai perbedaan, dan melayani tanpa diskriminasi.

Sebab, di hadapan Tuhan, kita semua adalah tamu yang menerima undangan kasih-Nya. Karena itu, janganlah kita menutup pintu bagi sesama ketika Tuhan sendiri telah membuka pintu bagi semua orang.

Undangan Tuhan telah disampaikan. Kini, setiap orang dipanggil untuk menjawabnya bukan hanya dengan kata-kata, melainkan melalui iman yang hidup, hati yang rendah hati, dan tindakan nyata yang membawa kasih serta kedamaian bagi sesama.

Vinsentius Sintu Lopes (Jurnalist)

banner 325x300
error: Content is protected !!