NENUK, ATAMBUA — Memasuki Bulan Rosario, umat Katolik diajak kembali pada satu paradoks iman yang diajarkan Yesus: jalan menuju kebesaran bukanlah dengan meninggikan diri, melainkan dengan merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil.
Pesan itu menjadi inti renungan P. Domi Kadju Dheo, SVD, pada awal Bulan Rosario, 1 Oktober 2026, yang mengambil inspirasi dari Injil Matius 18:1-5 tentang pertanyaan para murid, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”
“Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 18:4).
Menurut refleksi tersebut, Yesus tidak menunjuk orang yang paling pintar, paling senior ataupun paling berkuasa ketika para murid memperdebatkan siapa yang terbesar. Sebaliknya, Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka.
Menjadi besar dalam Kerajaan Allah bukan soal naik ke atas, tetapi berani turun ke bawah: merendahkan diri, menjadi kecil dan menjadi seperti anak.
Rosario, Tali yang Menghubungkan Bumi dan Surga
Memasuki 1 Oktober sebagai awal Bulan Rosario, refleksi tersebut menghubungkan sikap menjadi kecil seperti anak dengan doa Rosario.
Seorang anak kecil ketika takut akan mencari tangan ibunya. Ia tidak membutuhkan argumentasi panjang; ia membutuhkan genggaman.
Demikian pula Rosario. Dalam refleksi P. Domi, Rosario digambarkan sebagai “tali yang menghubungkan bumi dengan surga.”
Gambaran itu menjadi semakin kuat ketika bumi sedang menghadapi berbagai luka kemanusiaan dan ekologis.
Migran non-prosedural yang meninggal di hutan Malaysia, tanah Timor yang kering, korban gempa Flores yang masih tinggal di tenda, hingga perpecahan di tengah masyarakat menjadi bagian dari realitas yang disebut dalam refleksi tersebut.
Ketika tangan menggenggam bulir-bulir Rosario, manusia diajak membawa seluruh luka bumi itu ke dalam hati Tuhan.
“Kita tidak berdoa sendirian. Ada Tangan Ibu yang menggenggam kita,” demikian pesan refleksi tersebut.
Rosario sebagai Kekuatan Spiritual JPIC
Bagi perjuangan Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC), Rosario dalam refleksi P. Domi tidak ditempatkan sekadar sebagai devosi pribadi, tetapi sebagai kekuatan spiritual dalam perjuangan kemanusiaan.
Rosario disebut sebagai “senjata JPIC” dalam menghadapi kekuatan yang memecah persatuan, merusak perdamaian dan menghambat perjuangan keadilan.
Namun, senjata yang dimaksud bukan kekerasan. Justru sebaliknya, Rosario menjadi jalan untuk menaklukkan ego dan nafsu kuasa dalam diri sendiri.
“Mikael punya pedang, kita punya Rosario,” demikian ungkapan reflektif yang digunakan.
Pesannya jelas: perjuangan keadilan membutuhkan kerendahan hati.
Seorang pejuang tidak boleh terjebak dalam perasaan paling benar, paling hebat atau paling berjasa. Doa Rosario justru mengingatkan manusia pada keterbatasan dirinya melalui doa, “Doakanlah kami yang berdosa ini.”
Karena itu, perjuangan untuk keadilan, perdamaian, ekologi integral dan pembelaan terhadap hak-hak sesama membutuhkan nutrisi spiritual agar tidak berubah menjadi kemarahan dan konflik baru.
Rosario menjadi ruang untuk memperjuangkan keadilan tanpa kehilangan kasih, memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kerendahan hati.
Enam Imam Muda dan Panggilan untuk Menjadi Hamba
Refleksi Bulan Rosario tersebut juga ditempatkan dalam konteks sukacita di Biara Nenuk, dengan tahbisan enam imam muda yang menyerahkan diri untuk pelayanan Kerajaan Allah.
Kebesaran mereka, menurut refleksi itu, bukan pertama-tama terletak pada status sebagai imam, tetapi pada keberanian untuk menjadi kecil dan menjadi hamba.
Pesan itu sekaligus menjadi ajakan bagi keenam imam baru untuk membawa semangat Rosario dalam pelayanan mereka.
Berjuang demi kemanusiaan dengan Rosario dalam dada.
Sebab perjuangan pelayanan tidak cukup hanya dengan keberanian bersuara. Dibutuhkan hati yang tetap rendah, kesetiaan untuk melayani dan kesediaan menggenggam tangan Tuhan dalam setiap perjuangan.
Pada akhirnya, refleksi P. Domi menegaskan bahwa kebesaran di hadapan Tuhan bukan milik mereka yang paling keras menyuarakan perjuangan, tetapi mereka yang tetap setia dalam kasih dan kerendahan hati.
“Yang terbesar bukanlah yang paling keras suaranya memperjuangkan keadilan, melainkan yang paling setia meremas Rosario di sela-sela perjuangannya, sambil membiarkan Bunda menggenggam jari-jarinya.”
Selamat memasuki Bulan Rosario.
P. Domi Kadju Dheo, SVD
JPIC SVD Timor — Nenuk, Atambua

















