MAKASSAR — Polemik internal Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) mencuat setelah beredarnya tangkapan layar percakapan yang disebut berasal dari grup fungsionaris Pengurus Besar (PB) SEMMI dan mencantumkan akun “BWS Ketum PB SEMMI”.
Dalam percakapan tersebut, terdapat pesan yang mengundang seluruh kandidat untuk bertemu, yang kemudian disusul pengecualian terhadap salah satu kandidat dengan kalimat, “Kecuali Gibran” dan “Sudah tidak boleh di SEMMI.”
Pernyataan itu mendapat kecaman keras dari Pengurus Wilayah (PW) SEMMI Sulawesi Selatan. Organisasi tersebut menilai, jika benar disampaikan sebagaimana dalam tangkapan layar yang beredar, pernyataan tersebut tidak mencerminkan semangat persatuan dan keteladanan yang semestinya ditunjukkan oleh seorang mantan Ketua Umum PB SEMMI.
Ketua Umum PW SEMMI Sulsel, Andi Muh Idik Indra, menegaskan bahwa persoalan internal organisasi tidak semestinya diselesaikan melalui pernyataan personal yang berpotensi menimbulkan sekat di antara kader.
“Kami mengecam keras sikap tersebut. Seorang mantan Ketua Umum seharusnya memberikan contoh kedewasaan, bukan justru menunjukkan sikap yang dapat menciptakan sekat di antara kader. Bagi kami, ini bukan contoh kepemimpinan yang baik,” tegas Indra.
Menurut Indra, SEMMI merupakan organisasi kader yang tidak boleh diposisikan sebagai milik perseorangan. Setiap persoalan yang menyangkut kader, kata dia, semestinya ditempuh melalui mekanisme organisasi yang berlaku.
“Siapa pun yang pernah menjadi Ketua Umum harus memahami bahwa SEMMI adalah rumah besar seluruh kader. Tidak ada satu orang pun yang berhak menempatkan dirinya seolah-olah menjadi penentu siapa yang boleh atau tidak boleh berada di SEMMI,” ujarnya.
Jabatan Berakhir, Keteladanan Jangan Ikut Berakhir
Bintang Wahyu Saputra sebelumnya telah berstatus demisioner setelah laporan pertanggungjawaban (LPJ) PB SEMMI diterima dalam Kongres IX pada Juli 2026.
Dalam momentum tersebut, Bintang juga menyerukan pentingnya menjaga semangat “SEMMI Satu” dan persatuan kader.
PW SEMMI Sulsel menilai, semangat tersebut semestinya tidak berhenti pada slogan, tetapi juga tercermin dalam sikap dan tindakan para mantan pemimpin organisasi.
“Jangan bicara tentang SEMMI Satu kalau yang ditinggalkan justru sekat. Jabatan boleh berakhir, tetapi tanggung jawab moral untuk memberikan keteladanan kepada kader tidak pernah berakhir,” tegas Indra.
Ia mengatakan, kritik tersebut disampaikan bukan untuk memperlebar konflik, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap marwah dan masa depan organisasi.
Menurutnya, perbedaan pandangan maupun dinamika dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, penyelesaian persoalan harus tetap berada dalam koridor konstitusi dan mekanisme organisasi agar tidak berkembang menjadi konflik personal antarkader.
“Kami ingin SEMMI menjadi rumah perjuangan, bukan ruang untuk saling mengucilkan. Jangan wariskan ego personal kepada kader. Wariskan gagasan, karya, persaudaraan, dan keteladanan,” pungkasnya.
PW SEMMI Sulsel berharap seluruh kader tetap mengedepankan persatuan, kedewasaan dalam berorganisasi, serta mekanisme kelembagaan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang muncul di tubuh SEMMI.
Hkz/Robb

















