MALAKA, RADAR PERBATASAN —
Puskesmas Biudukfoho, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, memperkuat upaya pencegahan anemia pada remaja putri melalui program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin di sekolah.
Program tersebut menyasar siswi tingkat SMP dan SMA yang berada di wilayah kerja Puskesmas Biudukfoho.
Selain pemberian TTD, petugas kesehatan juga memberikan edukasi dan konseling mengenai anemia, gizi seimbang, serta pentingnya kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah.
Kepala Puskesmas Biudukfoho, Beatus Setrinus Nahak, S.Kep., Ns., mengatakan program pemberian TTD bagi remaja putri telah dimulai sejak Maret 2026 dan hingga kini masih berjalan di sejumlah sekolah.
“Program pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Biudukfoho sudah dimulai sejak Maret 2026 dan sampai saat ini masih terus berjalan di sekolah-sekolah,” kata Beatus, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, pelaksanaan program dilakukan secara terjadwal dengan melibatkan pihak sekolah.
Pemberian TTD dilaksanakan setiap pekan, khususnya pada hari Jumat, dengan pendampingan guru UKS serta staf Puskesmas Biudukfoho.
Hingga saat ini, terdapat lima sekolah tingkat SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Biudukfoho yang telah mendapatkan pelayanan program tersebut.
Beatus menjelaskan, pemberian TTD tidak sekadar bertujuan memastikan remaja putri memperoleh suplemen zat besi.
Program tersebut merupakan bagian dari langkah promotif dan preventif untuk menekan risiko anemia sejak usia remaja.
“Tujuan utama program ini adalah mencegah dan menanggulangi anemia pada remaja putri,” ujarnya.
Anemia pada remaja dapat berdampak terhadap kondisi fisik maupun aktivitas sehari-hari. Salah satu dampaknya adalah menurunnya konsentrasi dan kemampuan belajar, mudah lelah, serta menurunnya daya tahan tubuh.
Dalam jangka panjang, persoalan anemia pada remaja putri juga perlu mendapat perhatian karena mereka merupakan calon ibu.
Kondisi anemia yang tidak ditangani sejak dini dapat menjadi persoalan ketika memasuki masa kehamilan.
Karena itu, Puskesmas Biudukfoho tidak hanya membagikan TTD, tetapi juga melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi hemoglobin dan mendeteksi apakah seorang siswi mengalami anemia.
“Puskesmas Biudukfoho juga melayani pemeriksaan darah bagi remaja putri untuk mendiagnosis apakah siswi tersebut anemia atau tidak. Jika ditemukan anemia, akan dilakukan pemantauan dan tindakan lanjutan oleh petugas,” jelas Beatus.
Bukan Sekadar Membagikan Tablet
Beatus menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah tablet yang diberikan kepada siswi. Edukasi dan kepatuhan mengonsumsi TTD menjadi bagian penting agar intervensi tersebut benar-benar memberikan manfaat.
Petugas Puskesmas memberikan edukasi mengenai pentingnya konsumsi TTD, pola makan bergizi seimbang, sumber makanan yang mengandung zat besi, serta dampak anemia terhadap kesehatan dan proses belajar.
Pihak sekolah juga dilibatkan melalui guru UKS untuk membantu mengawasi dan mendampingi siswi saat mengonsumsi TTD.
“Program ini tidak hanya pembagian tablet. Kami juga melakukan edukasi dan konseling gizi kepada remaja putri tentang pentingnya konsumsi TTD, pola makan seimbang, dan dampak anemia,” katanya.
Menurut Beatus, keterlibatan sekolah menjadi penting karena sebagian besar waktu remaja dihabiskan di lingkungan pendidikan. Dengan adanya jadwal yang teratur dan pendampingan guru, kepatuhan siswi diharapkan dapat meningkat.
Target Cakupan Sekolah 100 Persen
Puskesmas Biudukfoho menargetkan cakupan pelayanan TTD bagi remaja putri di wilayah kerjanya dapat diperluas hingga seluruh sekolah yang menjadi sasaran program.
Beatus juga mengharapkan dukungan orang tua dan pihak sekolah untuk memastikan konsumsi TTD tidak berhenti pada saat tablet diberikan.
“Kami berharap seluruh remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Biudukfoho patuh minum tablet tambah darah satu kali seminggu. Ke depan kami ingin cakupan sekolahnya 100 persen dan angka anemia pada remaja putri bisa turun,” ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan keluarga juga diperlukan. Orang tua diharapkan ikut mengingatkan anak-anak mereka agar mengonsumsi TTD sesuai jadwal.
“Harapan kami ada dukungan dari orang tua dan sekolah untuk mengingatkan anaknya minum TTD,” kata Beatus.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan anemia perlu dilakukan sejak usia remaja, bukan baru ketika seorang perempuan memasuki masa kehamilan.
Dengan intervensi yang dilakukan secara rutin, pemeriksaan kesehatan, edukasi gizi, serta dukungan sekolah dan keluarga, Puskesmas Biudukfoho berupaya membangun kesadaran kesehatan reproduksi dan gizi sejak dini.
Editor : Boni Atolan.

















