*Kisah dari lereng Gunung Mutis HARI INI, 10 Juli 2026, bukan sekadar perayaan 25 tahun Hidup Membiara Suster Edith Naben, SSpS memakai cincin perak biara. Ini adalah pembuktian radikal bahwa altar keluarga jauh lebih kuat daripada mimbar gereja mana pun dalam melahirkan panggilan suci.*
Di hadapan ribuan umat dari dua negara—Timor Leste (dihadiri 2 kawan kelas: *Abui Amaral dan Yustina Lika*) dan Indonesia—sejarah mencatat sebuah rahasia ilahi yang dibuka dari meja doa sebuah rumah sederhana di Desa Noepesu.
Berikut adalah ulasan rohani mendalam mengenai warisan iman almarhum Bapak Rafael Naben dan Ibu Martha Banu.
1. *Altar Peristiwa Rosario Keempat:* Doa yang Spesifik dan Berani
Banyak keluarga berdoa Rosari hanya sebagai rutinitas pengusir malam. Namun, bagi pasangan Rafael dan Martha, Rosario adalah proposal iman yang disodorkan ke hadapan takhta Allah setiap malam.
a. *Konsistensi yang Mengguncang Langit:* Mereka tidak meminta kekayaan materi di lereng Mutis.
b. *Permohonan Radikal:* Pada Peristiwa Keempat—di mana misteri Maria Diangkat ke Surga atau Yesus Dipanggul Kemuliaan-Nya direnungkan—mereka menyelipkan satu permohonan spesifik: “Tuhan, panggillah anak-anak kami menjadi pelayan-Mu.”
c. *Buah Nyata:* Surga tidak tuli terhadap doa yang konsisten. *Hasilnya adalah seorang Suster SSpS yang setia merawat sesama di rumah sakit, dan anak keempat mereka, Romo Yohanes Paulus Naben, Pr, yang kini menggembalakan Paroki Ponu di Keuskupan Atambua.*
2. *Pendidikan Iman Lewat “Khotbah Kehidupan”.*
Bapak Rafael Naben adalah seorang guru. Dia tahu cara mengajar di depan kelas saat bertugas di Timor Leste. Namun, pelajaran terbaik yang dia berikan bersama Ibu Martha tidak ditulis di papan tulis, melainkan diukir dalam rutinitas harian rumah tangga.
a. *Kesalehan yang Menular:* Anak-anak tidak mendengar khotbah tentang Tuhan; mereka melihat orang tua mereka takut akan Tuhan.
b. *Ketangguhan Melintasi Batas Politik:* Ketika situasi politik memaksa mereka eksodus kembali ke Timor Barat setelah Timor Timur merdeka, iman mereka tidak ikut runtuh. Guru Rafael dan Mama Martha menunjukkan bahwa tanah air bisa berubah, paspor bisa berganti, namun kesetiaan pada Gereja adalah harga mati.
3. *Rumah Tangga Sebagai “Seminari Pertama” (Ecclesia Domestica).*
Pesta perak Suster Edith hari ini, yang menyatukan daratan Timor Barat dan Timor Leste, menyatukan umat paroki Eban yang luas adalah bukti bahwa Desa Noepesu telah melahirkan sebuah ‘Ecclesia Domestica’ (Gereja Domestik) yang sempurna.
a. *Pekerja Keras yang Bertanggung Jawab:* Mereka tidak egois menahan anak-anak untuk masa depan duniawi pribadi.
b. *Investasi Keabadian:* Mereka mendidik enam anak dengan cucuran keringat kerja keras, namun prioritas utama mereka adalah pendidikan jiwa, sekolah hati. Mereka berhasil menjadi tokoh masyarakat yang solid karena hidup mereka selaras antara apa yang didoakan di malam hari dan apa yang diperbuat di siang hari.
4. *Motto Perak Membiara:* Meterai Kasih yang Kekal (Yeremia 31:3b)
Pilihan ayat dari Kitap Nabi Yeremia, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal,” yang dihidupi oleh Suster Edith Naben, SSpS selama 25 tahun ini adalah rangkuman dari seluruh perjalanan imannya.
a. *Kasih yang Mendahului Waktu:* Sebelum Suster Edith menapakkan kaki di SMPK St. Yohanes Berchmans Colegio Maliana, atau merawat orang sakit di rumah sakit, Allah sudah mengasihinya dengan kasih yang abadi. Panggilan ini bukan kebetulan, melainkan rencana kekal.
b. *Jembatan Dua Sisi Zaman:* Kasih kekal Tuhan inilah yang mengikat komitmen Suster Edith melewati badai transisi sejarah Timor Leste dan Timor Barat. Ketika segalanya berubah dan bergerak, kasih Allah tetap kokoh, menjadikannya saluran berkat bagi masyarakat umum dan instansi medis tempat ia mengabdi.
c. *Jawaban Atas Doa Orang Tua:* Kalimat nabi Yeremia ini adalah jawaban konkret Allah atas “paksaan” doa bapak Rafael dan mama Martha. Allah membalas kesetiaan doa rosario malam di Noepesu dengan menyatakan kasih-Nya yang tidak pernah kedaluwarsa kepada putri mereka.
*Refleksi Akhir.*
Misa di lereng Gunung Mutis hari ini memanggil kita semua untuk bertobat secara rohani.
Di zaman modern ini, banyak orang tua menuntut anak-anaknya menjadi sukses secara finansial, namun melupakan keselamatan jiwa mereka.
Keluarga Rafael Naben dan Martha Banu mengingatkan dunia: *Jika Anda ingin anak-anak Anda mengguncang dunia dengan kebaikan, lutut Anda harus terlebih dahulu berlutut mengguncang surga melalui doa Rosari.*
Suster Edith dan Romo John Naben adalah monumen hidup dari sebuah keluarga yang berani “memaksa” Tuhan mendengarkan kerinduan suci mereka.
Selamat berbahagia suster Edith, maju terus suster, kami dukung ziarah panggilan muliamu.
Selamat berbahagia umat paroki Eban sebagai gudang panggilan hidup membiara dalam aneka kongregasi.
Terima kasih untuk 2 kawan kelas Colegio Infante de Sagres Maliana: Mana Abui dan mana Yus Lika, yang dari Timor Leste nun jauh, dengan sepeda motor, turut hadiri upacara pesta perak sr. Edith. Obrogado barak!

















