banner 728x250

Renungan JPIC: Perjuangan Tak Selalu Butuh Tepuk Tangan, yang Penting Nama Terdaftar di Surga

banner 120x600
banner 468x60

RENUNGAN JIWA | Sabtu, Pekan Biasa XXVI, 3 Oktober 2026

“Bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.” — Lukas 10:20

banner 325x300

Ada sukacita yang lahir karena kita berhasil. Ada kebanggaan karena program berjalan, advokasi mendapat hasil, pelayanan dipuji, nama disebut, atau karya kita mendapat tempat di hadapan banyak orang.

Tetapi ada satu sukacita yang jauh lebih dalam—sukacita yang tidak bergantung pada tepuk tangan, angka keberhasilan, publikasi, plakat penghargaan, laporan tahunan, bahkan pujian manusia.

Itulah sukacita yang ditawarkan Yesus: bukan karena kita berhasil melakukan sesuatu yang besar, melainkan karena nama kita terdaftar di surga.

Pesan itu terasa sangat kuat ketika Yesus menanggapi kegembiraan para murid yang baru pulang dari pelayanan.

Mereka datang dengan euforia: “Tuhan, setan-setan pun takluk demi nama-Mu!” (Luk 10:17).

Mereka berhasil. Mereka mengalami kuasa pelayanan. Mereka melihat hasil nyata dari apa yang mereka lakukan.

Namun Yesus menggeser pusat kegembiraan itu dengan sebuah penegasan:

“Jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”

Yesus seakan berkata: Jangan ukur nilai dirimu hanya dari apa yang berhasil kamu lakukan. Ingatlah siapa dirimu di hadapan Bapa.

Bukan Tentang Seberapa Besar Namamu di Dunia

Dalam kehidupan sehari-hari, nama yang terdaftar memiliki arti penting.

Nama terdaftar sebagai penerima bantuan. Nama terdaftar sebagai PNS. Nama tercantum dalam dokumen kepemilikan. Nama masuk dalam daftar tertentu.

Jika nama tidak tercatat, seseorang bahkan bisa merasa tidak dianggap ada.

Tetapi Yesus memperkenalkan daftar yang jauh lebih penting: daftar kehidupan di hadapan Allah.

“Namamu terdaftar di surga” bukan berarti manusia sudah memiliki alasan untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, itu adalah undangan untuk hidup dari keyakinan bahwa dirinya dikenal, diterima dan dikasihi oleh Bapa.

Kita bukan sekadar angka dalam statistik pelayanan.

Bukan sekadar nama dalam daftar anggota.

Bukan sekadar satu dari sekian banyak pelayan kemanusiaan.

Bukan pula sekadar nama yang muncul dalam laporan, berita atau media sosial.

Bapa mengenal kita secara pribadi.

Ia mengenal nama kita.

Dan karena itu, nilai hidup kita tidak ditentukan oleh seberapa sering nama kita disebut manusia.

Untuk Pejuang JPIC: Jangan Jadikan Keberhasilan sebagai Satu-satunya Sumber Sukacita

Pesan ini menjadi sangat relevan bagi para pejuang JPIC dan mitra awam.

Dalam perjuangan kemanusiaan, tidak semua advokasi berakhir dengan kemenangan. Tidak setiap persoalan tanah menemukan jalan keluar. Tidak setiap program berjalan sesuai harapan. Tidak setiap pendampingan menghasilkan perubahan yang segera terlihat.

Bahkan orang yang bekerja untuk kemanusiaan dapat mengalami kelelahan, kekecewaan, merasa tidak dihargai, atau akhirnya bertanya: Untuk apa semua ini?

Di titik seperti itu, Injil hari ini memberikan sebuah fondasi baru.

Jangan menggantungkan seluruh sukacita pada hasil perjuangan.

Sebab jika sukacita hanya lahir dari keberhasilan, kita akan mudah hancur ketika perjuangan mengalami kegagalan.

Tetapi bila sukacita berakar pada keyakinan bahwa “namaku terdaftar di surga”, maka kegagalan tidak lagi memiliki kekuatan untuk menentukan seluruh nilai hidup kita.

Advokasi boleh gagal.

Program boleh tersendat.

Karya boleh tidak dikenal.

Nama boleh tidak disebut.

Kita boleh tidak mendapatkan tempat di panggung.

Namun panggilan untuk tetap setia tidak berhenti.

Tetap Bersukacita Ketika Jalan Terasa Berat

Ketika advokasi yang kita perjuangkan tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, kita tetap dapat berkata:

“Namaku terdaftar di surga.”

Ketika sebuah program pelayanan tidak berjalan sesuai rencana, kita tetap dapat berkata:

“Namaku terdaftar di surga.”

Ketika kita difitnah, dilupakan, tidak diundang atau tidak mendapatkan penghargaan, kita tetap dapat berkata:

“Namaku terdaftar di surga.”

Inilah sukacita yang tidak bergantung pada tepuk tangan manusia.

Sukacita yang tidak dibeli oleh keberhasilan.

Sukacita yang tidak dicuri oleh kegagalan.

Sukacita yang membuat seorang pelayan tetap mampu berjalan meskipun hasil perjuangannya belum terlihat.

Jangan Berjuang untuk Membesarkan Nama Sendiri

Bagi Team JPIC SVD Timor bersama para mitra awam, pesan Injil ini juga menjadi koreksi yang sangat dalam.

Jangan berjuang supaya nama kita semakin besar di spanduk.

Jangan bekerja supaya nama kita semakin sering muncul dalam berita.

Jangan menjadikan media sosial sebagai ukuran utama keberhasilan pelayanan.

Jangan pula mengukur nilai panggilan hanya dari besarnya program, banyaknya peserta, besarnya dukungan atau panjangnya laporan tahunan.

Sebab semua itu dapat berubah.

Yang hari ini dipuji, besok dapat dilupakan.

Yang hari ini dikenal, besok dapat tergantikan.

Yang hari ini dianggap berhasil, besok dapat dinilai gagal.

Tetapi kasih Allah tidak berubah karena ukuran-ukuran tersebut.

Karena itu, berjuanglah bukan agar nama kita terdaftar di bumi, tetapi karena kita percaya bahwa nama kita dikenal oleh Bapa.

Orang yang Bebas Tidak Takut Kehilangan Nama

Ada kekuatan besar dalam kesadaran bahwa identitas terdalam kita tidak ditentukan oleh penilaian manusia.

Orang yang tidak menggantungkan harga dirinya pada pengakuan manusia akan memiliki kebebasan untuk melayani.

Ia tidak harus menjilat.

Ia tidak harus mencari muka.

Ia tidak perlu mengejar popularitas.

Ia tidak harus takut ketika perjuangannya membuat dirinya tidak populer.

Ia dapat berdiri bersama mereka yang kecil dan terpinggirkan karena sumber keberaniannya bukan pujian manusia.

Namanya sudah dikenal oleh Bapa.

Itulah kebebasan seorang pelayan.

Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan untuk tetap melakukan yang benar meskipun tidak selalu mendapat penghargaan.

Tutup Mata dan Dengarkan Namamu Dipanggil

Maka hari ini, berhentilah sejenak dari semua kesibukan.

Tutup mata.

Tarik napas.

Biarkan semua keberhasilan dan kegagalan pelayanan sejenak berada di luar pikiran.

Lalu dengarkan Yesus menyebut namamu.

Bukan nama yang tertulis di plakat.

Bukan nama yang muncul di media sosial.

Bukan nama yang disebut dalam laporan.

Tetapi namamu yang dikenal oleh Bapa.

Dan dengarkan Ia berkata:

“(Sebutlah namamu), bersukacitalah. Namamu terdaftar di surga.”

Sekali lagi:

“(Sebutlah namamu), bersukacitalah. Namamu terdaftar di surga.”

Mungkin hari ini kita belum memahami semuanya.

Mungkin perjuangan masih panjang.

Mungkin ada persoalan yang belum selesai.

Mungkin ada luka yang belum sembuh.

Tetapi kita dapat berkata:

“Tuhan, saya belum mengerti semuanya, tetapi saya tetap percaya.”

Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa besar nama kita dikenal di bumi.

Yang terpenting: kita dikenal dan dikasihi oleh Bapa.

Dan karena itulah kita tetap berjalan.

Tetap melayani.

Tetap membela kehidupan.

Tetap berdiri bersama mereka yang kecil.

Bukan demi nama kita, tetapi demi Dia yang telah lebih dahulu mengenal nama kita.

Tuhan memberkati.

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor – Nenuk

banner 325x300
error: Content is protected !!