banner 728x250

Moses Nino Raih 71 Suara, Gantikan Alo Poen Pimpin Lingkungan St. Balthasar Maslete

banner 120x600
banner 468x60

Regenerasi Kepemimpinan Gereja, Umat Diharapkan Tetap Bersatu dan Memperkuat Pelayanan Pastoral

KEFAMENANU, RADAR PERBATASAN – Moses Nino memperoleh kepercayaan mayoritas umat untuk memimpin Lingkungan St. Balthasar Tubuhue-Maslete (TubMas), Paroki St. Yohanes Pemandi Naesleu, Dekenat Kefamenanu, Keuskupan Atambua. Dalam pemilihan langsung yang berlangsung di Kapela St. Balthasar Tubuhue-Maslete, Senin (19/10/2026), Moses meraih 71 suara dan mengungguli lima calon lainnya.

banner 325x300

Terpilihnya Moses Nino menandai estafet kepemimpinan dari Aloysius Poen atau Alo Poen, ketua lingkungan sebelumnya, sekaligus membuka babak baru pelayanan pastoral di tengah umat Maslete.

Pemilihan tersebut bukan sekadar pergantian pengurus. Lebih dari itu, proses ini menjadi momentum regenerasi kepemimpinan dan partisipasi umat dalam menentukan sosok yang dipercaya untuk menggerakkan kehidupan menggereja, mempererat persaudaraan, serta memperkuat pelayanan kepada seluruh umat.

Di tengah harapan baru tersebut, tantangan utama bagi kepemimpinan Moses bukan hanya melanjutkan program yang telah berjalan, tetapi juga merangkul seluruh umat tanpa membedakan pilihan politik internal dalam pemilihan. Sebab, dalam kehidupan Gereja, persatuan dan pelayanan harus tetap menjadi prioritas setelah proses pemilihan berakhir.

Moses Nino Unggul dengan 71 Suara

Ketua panitia pemilihan, Goris Muni, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penghitungan suara, Moses Nino menempati urutan pertama dengan perolehan 71 suara.

Moses mengungguli Agustinus Sonbay, Yosefina Bana, Emanuel Son, Frans Foni, dan Frans Selan dalam pemilihan ketua lingkungan yang diselenggarakan untuk meremajakan kepengurusan Lingkungan St. Balthasar Maslete.

Menurut Goris Muni, hasil tersebut merupakan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan sekaligus upaya memastikan keberlanjutan pelayanan pastoral di tingkat lingkungan.

Proses pemilihan itu turut didampingi Gaspar Kobesi dan para Ketua Kelompok Umat Basis (KUB) Lingkungan Maslete.

Bagi umat, terpilihnya seorang ketua lingkungan bukan semata-mata persoalan siapa yang memperoleh suara terbanyak. Kepercayaan tersebut merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui pelayanan nyata, komunikasi yang baik, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan umat.

Partisipasi Umat Capai 73,5 Persen

Pemilihan ketua Lingkungan St. Balthasar Maslete melibatkan umat dari lima Kelompok Umat Basis, yakni KUB 1 St. Yosep, KUB 2 Sta. Anastasia, KUB 3 St. Agustinus, KUB 4 Sta. Maria Fatima, dan KUB 5 St. Andreas.

Panitia mencatat sebanyak 189 orang terdaftar sebagai pemilih. Dari jumlah tersebut, 139 orang menggunakan hak pilihnya.

Dengan demikian, tingkat partisipasi pemilih mencapai sekitar 73,5 persen.

Goris Muni menilai keterlibatan umat tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembaruan kepemimpinan di lingkungan Gereja.

Ia menegaskan bahwa kehidupan menggereja bukan hanya menjadi tanggung jawab pastor atau pengurus lingkungan, melainkan panggilan bersama seluruh umat beriman.

Setiap umat memiliki peran sesuai dengan kemampuan dan panggilannya, baik melalui doa, pelayanan liturgi, kegiatan sosial, pendampingan keluarga, maupun keterlibatan dalam kepengurusan Gereja.

Karena itu, pemilihan ketua lingkungan diharapkan tidak menimbulkan sekat di antara umat. Perbedaan pilihan harus dihormati sebagai bagian dari proses bersama, sementara hasil pemilihan menjadi dasar untuk melanjutkan pelayanan.

Dalam semangat persaudaraan Kristiani, kemenangan sejati bukan sekadar ketika seorang calon memperoleh suara terbanyak, melainkan ketika seluruh umat tetap bersatu dan bersedia bekerja bersama setelah pemilihan selesai.

Tantangan Moses: Merangkul Semua Umat

Katekis senior, Gaspar Kobesi, menegaskan bahwa ketua lingkungan memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga kehidupan menggereja dan mengoordinasikan pelayanan pastoral di tengah umat.

Menurutnya, ketua lingkungan diharapkan menjadi penghubung antara umat dan pihak paroki, mengoordinasikan kegiatan pastoral, mendorong keterlibatan umat dalam kehidupan liturgi, serta membangun komunikasi yang baik dengan para ketua KUB dan seluruh keluarga Katolik.

Mantan guru Agama Katolik SMANSA Kefamenanu itu menambahkan, tugas seorang ketua lingkungan tidak hanya sebatas hadir ketika ada kegiatan resmi Gereja.

Pemimpin lingkungan juga diharapkan hadir ketika umat menghadapi kesulitan, membutuhkan perhatian, atau memerlukan dukungan dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.

Kepemimpinan pastoral, lanjutnya, tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari sejauh mana umat merasa diperhatikan, dilibatkan, dan dikuatkan dalam iman.

Karena itu, Moses Nino diharapkan mampu membangun kepemimpinan yang terbuka, merangkul seluruh kelompok umat, dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Dukungan para ketua KUB, pengurus lingkungan, tokoh umat, kaum muda, dan seluruh keluarga Katolik menjadi bagian penting untuk memastikan pelayanan berjalan dengan baik.

Sebab, seorang pemimpin tidak dapat bekerja sendirian. Keberhasilan pelayanan membutuhkan kepercayaan, kerja sama, dan keterlibatan seluruh umat.

Alo Poen, Bagian dari Sejarah Pelayanan

Pergantian kepemimpinan dari Aloysius Poen kepada Moses Nino juga menjadi kesempatan untuk menghargai perjalanan pelayanan yang telah dilalui oleh kepengurusan sebelumnya.

Setiap masa kepemimpinan memiliki tantangan, pengalaman, dan kontribusinya masing-masing. Karena itu, regenerasi tidak sepatutnya dipahami sebagai pemutusan hubungan dengan masa lalu, tetapi sebagai upaya meneruskan tongkat estafet pelayanan.

Alo Poen telah menjadi bagian dari perjalanan kehidupan menggereja Lingkungan St. Balthasar Maslete. Sementara itu, Moses Nino kini memperoleh kepercayaan untuk melanjutkan tanggung jawab tersebut dengan semangat baru.

Pergantian pemimpin diharapkan membuka ruang bagi pembaruan tanpa menghilangkan nilai-nilai kebersamaan yang telah tumbuh di tengah umat.

Regenerasi yang sehat bukan hanya memberikan kesempatan kepada pemimpin baru, tetapi juga menjaga kesinambungan pelayanan, menghormati kontribusi pendahulu, dan melibatkan semakin banyak umat dalam kehidupan Gereja.

Panitia Berharap Pelayanan Semakin Baik

Ketua panitia pemilihan, Goris Muni, berharap terpilihnya Moses Nino dapat membawa pelayanan pastoral Lingkungan St. Balthasar Maslete semakin baik, tertib, dan lancar.

Harapan tersebut menjadi tanggung jawab bersama, sebab jabatan ketua lingkungan bukan sekadar kedudukan organisatoris, melainkan bentuk kepercayaan umat yang harus dijawab melalui tindakan nyata.

Pelayanan pastoral membutuhkan koordinasi yang baik, komunikasi terbuka, serta keterlibatan aktif seluruh umat.

Kegiatan doa bersama, perayaan liturgi, pendampingan keluarga, pembinaan kaum muda, perhatian kepada orang sakit, dan kepedulian terhadap umat yang mengalami kesulitan merupakan bagian dari kehidupan menggereja yang perlu terus dipelihara.

Dengan keterlibatan seluruh umat, Lingkungan St. Balthasar Maslete diharapkan semakin menjadi tempat bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan kasih Kristus di tengah keluarga maupun masyarakat.

Bagi panitia, berakhirnya pemilihan justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menyatukan kembali semangat umat dan bersama-sama mewujudkan pelayanan yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Pemimpin Boleh Berganti, Persaudaraan Jangan Terbelah

Pemilihan langsung ketua Lingkungan St. Balthasar Maslete pada 19 Oktober 2026 memberikan pesan penting tentang partisipasi umat dan pembaruan kepemimpinan dalam Gereja.

Moses Nino kini memikul harapan baru. Namun, keberhasilan kepemimpinannya kelak tidak hanya ditentukan oleh 71 suara yang diperolehnya, tetapi juga oleh kemampuannya membangun kepercayaan dan merangkul umat yang memilihnya maupun mereka yang memberikan suara kepada calon lain.

Dalam kehidupan Gereja, tidak seharusnya ada sekat antara pemenang dan mereka yang belum memperoleh dukungan mayoritas. Semua tetap merupakan satu keluarga dalam iman, satu persekutuan dalam Kristus, dan satu komunitas yang dipanggil untuk saling mengasihi.

Pemilihan boleh selesai, tetapi panggilan untuk melayani tidak pernah berakhir.

Ketua boleh berganti, tetapi semangat persaudaraan harus tetap menyala. Kepengurusan boleh diperbarui, tetapi iman, kasih, dan pengharapan harus terus bertumbuh.

Dari Kapela St. Balthasar Maslete, pesan itu menjadi pengingat bahwa Gereja yang kuat bukan hanya Gereja yang memiliki bangunan megah atau kegiatan yang ramai, melainkan Gereja yang umatnya saling mendukung, pemimpinnya bersedia melayani, dan setiap orang merasa menjadi bagian penting dari persekutuan.

Kini, tanggung jawab itu berada di tangan Moses Nino bersama seluruh umat Lingkungan St. Balthasar Maslete.

Harapannya, kepemimpinan baru dapat mempererat persaudaraan antar-KUB, memperkuat kehidupan iman, dan membawa pelayanan pastoral menuju masa depan yang lebih baik.

Sebab, kepemimpinan dalam Gereja bukan tentang siapa yang paling tinggi kedudukannya, melainkan siapa yang paling tulus merendahkan hati untuk melayani.

V. Sintu Lopes — Jurnalis

banner 325x300
error: Content is protected !!