LOLI, TTS — Tidak semua hobi berhenti sebagai kesenangan pribadi. Di tangan Kimas Angket, kegemaran memelihara ikan sejak usia belia justru berkembang menjadi usaha budidaya ikan air tawar.
Dari modal awal Rp50 juta, ia membangun usaha yang kini memiliki 10 unit kolam dan dikembangkan pula sebagai Spot Mancing Mano Suni di Desa Loli, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Kisah itu bermula pada 2019.
Ketika sebagian orang menjalankan hobi sekadar untuk mengisi waktu luang, Kimas melihat peluang ekonomi dari ikan air tawar. Potensi sumber daya alam di Desa Loli semakin menguatkan niatnya untuk serius menekuni usaha tersebut.
“Saya punya ketertarikan di bidang perikanan, khususnya memelihara ikan dan itu merupakan hobi saya sejak usia belia,” kata Kimas ketika ditemui di kediamannya di Desa Loli, Kamis (17/9/2026).
Ayah tiga anak ini kemudian mulai mengubah kegemarannya menjadi aktivitas produktif. Ia memilih budidaya ikan air tawar karena menilai kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein tetap terbuka, sementara teknik pemeliharaan dapat dilakukan di kolam dan masa panennya relatif cepat.
Berawal dari Delapan Kolam
Dengan modal awal sekitar Rp50 juta, Kimas mulai membeli bibit ikan dari Balai Benih Ikan Dinas Perikanan Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Jenis ikan yang dibudidayakan antara lain ikan mas, harper, lele dan nila.
Pada tahap awal, Kimas mengelola delapan unit kolam. Usaha tersebut kemudian dikembangkan. Pada Februari 2021, dua kolam tambahan dibangun sehingga total menjadi 10 unit kolam.
Pengembangan kawasan itu juga tidak berlangsung instan. Pembersihan lokasi dan pembagian kolam sempat dilakukan secara manual. Pada November 2021, pekerjaan pembuatan kolam mendapat bantuan Sahabat Aleng dengan menggunakan mesin ekskavator.
Dari sinilah skala usaha Kimas mulai berubah.
Kolam yang sebelumnya berfungsi sebagai tempat budidaya kemudian dikembangkan menjadi ruang rekreasi masyarakat melalui Spot Mancing Mano Suni.
Pengunjung Datang, Memancing, Menimbang dan Membayar
Konsepnya sederhana.
Pengunjung datang ke lokasi, memancing sendiri ikan yang tersedia, kemudian hasil pancingan ditimbang. Setelah ditimbang, ikan diberi harga dan pengunjung melakukan pembayaran.
Sistem tersebut diterapkan dengan jadwal panen melalui aktivitas memancing sebanyak dua kali dalam seminggu.
“Selain refreshing, para pembeli dari Kefamenanu, Atambua dan Soe datang ke lokasi dan sendiri memancing. Kemudian ditimbang hasil pancingan dan dilabeli harga lalu bayar,” ujar Kimas.
Dengan konsep tersebut, kolam ikan tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi sekaligus menjadi lokasi yang memberikan pengalaman berbeda bagi konsumen.
Pengunjung tidak sekadar membeli ikan. Mereka datang, memancing sendiri, melihat hasil tangkapan ditimbang, kemudian membawa pulang ikan yang diperoleh.
Setiap Kolam Bisa Ditebar Ribuan Ekor
Menurut Kimas, jumlah ikan yang ditebar pada setiap kolam berkisar antara 1.500 hingga 5.000 ekor.
Skala tersebut membuat pengelolaan kolam membutuhkan perhatian terhadap pemeliharaan dan keberlangsungan ikan hingga masa panen.
Hasil usaha mulai terlihat pada panen perdana.
Kimas menyebut, dari modal awal sekitar Rp50 juta, total pendapatan pada panen perdana mencapai sekitar Rp160 juta.
Angka tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan usahanya.
Hobi yang sejak kecil hanya menjadi kegemaran memelihara ikan kini telah berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang dikelola dengan 10 kolam.
Kimas juga tercatat sebagai wartawan Media Jurnal Sepernas. Namun di sela aktivitasnya, ia memilih mengembangkan usaha perikanan yang berangkat dari sesuatu yang sudah ia sukai sejak kecil.
Bagi Kimas, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa sebuah hobi bisa memiliki nilai ekonomi ketika ditekuni dan dikembangkan secara serius.
Dari kolam-kolam di Desa Loli, ia tidak hanya membesarkan ikan. Ia juga sedang membangun sebuah model usaha sederhana: hobi menjadi produksi, produksi menjadi pendapatan, dan kolam budidaya menjadi tempat masyarakat menikmati pengalaman memancing.
Yuven Fernandez
.

















