BETUN, MALAKA — Iman Katolik di Malaka tidak boleh tumbuh dengan mencabut umat dari akar budayanya. Sebaliknya, iman mesti menemukan rumahnya dalam jiwa, budaya, dan kehidupan masyarakat Malaka.

Pesan itu mengemuka dalam rekoleksi bersama Bapa Uskup Atambua yang diikuti ratusan umat Katolik dari berbagai paroki di Kabupaten Malaka di Aula Paroki Betun, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WITA itu dilanjutkan dengan seminar bertema “Malaka dalam Pelukan Ina Maria Nai Feto Malaka”, dengan narasumber Rm. Patris Alegro.
Dalam pemaparannya, Rm. Patris menegaskan bahwa inkulturasi terjadi ketika iman kepada Kristus menemukan rumah dalam jiwa bangsa Malaka.
Dengan demikian, iman tidak dipaksakan dari luar, tetapi berakar dan bertumbuh di tengah budaya serta kehidupan sehari-hari umat.
“Katolik hadir bukan untuk menghapus jati diri Malaka, melainkan menyempurnakannya dalam terang Kristus,” tegas Rm. Patris.
Gua Maria Bukan Pengganti Ekaristi
Salah satu pesan yang mendapat perhatian peserta adalah ajakan agar umat pergi ke gua supaya datang misa, bukan menghindari misa.
Gua Maria, menurut Rm. Patris, bukan tempat pelarian dari perayaan Ekaristi. Sebaliknya, devosi kepada Maria harus menjadi jalan menuju perjumpaan yang semakin dalam dengan Kristus.
Pesan tersebut menempatkan devosi kepada Maria dalam hubungan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan Ekaristi umat.
Secara teologis, Rm. Patris menjelaskan bahwa perjalanan iman umat Malaka berakar pada langkah Maria sendiri—sebuah perjalanan yang bergerak dari paroki ke paroki dan dari rumah ke rumah.
Maria menjadi teladan bagaimana iman dihadirkan bukan hanya dalam ruang ibadah, tetapi juga di tengah kehidupan nyata umat.
“Apa yang Dikatakannya Kepadamu, Buatlah Itu”
Spiritualitas Ina Maria kemudian dirangkum dalam satu kalimat kunci dari peristiwa Kana:
“Apa yang dikatakannya kepadamu, buatlah itu.”
Pesan tersebut menjadi pedoman hidup beriman: taat, percaya, dan melakukan apa yang dikatakan Yesus.
Bagi umat Malaka, pesan itu sekaligus menjadi undangan untuk menjadikan iman sebagai kekuatan yang hidup dalam keluarga, masyarakat, budaya, dan tanah kelahiran sendiri.
Karena itu, Rm. Patris menutup materinya dengan pesan yang kuat dan menggugah:
“Jangan pulang jadi orang asing di tanah sendiri.”
Kalimat tersebut bukan sekadar ajakan untuk mencintai tanah kelahiran. Lebih jauh, umat diajak merawat identitas dan budaya Malaka sembari menghidupi iman Katolik yang berakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Rekoleksi dan seminar tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi umat Malaka untuk melihat kembali hubungan antara iman, budaya, Maria, dan kehidupan sehari-hari.
Di tengah perubahan zaman, pesan yang mengemuka sederhana tetapi mendalam: iman tidak harus membuat seseorang kehilangan akar. Iman justru harus membuat manusia semakin mengenal siapa dirinya, mencintai tanah kelahirannya, dan menghadirkan Kristus dalam kehidupan nyata.
Malaka, dalam pelukan Ina Maria Nai Feto Malaka, dipanggil untuk terus berjalan dalam iman—bukan sebagai umat yang tercerabut dari budayanya, tetapi sebagai umat yang mampu memadukan iman dan budaya dalam kehidupan yang nyata.
inyo

















