BINTAN, Radar Perbatasan.com – Pada Senin, 2 Maret 2026 itu, suasana di Ruang Rapat Bawah Bapperida Bintan terasa sedikit berbeda. Tidak hanya diisi oleh jajaran birokrat dengan tumpukan berkas regulasi, tapi juga riuh dengan semangat muda dari jajaran Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau.
Mereka datang bukan untuk sekadar berswafoto atau menyerahkan map formalitas. Mereka datang membawa misi: Audiensi. Sebuah dialog terbuka untuk memastikan suara mahasiswa terdengar hingga ke telinga pengambil kebijakan tertinggi di Kabupaten Bintan.
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, menyambut hangat kedatangan para agen perubahan ini. Bagi Roby, mahasiswa bukanlah entitas yang harus dikurung dalam tembok kampus. Sebaliknya, mereka adalah mesin penggerak yang memiliki bahan bakar berupa idealisme dan inovasi.
Agen Perubahan, Bukan Penonton
Dalam arahannya yang lugas, Bupati Roby memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif DEMA STAIN SAR yang ingin “turun gelanggang” terlibat aktif dalam pembangunan daerah.
“Mahasiswa adalah kekuatan intelektual yang membawa semangat perubahan. Pemerintah Kabupaten Bintan sangat terbuka terhadap masukan, kritik yang membangun, serta ide-ide kreatif dari kalangan akademisi,” tegas Bupati Roby di hadapan para pengurus DEMA.
Roby menekankan bahwa pemerintah tidak antikritik. Justru, pemikiran kritis yang segar dari mahasiswa seringkali menjadi “obat” mujarab bagi stagnasi pembangunan. Namun, dia juga memberi tantangan balik.
Keluar dari Zona Nyaman Kampus
Bupati mendorong agar mahasiswa tidak hanya jago berteori di kelas atau aktif di organisasi internal. Dia ingin melihat mahasiswa hadir secara nyata di tengah nadi kehidupan warga Bintan.
“Jangan hanya aktif di kampus. Turutlah hadir di tengah masyarakat melalui program pengabdian, penelitian terapan, hingga kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan warga,” pesannya.
Bupati ingin adanya sinergi di mana hasil riset mahasiswa bisa diaplikasikan untuk memecahkan masalah lokal, mulai dari isu ekonomi hingga sosial keagamaan.
Komitmen Sinergi DEMA STAIN SAR
Gayung pun bersambut. Perwakilan DEMA STAIN SAR menyatakan komitmennya untuk tidak menjadi “menara gading”. Mereka siap menjadi jembatan antara dunia akademis dan realitas sosial di Bintan.
Beberapa poin kolaborasi pun mulai dipetakan, mulai dari penguatan literasi masyarakat, program pemberdayaan ekonomi kreatif, hingga penguatan nilai-nilai religius-sosial yang memang menjadi ciri khas STAIN SAR.
Audiensi ini bukan sekadar seremoni satu jam. Ini adalah awal dari komunikasi berkelanjutan. Harapannya jelas: kolaborasi antara energi muda mahasiswa dan pengalaman pemerintah daerah dapat melahirkan solusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat Bintan.
Sebab, pembangunan Bintan memang butuh lebih banyak telinga untuk mendengar dan lebih banyak tangan untuk bekerja. Termasuk tangan-tangan mahasiswa.
Editor: Budi Adriansyah

















