TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Merayakan IdulFitri seharusnya penuh dengan sukacita dan kesucian. Namun, bagi warga Pulau Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Lebaran tahun ini kembali menyisakan rasa getir. Bukan karena kurangnya hidangan di meja, melainkan karena krisis air bersih yang kembali “bertamu” tanpa diundang.

Persoalan klasik ini seolah menjadi ritual tahunan yang tak kunjung menemukan titik terang. Harapan warga pada teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yang digadang-gadang sebagai pahlawan pemenuhan kebutuhan air, justru berujung kekecewaan mendalam.
Uzari, salah satu warga RW 01 Kelurahan Penyengat, tak mampu lagi menyembunyikan kegundahannya. Saat ditemui pada Senin, 23 Maret 2026, dia menegaskan bahwa keluhan distribusi air ini sudah seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang.
“Dari dulu sudah kami sampaikan, tapi sampai sekarang tidak ada perubahan. Justru makin parah saat kebutuhan air meningkat,” ungkap Uzari dengan nada getir.
Potret Buram Pengelolaan Publik
Ironisnya, gangguan pelayanan air bersih ini terjadi justru saat masyarakat sedang berada di puncak perayaan hari besar. Hingga memasuki hari ketiga Lebaran, tetesan air bersih di rumah-rumah warga masih menjadi barang langka.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar: Apakah proyek SWRO ini benar-benar dirancang untuk solusi jangka panjang, atau sekadar proyek seremonial tanpa manajemen yang berkelanjutan?
Berdasarkan pantauan di lapangan, setidaknya ada empat dosa besar dalam pengelolaan air di Pulau Penyengat saat ini:
* Distribusi Tak Berkeadilan: Air tidak mengalir merata ke seluruh rumah warga.
* Jadwal Gaib: Masyarakat tidak pernah mendapatkan kepastian kapan air akan mengalir.
* Misteri Kapasitas: Kapasitas produksi harian tidak pernah transparan kepada publik.
* Nol Mitigasi: Tidak ada rencana cadangan (contingency plan) saat terjadi lonjakan kebutuhan di hari besar.
Sentilan untuk Pemkot Tanjungpinang
Krisis ini bukan lagi sekadar kendala teknis mesin yang haus perawatan, melainkan cermin dari lemahnya sistem manajerial di tingkat pemangku kebijakan. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tanjungpinang pun kini menjadi sorotan tajam.
Masyarakat menilai pemerintah kota seolah membiarkan luka lama ini terus menganga setiap tahunnya. Jika teknologi canggih seperti SWRO saja gagal dikelola dengan baik, lantas ke mana lagi warga harus menggantungkan harapan untuk sekadar mandi dan berwudhu dengan layak?
Pulau Penyengat adalah ikon sejarah dan budaya. Sangat disayangkan jika kemasyhurannya harus ternoda oleh ketidakmampuan pemerintah dalam menghadirkan setetes air bersih bagi warganya sendiri.
Sudah saatnya Pemkot Tanjungpinang berhenti memberikan janji, dan mulai memberikan solusi yang benar-benar mengalir.
Editor: Budi Adriansyah

















