KUPANG, RADAR PERBATASAN — Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan Gereja bukan sekadar hadir di media sosial, melainkan memastikan setiap pesan yang disampaikan membawa kebenaran, menjaga martabat manusia, dan menghadirkan harapan. Pesan inilah yang mengemuka dalam hari ketiga Indo-Leste Subzone Media and Communication Workshop 2026, kolaborasi Serikat Sabda Allah (SVD) dan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang.
Lokakarya bertema “Strengthening Digital Mission for Evangelization” ini membahas strategi pengelolaan media sosial, pengalaman produksi media profesional, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung karya komunikasi dan evangelisasi.
Materi hari ketiga menghadirkan Dr. phil. Lisa Esti Puji Hartanti, S.Sos., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya Jakarta; Fr. Finbarr Tracey, SVD, Direktur Pelaksana Kairos Communications; serta RP. Anthony Swamy Kannu, SVD, Koordinator Komunikasi Zona ASPAC.
Literasi Digital Menjadi Kunci Melawan Hoaks
Dalam materi manajemen media sosial, Lisa Esti Puji Hartanti menekankan pentingnya menyebarkan informasi yang benar kepada masyarakat dan memanfaatkan situs atau aplikasi pemeriksa fakta untuk melawan hoaks.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam lokakarya, penetrasi internet Indonesia pada 2025 mencapai 80,66 persen. Pengguna internet didominasi kelompok Generasi Z dan milenial. Sementara itu, tingkat penggunaan internet yang tinggi juga menuntut perhatian serius terhadap kualitas literasi digital masyarakat.
Dalam pemaparan tersebut, tingkat penggunaan internet di Pulau Jawa disebut mencapai 84,69 persen, sedangkan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 76,86 persen.
Besarnya penggunaan media sosial membuka peluang luas bagi penyebaran informasi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan ketika pengguna lebih tertarik pada konten singkat tanpa mendalami konteks dan kebenaran informasi.
Fenomena brain rot, sebagaimana dibahas dalam materi, menjadi salah satu perhatian dalam penggunaan media sosial yang berlebihan dan kurang mendalam.
Karena itu, pengguna didorong untuk mencari informasi yang lebih mendalam, tidak berhenti pada potongan video atau unggahan singkat, serta membiasakan diri memeriksa fakta sebelum membagikan informasi.
Pengelolaan media sosial juga perlu dilakukan secara terencana. Lisa memperkenalkan pendekatan analisis SWOT untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman; analisis STP untuk menentukan segmentasi, sasaran, dan posisi konten; serta prinsip SMART untuk merumuskan tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan memiliki batas waktu yang jelas.
Ia juga menekankan pentingnya membangun tim media sosial dengan pembagian peran yang mencakup konseptor, pelaksana, pengoptimal, pendukung, dan unsur kreatif.
Pendekatan ini menegaskan bahwa media sosial tidak cukup dikelola hanya dengan mengunggah konten. Dibutuhkan perencanaan, pembagian tugas, evaluasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan audiens.
Kairos Communications: Menjembatani Profesionalisme dan Misi
Pengalaman Kairos Communications di Irlandia menjadi perspektif lain dalam lokakarya tersebut.
Fr. Finbarr Tracey, SVD, menjelaskan bahwa Kairos membangun kolaborasi dengan berbagai mitra, mulai dari lembaga, paroki, tenaga profesional lepas, hingga pemerintah. Lembaga ini juga memberikan pelatihan produksi kepada mereka yang ingin mempelajari pekerjaan media secara langsung melalui unit-unit produksi dan lokasi kerja nyata.
Dalam pemaparannya, Finbarr mengangkat pentingnya komunikasi dan media bagi evangelisasi di tengah masyarakat dengan beragam budaya. Ia merujuk pada pandangan Henry Barlage, Superior Jenderal SVD ke-9, mengenai pentingnya komunikasi dan media untuk mewartakan Injil dalam berbagai konteks kebudayaan.
Tantangan tersebut terasa nyata di Irlandia, tempat sekitar 80 persen penduduk sebagaimana disebut dalam pemaparannya tidak lahir di negara itu, melainkan datang dari berbagai negara dan latar belakang budaya.
Situasi multikultural menuntut karya komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat secara relevan, sekaligus memahami keragaman pengalaman dan identitas mereka.
Kairos menjalankan pekerjaan profesional berdasarkan tender dan kontrak. Dalam praktiknya, lembaga ini juga menyesuaikan jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan produksi, termasuk melibatkan tenaga ahli audio ketika diperlukan.
Namun, di balik tata kelola profesional itu, muncul pertanyaan mendasar yang diangkat Finbarr: bagaimana menjaga keseimbangan antara bisnis dan misi?
Karya media membutuhkan biaya, tenaga, dan pengelolaan yang profesional. Di sisi lain, sebagai bagian dari pelayanan misi, komunikasi tidak boleh kehilangan tujuan dasarnya. Menemukan keseimbangan antara keberlanjutan usaha dan panggilan evangelisasi menjadi tantangan yang memerlukan pertimbangan matang.
AI Harus Menghormati Kebenaran dan Martabat Manusia
Pemanfaatan kecerdasan buatan menjadi salah satu materi penting yang disampaikan RP. Anthony Swamy Kannu, SVD, Koordinator Komunikasi Zona ASPAC.
Dalam penggunaan AI, ia menekankan perlunya menetapkan tujuan, mengenali audiens sasaran, menyediakan fakta, tanggal, dan referensi yang jelas, menentukan gaya komunikasi serta format konten, dan tetap menjaga akurasi serta martabat manusia.
Prinsip tersebut diperkenalkan melalui rumusan PROMPT Formula, sebagai panduan dalam menyusun instruksi agar hasil yang dihasilkan AI sesuai kebutuhan komunikasi.
Selain aspek isi, Anthony juga memberikan perhatian pada prinsip dasar desain visual. Desain dianjurkan menggunakan tidak lebih dari tiga warna dan dua hingga tiga jenis huruf. Penataan elemen, keselarasan, serta ruang kosong juga perlu diperhatikan agar pesan dapat disampaikan dengan jelas.
Canva turut disebut sebagai salah satu perangkat yang dapat digunakan untuk membuat desain secara manual.
Pesan penting dari materi ini ialah bahwa kecanggihan teknologi tidak menghilangkan tanggung jawab manusia. Konten yang dihasilkan dengan bantuan AI tetap harus diperiksa kebenarannya, disesuaikan dengan konteks, dan disusun dengan menghormati orang-orang yang menjadi subjek maupun penerima pesan.
Dari Teknologi Menuju Perjumpaan Manusia
Dimensi spiritual lokakarya ditegaskan dalam Misa harian di Kapela Sakramen Mahakudus Kampus Unwira Kupang, yang dipimpin Pater Kasmir Nema, SVD, Koordinator Komisi Komunikasi Generalat, dengan tema “Diutus untuk Mengabarkan Kabar Baik”.
Dalam refleksinya, Pater Kasmir mengingatkan bahwa Yesus mengutus para murid untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit. Para murid tidak diminta membawa banyak bekal. Penekanan utamanya bukan pada kelengkapan yang mereka miliki, melainkan pada pesan dan kehidupan yang mereka wartakan.
Refleksi tersebut kemudian dihubungkan dengan perkembangan teknologi komunikasi masa kini, mulai dari kamera, telepon pintar, komputer, hingga AI.
Teknologi dapat membantu menghasilkan video, grafis, dan pesan yang menarik. Namun, teknologi bukanlah tujuan utama misi. Yang lebih penting ialah pesan yang disampaikan dan perjumpaan manusiawi yang dibangun melalui komunikasi.
Karena itu, komunikator Kristiani diajak mengajukan pertanyaan mendasar: apakah kata-kata yang disampaikan membawa kebenaran atau kebingungan? Apakah gambar yang dipublikasikan menjaga martabat manusia atau justru mengeksploitasi mereka? Apakah komunikasi membangun keterhubungan atau memperlebar perpecahan? Dan apakah penggunaan AI membuat manusia semakin manusiawi?
Pertanyaan-pertanyaan ini menempatkan etika, kebenaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai fondasi karya komunikasi Gereja di ruang digital.
Membangun Ekosistem Komunikasi yang Bertanggung Jawab
Rangkaian materi hari ketiga memperlihatkan bahwa penguatan misi digital membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan perangkat teknologi. Diperlukan literasi digital, manajemen media sosial yang terencana, profesionalisme produksi, serta penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Bagi SVD dan para pelayan komunikasi Gereja, ruang digital merupakan ladang pewartaan yang luas. Namun, luasnya jangkauan tidak otomatis menjamin kualitas pesan. Konten yang menarik perlu berjalan seiring dengan ketepatan informasi, kedalaman pesan, dan kepedulian terhadap manusia.
Lokakarya kolaborasi SVD dan Unwira ini menempatkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat evangelisasi, bukan menggantikan inti pewartaan itu sendiri.
Pada akhirnya, keberhasilan komunikasi digital tidak hanya diukur dari banyaknya konten yang diproduksi atau luasnya jangkauan audiens, tetapi juga dari nilai yang dibawa, kebenaran yang dijaga, dan harapan yang ditumbuhkan.
Di tengah dunia digital yang bergerak cepat, panggilan komunikator Kristiani tetap sama: mewartakan Kabar Baik, mendengarkan sesama, menjaga martabat manusia, dan menghadirkan perjumpaan yang membawa orang semakin dekat dengan Kristus.
Boni Atolan

















