*KATA PENGANTAR*
Tanah Papua adalah bagian dari Indonesia yang kaya akan budaya, sumber daya alam, dan manusia. Namun sudah lebih dari 6 dekade, tanah ini diliputi konflik yang telah menelan banyak korban jiwa dari berbagai pihak.
Tulisan ini disusun untuk memahami secara objektif akar persoalan konflik Papua, memaparkan data kekerasan dan pembunuhan beberapa tahun terakhir, serta menawarkan arah solusi untuk mengakhiri konflik.
Khususnya kami menyoroti kasus terbaru penembakan 3 orang ASN di Jayawijaya pada 9 September 2026, dimana 2 di antaranya adalah anak-anak NTT. Kasus ini menjadi bukti bahwa korban terbesar dari konflik adalah warga sipil yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan.
Semoga tulisan ini menjadi bahan refleksi bersama agar kita terus memperjuangkan Papua yang damai, adil, dan bermartabat.
*I. AKAR PERSOALAN UTAMA KONFLIK DI PAPUA*
Berdasarkan kajian para peneliti dan Komnas HAM, akar masalah konflik Papua dapat dikelompokkan menjadi 4 hal:
*1. Masalah Sejarah & Politik*
Berkaitan dengan proses integrasi Papua ke Indonesia tahun 1969 melalui Pepera. Masih ada kelompok yang merasa proses tersebut tidak demokratis. Dari sini lahir tuntutan kemerdekaan oleh OPM/TPNPB dan ULMWP.
*2. Masalah Kekerasan & Pelanggaran HAM*
Konflik bersenjata antara TNI-Polri dengan TPNPB-OPM yang terus berlanjut. Operasi militer dan kontak senjata sering menimbulkan korban sipil. Amnesty International mencatat 69 kasus dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat 2010-2018 dengan 95 korban. 2018-2023 ada 65 kasus lagi dengan ±106 korban.
*3. Masalah Kesejahteraan & Ketimpangan Pembangunan*
Kemiskinan, marginalisasi, diskriminasi, dan ketimpangan ekonomi. Kehadiran perusahaan besar seperti Freeport juga menjadi sumber konflik terkait hak tanah ulayat dan dampak lingkungan.
*4. Masalah Dialog & Identitas Budaya*
Minimnya ruang dialog yang setara. Adanya rasisme dan kekhawatiran hilangnya identitas budaya Orang Asli Papua. Pemerintah pusat sering dianggap jauh dari realitas di lapangan.
*II. DATA KEKERASAN & PEMBUNUHAN BEBERAPA TAHUN TERAKHIR*
*1. Data Akumulatif 2010 – 2025*
*TNI/Polri tewas*: 72 tentara + 34 polisi (2010 – Maret 2022). Lalu 39 tentara + 17 polisi tewas (2023–2025)
*Warga Sipil tewas*: 320 orang (2010 – Maret 2022). Lalu 129 warga sipil tewas (2023–2025)
*TPNPB/OPM tewas*: Setidaknya 38 orang (2010 – Maret 2022). Satgas Damai Cartenz mencatat 272 tewas (2021–2025)
*Perkiraan total korban sipil sejak 1962*: antara 100.000 – 300.000 orang
*2. Data 2024 – Komnas HAM*
*113 peristiwa pelanggaran HAM* Jan–16 Des 2024. 85 di antaranya konflik bersenjata dan kekerasan
*Korban jiwa: 61 orang meninggal*, mayoritas warga sipil 32 orang. 2 di antaranya anak-anak
*Luka-luka: 39 orang*, mayoritas sipil
*Semester 1 2024*: 41 kasus kekerasan. 32 meninggal, 21 luka. Korban sipil: 28 orang, 12 meninggal
*3. Data 2025 – CSIS*
*141 korban Jan–Sep 2025*: 108 meninggal, 33 luka
*Rincian meninggal*: 64 warga sipil/OAP, 34 OPM, 10 TNI/Polri
*Penyebab utama*: Operasi militer 10 kasus, sergapan OPM 8 kasus
*Pelaku*: Mayoritas TNI/Polri 23 pelaku, OPM 9 pelaku
*4. Data Terbaru Jan–Jun 2026 – Komnas HAM*
*109 korban* kekerasan dan konflik bersenjata
*Rincian: 59 orang meninggal, 50 luka-luka*
*Peristiwa: 42 peristiwa kekerasan*
*5. Data Amnesty International*
*2010-2018*: 69 kasus dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat, 95 korban
*2018-2023*: 65 kasus lagi dengan ±106 korban
*III. STUDI KASUS: PENEMBAKAN 3 ASN DI JAYAWIJAYA, 9 SEPTEMBER 2026*
*Kronologi:*
Rabu, 9 September 2026 sekitar pukul 15.53 WIT di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. 3 orang ASN Dinas Pertanian ditembak mati oleh kelompok bersenjata saat pulang setelah meninjau program cetak sawah.
*Identitas Korban:*
1.*Wili Mbuik, 26 tahun* – CPNS Dinas Pertanian, asal Kupang, NTT
2.*drh. Alfonsius Albinus Mehan, 35 tahun* – Dokter Hewan Dinas Pertanian, asal Maumere, Sikka, NTT
3.*Aprida Rapi, 49 tahun* – Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, asal Toraja, Sulawesi Selatan
*Respons Pejabat:*
*Gubernur NTT Melkiades Laka Lena*: “melukai kemanusiaan kita, melukai kebangsaan kita”
*KemenHAM RI*: mengecam karena korban adalah warga sipil yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan
*DPR RI Komisi III*: menyebut “kejahatan biadab yang tidak dapat ditoleransi” dan mendesak TNI-Polri mengejar 8 pelaku
*Mantan Gubernur NTT Herman Musakabe*: bersurat ke Kapolri mendesak pengungkapan cepat
*Perkembangan:*
Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 telah mengidentifikasi 2 DPO berinisial PN dan KT dari KKB Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya. Jenazah Wili Mbuik telah dipulangkan ke Kupang.
*Makna Kasus Ini:*
1.*Korban sipil masih dominan* – Data 2025: 64 dari 108 yang meninggal adalah warga sipil/OAP
2.*Aparat sipil yang melayani jadi sasaran* – Korban sedang menjalankan tugas kemanusiaan
3.*Dampak lintas daerah* – 2 korban dari NTT, sehingga duka dirasakan sampai Kupang dan Maumere
*IV. ARAH SOLUSI UNTUK MENGAKHIRI KONFLIK*
1.*Dialog Damai yang Bermartabat*
Dialog multipihak melibatkan pemerintah pusat, Pemda, tokoh adat, gereja, akademisi, perempuan, dan kelompok pro-kemerdekaan.
2.*Penyelesaian Pelanggaran HAM Masa Lalu*
Mengusut tuntas kasus pembunuhan di luar hukum, penyiksaan, dan pengungsian. Membangun akuntabilitas.
3.*Pendekatan Kesejahteraan, Bukan Hanya Keamanan*
Mengurangi pendekatan militeristik. Fokus pada pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, dan pengakuan hak tanah ulayat.
4.*Penguatan Otsus dan Pengakuan Identitas Budaya*
Menjamin OAP mendapat akses pembangunan. Menghentikan diskriminasi dan rasisme.
5.*Penataan Pasukan & Perlindungan Sipil*
Mengurangi pengerahan militer di wilayah sipil yang memicu pengungsian dan eskalasi.
*PENUTUP*
Konflik Papua adalah luka bangsa yang sudah terlalu lama. Data menunjukkan korban terbesar tetap warga sipil. Kasus penembakan 3 ASN di Jayawijaya adalah pengingat bahwa kekerasan tidak pernah membawa solusi.
*PUISI: “TANAH YANG MENANGIS”*
Di lembah Baliem angin berbisik pilu
Di Muliama darah menetes di atas sawah
Tiga anak bangsa pulang, tapi bukan ke rumah
Dua dari NTT, satu dari Toraja
Mereka datang membawa bantuan, pulangnya membawa duka
Berapa banyak lagi ibu yang harus menangis?
Berapa banyak lagi sekolah yang harus kosong?
Berapa banyak lagi nama yang harus kita hafal, karena mati?
Cukuplah…
Tanah Papua tidak butuh peluru
Tanah Papua butuh pelukan
Bukan operasi, tapi pendidikan
Bukan senjata, tapi jembatan
Bukan ketakutan, tetapi dialog
Mari duduk bersama
Jakarta, Jayapura, Nduga, Kupang, Toraja
Kita semua bersaudara
Karena damai bukan milik satu pihak
Damai adalah rumah untuk kita semua
Satu-satunya jalan adalah menghentikan lingkaran kekerasan, duduk bersama dalam dialog, dan membangun Papua dengan keadilan dan cinta.
“Tanah Papua tidak butuh lebih banyak senjata. Tanah Papua butuh lebih banyak sekolah, rumah sakit, dan dialog.”
*DAFTAR PUSTAKA*
1.Wikipedia. Konflik Papua. Diakses 2026
2.CSIS. Catat 141 Korban Kekerasan Di Papua Sepanjang 2025. Validnews, 2 Oktober 2025
3.Komnas HAM RI. Laporan Situasi HAM Papua 2024
4.Tribratanews Polri. Perkembangan Kasus Penembakan 3 ASN di Jayawijaya, 11 September 2026
5.Papua Daily. Kantongi Identitas Pelaku Penembak Tiga ASN Jayawijaya, 10 September 2026
6.http://Ntvnews.id. DPR Minta TNI Bantu Polisi Tangkap KKB Penembak Mati 3 ASN, 11 September 2026.
Tun Feu Biele,
Teras Batin Oebufu
14 April 2026

















