BINTAN, Radar Perbatasan.com – Di tengah teriknya matahari dan debu musim kemarau yang menyengat, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) bersama masyarakat Kabupaten Bintan berkumpul dalam satu barisan yang rapat. Di Halaman Kantor Bupati Bintan, pada Kamis, 26 Maret 2026 (6 Syawal 1447 H), suasana mendadak hening dan penuh haru.
Bupati Bintan Roby Kurniawan dan Wakil Bupati Deby Maryanti tampak larut dalam kekhusyukan. Mereka tidak sedang meresmikan proyek, melainkan sedang melakukan “prosedur” tertinggi dalam keyakinan seorang Muslim: Salat Istisqa’.
Langkah ini diambil sebagai pelengkap ikhtiar lahiriah setelah hampir satu bulan wilayah Bintan didera kekeringan akibat fenomena El Nino yang kian mengkhawatirkan.
Sempurnakan Ikhtiar Strategis
Bupati Roby Kurniawan menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis dan teknis untuk menangani krisis air sudah dijalankan. Namun, bagi Roby, kerja keras manusia tetap memiliki batas.
“Banyak usaha dan langkah strategis yang sudah kita lakukan. Tapi pelengkap semua ikhtiar itu, kita sempurnakan dengan Salat Istisqa’. Kita memohon kepada Allah agar menurunkan hujan dan mengakhiri kekeringan ini,” ujar Roby usai pelaksanaan salat.
Filosofi yang dipegang Roby sederhana namun mendalam. Dia memposisikan pemerintah dan masyarakat sebagai makhluk yang wajib berusaha, namun keputusan akhir ada di tangan Khalik.
“Sejatinya hujan adalah kehendak Allah SWT. Semua langkah kita lakukan sesuai kapasitas sebagai makhluk, segala hasilnya kita berpasrah kepada Sang Pencipta,” tambahnya dengan nada rendah.
Pesan Tobat di Balik Musibah
Suasana semakin menyentuh saat K.H. Rustam Efendi menaiki mimbar khutbah. Dia mengingatkan bahwa dalam kacamata iman, musibah kekeringan bukan sekadar fenomena alam atau pergeseran awan, melainkan sebuah teguran.
“Tanpa menafikan alasan ilmiah, kita harus yakin bahwa musibah bisa jadi berasal dari ulah tangan manusia sendiri,” ungkap KH Rustam.
Dia mengajak seluruh jemaah untuk menjadikan momentum ini sebagai ajang “Tobat Nasional”. Meminta ampunan adalah kunci utama sebelum meminta hujan.
“Awali semuanya dengan penyerahan diri. Allah adalah tempat kita mengadu dan satu-satunya tempat meminta pertolongan,” tutupnya di hadapan jemaah yang tampak tertunduk khidmat.
Gerakan Serentak ke Kecamatan
Aksi “Ketuk Pintu Langit” ini tidak berhenti di pusat pemerintahan saja. Sebagai tindak lanjut, Salat Istisqa’ serupa dijadwalkan akan digelar serentak di seluruh Kecamatan di Kabupaten Bintan.
Pemerintah Kabupaten berharap, dengan perpaduan antara kebijakan strategis di lapangan dan doa yang tulus dari rakyatnya, berkah hujan akan segera membasahi bumi Bintan dalam waktu dekat.
Editor: Budi Adriansyah

















