*Semua orang punya ceritera tentang jatuhnya*.
Ada yang jatuh karena cinta yang dikhianati di tengah jalan.
Ada yang jatuh karena usaha yang dibangun bertahun-tahun, runtuh dalam semalam.
Ada yang jatuh karena doa yang dipanjatkan bertahun-tahun, seolah hanya mentok di langit-langit kamar.
Anak muda itu, sebut saja namanya Unu, punya semua ceritera itu sekaligus.
Tantangan hidup melululantakkan dia tanpa ampun. Bukan satu per satu, tetapi bertubi-tubi, seperti ombak besar di Pantai Kukafu yang menghantam tanpa jeda.
Ia pernah duduk sendiri di tepi pantai Lasiana Kupang, malam-malam. Airnya keruh, pelan, seperti hidupnya. Di saku celananya hanya ada dua ribu rupiah recehan. Di kepalanya berputar tagihan kuliah, uang kos yang sudah tiga bulan nunggak, dan telepon dari kampung yang tidak berani ia angkat. Tetapi yang paling sakit bukan itu. Yang paling sakit adalah luka di dalam hati, luka yang tidak berdarah tetapi perihnya sampai ke tulang.
Luka karena kata-kata manusia.
Lingkungan mencibir.
Lidah tetangga lebih tajam dari pisau.
Teman-teman menjauh, satu per satu, seperti burung yang pergi ketika pohon sudah tidak berbuah.
Keluarga pun mulai bertanya dengan nada curiga, bukan rindu.
“Dia itu gagal, kuliah jauh-jauh percuma.”
“Lihat, akhirnya jadi begini.”
Harapan hilang menjauh. Seperti perahu kecil yang talinya putus, terbawa arus ke tengah laut yang gelap dan dingin. Ia sudah tidak melihat daratan lagi.
Lalu datanglah orang-orang baik dengan kata-kata penghiburan yang mereka hafal di luar kepala.
“Sabar ya…”
“Tabah, Nak…”
“Yang kuat,
berdoa saja…”
Unu tersenyum. Mengangguk. Mengucapkan terima kasih.
Tetapi jauh di dalam hatinya, ia berbisik lirih: “Kata-kata itu terasa begitu ringan, begitu kosong, tak berisi’
Bagaimana mungkin kata “sabar” bisa membayar air mata yang sudah jatuh bertahun-tahun?
Bagaimana mungkin kata “kuat” bisa menutup perut yang lapar dan dada yang sesak karena menahan malu?
Ia merasa sendirian di tengah keramaian.
Ia berteriak di dalam hati, tetapi tidak ada yang mendengar.
Sampai suatu sore di bulan Agustus, di saat ia sudah benar-benar ingin menyerah dan berpikir untuk pulang dengan tangan hampa, ia melewati seorang ina tua penjual jagung bakar di Jln El Tari depan Kantor Gubernur NTT.
Ina tua itu memanggilnya pelan.
“Nak…
sini dulu.
Duduk ko.”
Ina tua itu tidak memberinya khotbah.
Tidak berkata sabar.
Tidak berkata tabah.
Tidak menghakimi.
Ina tua itu hanya mengambil satu puler jagung bakar yang masih panas, masih berasap, bersama Lomboknya yang seharusnya ia jual, lalu menyodorkannya kepada Unu.
“Makan sudah.
Ina lihat kau dari lemas, mungkin sejak pagi kau belum makan. Muka pucat. Makan dulu, baru cerita.”
Dan di detik itu, untuk pertama kalinya Unu setelah sekian lama, bendungan air mata jebol.
Ia menangis bukan karena sedih, tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasa dilihat. Merasa ada sebagai manusia. Ada tangan yang tidak mencibir,
tetapi memberi. Ada hati yang tidak mengadili,
tetapi hadir.
Ada kasih yang tidak banyak bicara, tetapi nyata.
Jagung bakar panas itu lebih jujur dari seribu kata motivasi.
Di situlah Unu mengerti, dengan hati yang bergetar:
Tuhan kadang tidak menjawab dengan mukjizat yang besar dan gemuruh.
Tuhan tidak selalu menjawab dengan kata-kata hebat dari mimbar.
Tuhan menjawab lewat cara yang paling sederhana: lewat jagung bakar panas, lewat peluk tulus hati Ina tua , lewat tawa kecil anak penjual kesekian, lewat doa orang yang tidak pernah putus menyebut namanya, lewat chat “kabar apa?” dari dari kamu sahabat..
Kasih Tuhan itu sederhana,
Tetapi menghidupkan.
Perlahan, sangat perlahan, Unu bangkit. Bukan sulap. Masalahnya tidak tiba-tiba hilang. Tagihan masih ada. Cibiran masih ada. Tetapi hatinya sudah tidak sendiri lagi.
Ia punya alasan untuk berjalan lagi.
Ia mulai lagi dari nol. Yang paling bawah. Pagi kuliah dengan sepatu sobek. Sore jadi penjual sayur dari gang ke gang. Malam jaga penjual jagung membantu Ina tua. Ia belajar lagi mencintai hidup yang kecil-kecil: pahitnya kopi hitam, dinginnya angin malam Kupang, hangatnya doa bersama di lingkungan.
Luka itu tidak hilang. Sampai hari ini pun bekasnya masih ada. Tetapi kini bekas itu tidak lagi membuatnya malu. Bekas itu yang mengajarkannya menjadi manusia yang mandiri . Bekas itu yang membuat hatinya lebih lembut, matanya lebih peka melihat orang lain yang terluka, tangannya lebih ringan untuk membantu.
Hari ini, Unu berdiri di depan banyak orang. Bukan sebagai orang yang paling hebat dan paling sukses. Tetapi sebagai orang yang pernah hancur berkeping-keping, dan Tuhan rekatkan kembali, satu per satu, dengan kasih.
Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan berkata:
“Terima kasih untuk semua yang pernah mencibirku. Kalian mengajariku untuk tidak hidup dari pujian manusia. Dan terima kasih yang paling dalam untuk satu puler jagung bakar panas Ina tua di tepi jalan El Tari , yang mengajariku bahwa kasih sejati tidak butuh banyak kata, cukup hadir dan memberi.”
Endingnya happy bukan karena ia tiba-tiba kaya raya, bukan karena semua orang akhirnya bertepuk tangan untuknya.
Happy endingnya adalah karena akhirnya ia mengerti: *Perih dan luka yang dalam itu tidak membunuhnya*. *Justru dari dalam lubang yang paling gelap itulah*, *Tuhan mengajarinya cara mencinta yang paling terang*.
Untuk itu, *Jika saudara dan sahabat membaca ceritera singkat ini dan sedang berada di lembah yang sama dimana kata sabar terasa kosong dan doa terasa hampa ingatlah ini*:
*Jangan berhenti berjalan*. *Di tikungan jalan di depan, mungkin Tuhan sudah menyiapkan jagung bakar panas untukmu sendiri*. *Mungkin lewat orang yang tidak kau duga*.
Bertahanlah. Pelan-pelan saja.
Karena badai pasti berlalu, dan kasih yang setia akan selalu menemukan jalan pulang.
*kita semua yang pernah luka, tapi memilih untuk tetap mencinta.*
*Dalam Tuhan Kita Bersaudara*
Yohanes Tafaib Amloki
Tun Feu Bijeli, Teras Batin Oebufu
Malam Minggu,
19 September 2026.

















