banner 728x250

KETIKA PMKRI MENJATUHKAN MARWAHNYA SENDIRI* –  _Refleksi atas Kericuhan Kongres XXXIV & MPA XXXIII PMKRI di Ruteng_ Oleh: Yohanes Tafaib

banner 120x600
banner 468x60

*PENGANTAR: SIAPA KITA DAN MAU KE MANA*
PMKRI. *Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia*.

Lahir 14 Mei 1947 di Yogyakarta, dari rahim kegelisahan para pemuda Katolik yang ingin mengabdi bagi Gereja dan Bangsa.
PMKRI bukan sekadar organisasi kemahasiswaan. Ia adalah sekolah kader. Tempat ditempa nalar, iman, dan pengabdian.

banner 325x300

Tujuannya mulia: *mencetak pemimpin yang berintelektual, beriman, dan berwatak pelayan*.
Semboyan kita tegas: *Pro Ecclesia et Patria* – Untuk Gereja dan Tanah Air.
Benang merah kita: *Fraternitas, Kristianitas, Intelektualitas*.

Selama 79 tahun Ia berjalan. Dari Kongres ke Kongres. Dari kota ke kota. Kita pernah berdebat sengit soal negara, soal kemiskinan, soal keadilan. Namun, kita tidak pernah saling memukul.

Kita dididik untuk bertarung dengan gagasan, bukan dengan otot.
Kita dididik untuk menjatuhkan argumen, bukan menjatuhkan sesama.

*Lalu mengapa di Ruteng, 24 Juli 2026, semua itu runtuh?*

*1. DARAH DI ATAS NASKAH KEPUTUSAN*
Seharusnya hari itu adalah hari pesta gagasan.
Seharusnya kursi-kursi di aula kongres hanya dipakai untuk duduk, berdebat, dan bersepakat.
Seharusnya darah tidak menetes di atas naskah keputusan.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
*Ketua Presidium PMKRI Cabang Jakarta Pusat, Yohanes Jonianus Taek, jatuh bersimbah darah.* Lima jahitan di dahi. Bukan karena kecelakaan. Namun karena dipukul dan dihantam kursi oleh sesama kader.

Di saat ia berdiri untuk menawarkan solusi, yang datang justru amarah.
*Di saat forum butuh Fraternitas, yang hadir justru tinju*.
Di saat kita mengumandang
kan Intelektualitas, yang bicara justru kekerasan.

Video itu viral. Kursi terbang. Teriakan. Saling dorong.
Dan di tengah itu semua, marwah PMKRI ikut tergeletak di lantai.

*2. INI BUKAN KERIBUTAN. INI JALAN BUNTU KADERISASI*
Mari jujur dan merendahkan diri.

Kericuhan di Ruteng adalah bukti bahwa anggota PMKRI sudah sampai di jalan buntu.
Jalan buntu karena gagal mendidik diri sendiri.

Gagal menanamkan bahwa *berbeda pendapat bukan berarti harus berbeda darah*.
Gagal menjelaskan bahwa *Kongres adalah ruang ziarah intelektual, bukan medan tawuran*.
Gagal mewariskan bahwa *PMKRI lahir dari Kampus dan Gereja, bukan dari premanisme*.

Ketika seorang Ketua Presidium Cabang Pendiri bisa dikeroyok di forum tertinggi, itu artinya “Tiga Benang Merah” hanya tinggal hiasan di baju.

*Sibuk melatih orasi tetapi lupa melatih pengendalian diri*.
*Kita sibuk melatih lobby tetapi lupa melatih hati*.
Kita sibuk berebut kursi Presidium tetapi lupa bahwa kursi itu untuk mengabdi, bukan untuk saling melempar.

*Otot yang berbicara tanpa bobot. Amarah yang berteriak tanpa arah.*
Itulah wajah peserta kongres PMKRI di Ruteng dan itu memalukan.

*3. LUKA DI DAHI, LUKA DI MARWAH*
Darah yang keluar dari dahi Yohanes di Ruteng, adalah darah kita semua.
Itu darah PMKRI yang sedang sekarat.

*Bagaimana kita akan bicara tentang keadilan sosial, jika di rumah sendiri kita tidak adil?*
*Bagaimana kita akan bicara tentang peradaban, jika di forum tertinggi kita beradab seperti preman?*
*Bagaimana kita akan memimpin Indonesia, jika memimpin diri sendiri saja kita gagal?*

Anak SMP sudah melihat. Dosen sudah melihat.
Masyarakat sudah melihat. Gereja sudah melihat. Negarapun sudah melihat.
Dan mereka bertanya lirih: “Ini kah kader kader PMKRI untuk pemimpin masa depan?”_

Sakit, Pak. Sangat sakit.

*4. JALAN PULANG: TOBAT ORGANISASI*
Mencaci tidak menyembuhkan. Yang kita butuh adalah tobat.

*5 Langkah Mendesak untuk PMKRI:*

1. *Revolusi Kaderisasi*
Mapaba sampai Kader Lanjut wajib ada kurikulum: _Manajemen Konflik, Etika Berorganisasi, Spiritualitas PMKRI_. Lulus bukan karena hafal AD/ART, tetapi karena sikapnya teruji.
2. *Dewan Kehormatan Kongres yang Gigit*
Harus ada wasit yang berani skorsing, mencabut mandat, dan memproses hukum pelaku kekerasan. Tanpa pandang bulu.
3. *Rekonsiliasi Nasional*
Presidium Pusat fasilitasi Jakarta Pusat, Kupang, Kefa duduk bersama. Saling maaf. Tandatangani “Ikrar Anti Kekerasan”.
4. *Kembalikan Kongres pada Gagasan*
Latih delegasi bertarung dengan data, jurnal, dan argumen. Jika marah, lawan dengan doa. Jika tidak setuju, lawan dengan tulisan.
5. *Panggil Pulang Alumni dan Gereja*
Jangan jalan sendiri. Libatkan senior, Romo Pembina, Uskup. Ingatkan kita dari mana kita berasal dan untuk apa kita ada.

*PENUTUP: JANGAN BIARKAN DARAH INI SIA-SIA*
Pak Yohanes, 5 jahitan di dahi Bapak, semoga jadi 5 cambuk bagi kita semua.

PMKRI tidak boleh mati karena dibunuh anaknya sendiri.
PMKRI harus bangkit, bukan karena takut malu, tetapi karena malu pada cita-citanya.

*Kongres boleh ricuh. Tetapi idealisme jangan ikut ricuh.*
*Kursi boleh dilempar. Tetapi semangat PMKRI jangan ikut jatuh.*

Mari pulang. Pulang ke meja diskusi.
Karena jika bukan kita yang dewasa, lalu siapa lagi?

Teras Batin Oebufu, 26 Juli 2026

*Catatan*: Data peristiwa merujuk laporan http://POS-KUPANG.COM, 26 Juli 2026 & Siaran Pers DPC PMKRI Jakarta Pusat.

banner 325x300
error: Content is protected !!