banner 728x250

Kadis Parekraf TTU Kristo Abi: Bonet Masal Menjadi Ikhtiar Menghidupkan Kembali Identitas Budaya TTU

Ratusan Penari Goyang Bonet di HUT ke-104 Kota Kefamenanu, “Boen Leko Pah TTU” Menggema

banner 120x600
banner 468x60

KEFAMENANU,Radar Perbatasan — Peringatan Hari Ulang Tahun ke-104 Kota Kefamenanu, Kota BERADAT, pada 22 September 2026, menghadirkan sebuah momentum budaya yang berbeda. Untuk pertama kalinya, tarian Bonet masal ditampilkan dengan melibatkan ratusan penari dari berbagai kalangan sebagai bagian dari kemeriahan hari jadi kota tercinta tersebut.


Gagasan itu datang dari Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kristoforus  Abi,S.Sos,M.Si yang melihat Bonet bukan sekadar tarian tradisional, melainkan sebagai ruang untuk menghidupkan kembali identitas, kebersamaan, dan kebanggaan budaya masyarakat TTU.

banner 325x300

Dengan iringan lagu “Boen Leko Pah TTU” yang diaransemen oleh Yohanes Gabriel Amsikan, S.Fil., M.Hum., tarian Bonet yang telah dimodifikasi oleh seniman daerah Bitan, pimpinan Sanggar Sandlewood Timor,yang melibatkan para pelajar SMA sekota Kefamenanu dan SMPK St.Antonius Fides Sas,itampil memukau di hadapan para undangan dan masyarakat yang hadir dalam rangkaian peringatan HUT ke-104 Kota Kefamenanu.

Bonet pun tidak hanya menjadi tontonan. Ia dihadirkan sebagai gerakan kebudayaan—sebuah ajakan agar masyarakat TTU kembali mengenali, mencintai, dan menggunakan kekayaan budaya sendiri dalam berbagai momentum kehidupan.

“Kita Harus Punya Tarian yang Berasal dari Tanah Kita Sendiri”

Dalam keterangannya, Kristo Abi menyampaikan bahwa gagasan menghadirkan Bonet masal berangkat dari kegelisahan sekaligus kecintaan terhadap budaya daerah.

“Sebagai orang pariwisata, saya merasa sangat penting dilakukan sebuah aksi nyata untuk melestarikan budaya daerah kita, Timor Tengah Utara,” ungkap Kristo Abi.

Menurutnya, dalam berbagai acara suka cita masyarakat, seperti pesta pernikahan, ulang tahun maupun penyambutan tamu, masyarakat sering menggunakan berbagai tarian dari luar daerah sebagai hiburan pembuka.

Sementara itu, daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur telah berhasil memperkenalkan tarian khas mereka ke ruang publik yang lebih luas.

Karena itu, menurut Kristo, TTU juga perlu memiliki sebuah tarian yang berakar kuat pada identitas budaya sendiri, tetapi tetap dapat diterima oleh berbagai generasi.

“Saya merasa perlu diciptakan sebuah tarian Bonet asal TTU yang bisa diminati oleh seluruh lapisan masyarakat daerah, baik orang tua, anak-anak, remaja dan dewasa, laki-laki maupun perempuan,” katanya.

Dari gagasan itulah Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif TTU kemudian berkolaborasi dengan sejumlah seniman daerah serta guru-guru kesenian SMA/SMK se-Kota Kefamenanu untuk merancang musik dan gerakan Bonet yang lebih mudah dipelajari dan ditampilkan secara massal.

Dari Tradisi, Menjadi Gerakan Bersama
Bonet dalam pertunjukan kali ini mengalami sentuhan kreatif dari Bitan, seniman yang disebut Kristo telah berpengalaman dan dikenal tidak hanya di Kefamenanu, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional.

Hasilnya terlihat ketika ratusan penari bergerak dalam satu irama. Perbedaan usia, latar belakang dan kelompok seolah melebur dalam lingkaran Bonet.

Di situlah Bonet menemukan makna terdalamnya: orang-orang bergerak bersama, mengikuti irama yang sama, dan membangun rasa memiliki terhadap tanah kelahirannya.

Gagasan tersebut sejalan dengan filosofi Boen Leko TTU—Salu Meomaof Kuluan Maubes, yang menekankan persaudaraan dan kebersamaan masyarakat TTU sebagai satu keluarga besar.

Dalam sinopsis karya yang ditulis Yohanes Amsikan, Boen Leko TTU digambarkan sebagai kekayaan budaya yang lahir dari rahim Kabupaten Timor Tengah Utara, sekaligus pesan persaudaraan bahwa masyarakat TTU,baik yang berada di Biboki, Insana maupun Miomaffo, pada hakikatnya adalah saudara satu sama lain—“olif-tataf.”

 

Pesan itu kemudian dipertegas melalui ungkapan budaya:
“Nekaf mese, ansao mese, kaisa tma­bet, ma kaisa tmaboa.”

Sebuah ajakan agar masyarakat tetap sehati, saling menghargai dan tidak terjebak dalam sikap membeda-bedakan.

Apresiasi untuk Para Penggerak Budaya
Kristo Abi secara khusus menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam lahirnya pertunjukan Bonet masal tersebut.

Ia mengucapkan terima kasih kepada Yohanes Gabriel Amsikan, S.Fil., M.Hum. atas aransemen lagu daerah Boen Leko Pah TTU, Bitan dan seluruh anggota Sanggar Sandlewood Timor, para guru kesenian SMA/SMK se-Kota Kefamenanu, siswa-siswi SMA/SMK, siswa-siswi SMP Fides, serta seluruh staf Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif TTU.

Apresiasi juga disampaikan kepada Panitia HUT ke-104 Kota Kefamenanu atas kerja sama dalam menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.

Lebih dari sekadar pertunjukan pada sebuah perayaan, Bonet masal ini menjadi sebuah pertanyaan sekaligus tantangan kebudayaan: apakah masyarakat TTU mau menjadikan budaya daerahnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai pertunjukan ketika ada seremoni?

Kristo berharap Bonet dapat terus berkembang dan digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat.

“Dirgahayu Kota Kefamenanu, Kota BERADAT. Semoga TTU semakin maju dan sejahtera,” tutupnya.

Dari Kefamenanu, Bonet kembali berputar.
Bukan sekadar kaki yang bergerak, tetapi ingatan tentang tanah leluhur yang sedang dibangunkan kembali.

Bonet bukan hanya tarian. Bonet adalah lingkaran persaudaraan—ketika satu bergerak, semua ikut bergerak; ketika satu menjaga budaya, seluruh generasi ikut menjaganya.

 

Vinsentius Sintu Lopes (Jurnalis)

banner 325x300
error: Content is protected !!