ATAMBUA, RADAR PERBATASAN – Pencegahan perdagangan orang tidak akan efektif jika aktivis hanya datang ke desa untuk berceramah dan mengumpulkan kisah pilu korban. Para pelatih justru harus mampu membongkar fakta kehidupan keluarga, menemukan akar persoalan, dan membantu masyarakat merumuskan solusi yang dapat dijalankan bersama.
Pesan tegas ini disampaikan Pater Agus Alfons Duka, SVD, Ketua VIVAT Indonesia, dalam pembekalan bagi 35 pelatih baru lintas agama pada kegiatan Training of Trainers (TOT) Pencegahan Human Trafficking Berbasis Gender Transformative Approach di Susteran SSPS Atambua, Kabupaten Belu, Kamis (15/10/2026).
Dalam sesi pukul 10.25–10.48 WITA, Pater Agus menekankan bahwa keberhasilan pendampingan tidak ditentukan oleh seberapa banyak teori yang disampaikan fasilitator, tetapi oleh kemampuan masyarakat memahami persoalan mereka sendiri dan menemukan jalan keluar yang sesuai dengan kondisi setempat.
Pesan tersebut dirangkum Pater Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor, sebagai catatan terarah bagi peserta agar tidak kembali ke basis hanya membawa pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis untuk bekerja bersama masyarakat.
Bongkar Fakta, Jangan Berhenti pada Cerita Sedih
Salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki pelatih adalah kemampuan menganalisis persoalan secara menyeluruh.
Ketika mendampingi keluarga yang rentan terhadap perdagangan orang, pelatih tidak cukup hanya menanyakan apakah ada kasus human trafficking. Mereka perlu menggali fakta kehidupan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi, utang keluarga, tuntutan belis, pendidikan anak, serta pihak yang mengendalikan keuangan dan mengambil keputusan.
Fakta-fakta tersebut kemudian dihubungkan untuk menemukan pola dan akar masalah.
Materi itu memberikan contoh hubungan antara belis yang mahal, utang kepada rentenir, keterbatasan ekonomi, keberangkatan anak perempuan melalui jalur nonprosedural, hingga risiko menjadi korban perdagangan orang.
Ketimpangan kuasa dalam keluarga juga perlu dianalisis. Ketika seorang ibu tidak memiliki kendali atas pendapatan keluarga dan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, kemampuannya menolak tawaran perekrutan berisiko dapat semakin terbatas.
Dengan menghubungkan berbagai fakta tersebut, pelatih diharapkan mampu merumuskan kesimpulan yang lebih tajam. Persoalan migrasi, misalnya, tidak selalu cukup dijelaskan sebagai keinginan bekerja di luar negeri. Ada kemungkinan persoalan itu berkaitan dengan tekanan utang, tuntutan sosial, ketimpangan ekonomi, dan relasi kuasa yang tidak setara.
Intinya, pelatih harus mampu menjelaskan mengapa sebuah keluarga menjadi rentan, bukan hanya menceritakan bahwa keluarga tersebut sedang mengalami kesulitan.
Masyarakat Bukan Objek Ceramah
Poin kedua menekankan perubahan peran aktivis dari penceramah menjadi fasilitator.
Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai pendengar pasif. Mereka justru menjadi pihak utama yang menggali pengalaman, mengenali persoalan, dan merumuskan perubahan yang dibutuhkan.
Untuk itu, kegiatan di desa perlu dibagi secara jelas. Ada pembawa acara yang menjaga dinamika pertemuan, fasilitator yang mengarahkan diskusi, serta penjaga waktu agar pembicaraan tidak didominasi segelintir orang.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada perempuan agar mereka memperoleh kesempatan berbicara yang setara.
Pertanyaan yang diajukan pun sebaiknya berangkat dari kehidupan sehari-hari, bukan langsung menghakimi atau menanyakan persoalan perdagangan orang.
Misalnya, siapa yang bangun paling pagi dan tidur paling malam? Siapa yang mengelola uang hasil penjualan hasil kebun? Siapa yang mengambil keputusan ketika keluarga menghadapi masalah besar? Apakah ibu dan anak perempuan merasa bahagia dalam keluarga?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka ruang refleksi mengenai pembagian kerja, pengelolaan ekonomi, dan relasi kuasa di dalam rumah tangga.
Melalui proses itu, masyarakat diharapkan menemukan sendiri ketimpangan yang selama ini dianggap biasa. Fasilitator tidak datang untuk memaksakan kesimpulan, melainkan membantu warga melihat hubungan antara pengalaman sehari-hari dan risiko eksploitasi.
Dari Keluarga Bahagia ke Risiko Perdagangan Orang
Materi TOT juga memberikan alur kerja yang dapat digunakan pelatih ketika turun ke basis.
Proses dimulai dengan membangun suasana akrab dan mengajak warga mendefinisikan keluarga bahagia. Setelah itu, fasilitator menggali berbagai hambatan yang membuat keluarga sulit mencapai kebahagiaan.
Ketika warga menyebut kemiskinan, diskusi dilanjutkan untuk menelusuri faktor penyebabnya, seperti utang, belis, biaya pesta adat, dan pinjaman berbunga tinggi.
Dari sana, fasilitator membantu masyarakat menghubungkan tekanan ekonomi dengan pilihan migrasi yang berisiko. Kebutuhan uang yang mendesak dapat membuat keluarga tergoda menerima tawaran calo tanpa pemeriksaan memadai atau menempuh jalur keberangkatan yang tidak sesuai prosedur.
Alur refleksi tersebut dirangkum dalam hubungan berikut:
Keluarga bahagia → tekanan ekonomi → utang dan tuntutan sosial → migrasi nonprosedural → risiko perdagangan orang → solusi bersama.
Rangkaian itu bukan kesimpulan bahwa setiap keluarga miskin atau setiap orang yang bermigrasi nonprosedural pasti menjadi korban perdagangan orang. Sebaliknya, alur tersebut menjadi alat untuk membantu masyarakat mengenali faktor kerentanan yang perlu dicegah.
Diskusi juga diarahkan untuk melihat dampak lanjutan dari tekanan ekonomi dan ketidakadilan dalam keluarga, termasuk potensi konflik rumah tangga dan kekerasan yang dapat diwariskan antargenerasi.
Dengan demikian, pencegahan TPPO tidak berhenti pada persoalan keberangkatan pekerja migran, tetapi menyentuh kondisi keluarga dan lingkungan sosial yang memengaruhi keputusan mereka.
Solusi Harus Lahir dari Masyarakat
Setelah akar masalah ditemukan, fasilitator mengajak warga merumuskan langkah perbaikan yang realistis.
Materi tersebut memberikan sejumlah contoh solusi, antara lain meninjau kembali tuntutan belis yang membebani keluarga, membangun koperasi, membagi tanggung jawab ekonomi secara lebih adil antara suami dan istri, serta mengoptimalkan lahan produktif untuk memperkuat penghasilan rumah tangga.
Namun, solusi tidak boleh sekadar dibawa oleh fasilitator dari luar. Masyarakat perlu dilibatkan dalam menentukan langkah yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan sumber daya mereka sendiri.
Pendekatan ini menempatkan warga sebagai pelaku perubahan, bukan penerima program semata. Ketika masyarakat memahami akar persoalannya dan ikut merancang penyelesaian, peluang untuk mempertahankan perubahan dalam jangka panjang diharapkan semakin besar.
Tiga Pesan untuk 35 Pelatih Baru
Catatan yang disusun Pater Domi K. Dheo, SVD, menegaskan tiga keterampilan utama yang harus dibawa peserta ketika kembali ke basis.
Pertama, mengumpulkan fakta dan menghubungkannya untuk menemukan akar persoalan, bukan hanya menghimpun cerita sedih.
Kedua, menjadi fasilitator yang membuka ruang bagi masyarakat untuk berbicara, berpikir kritis, dan menemukan jawaban mereka sendiri.
Ketiga, menjaga agar proses pendampingan tetap berfokus pada hubungan antara kesejahteraan keluarga, ketidakadilan gender, tekanan ekonomi, migrasi berisiko, dan pencegahan perdagangan orang hingga lahir solusi bersama.
Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas 35 pelatih baru lintas agama agar mampu menerapkan pendekatan transformatif gender dalam pendampingan masyarakat.
Pesan akhirnya jelas: keberhasilan pelatihan tidak diukur dari banyaknya materi yang dikuasai atau panjangnya ceramah di desa, melainkan dari kemampuan pelatih membantu warga mengenali masalah, mengubah relasi yang tidak adil, dan membangun alternatif kehidupan yang lebih aman.
Melawan perdagangan orang berarti membongkar akar kerentanannya. Dan pekerjaan itu harus dimulai dengan mendengarkan, menghubungkan fakta, serta membiarkan masyarakat menjadi bagian utama dari perubahan.
Boni Atolan

















