ATAMBUA, RADAR PERBATASAN — Perdagangan orang tidak tumbuh hanya karena kemiskinan. Kejahatan ini juga menemukan ruang dalam utang keluarga, tekanan adat, janji manis calo, ketidakadilan gender, hingga ukuran kebahagiaan yang keliru. Untuk memutus mata rantai tersebut, JPIC SVD Timor menyusun pendidikan pencegahan human trafficking melalui 10 tahapan yang saling terhubung, dari membangun kepercayaan antarpeserta hingga mendorong perubahan nyata dalam keluarga dan masyarakat.

Gagasan tersebut menjadi benang merah Training of Trainers (TOT) Pencegahan Human Trafficking Berbasis Gender Transformative Approach yang berlangsung di Aula Susteran SSPS Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), 14–17 Oktober 2026.
Pater Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor menegaskan bahwa seluruh materi pelatihan tidak boleh dipahami sebagai kumpulan topik yang berdiri sendiri. Setiap tahap harus terhubung agar peserta tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mampu memahami akar persoalan, mengubah cara pandang, dan mengambil keputusan yang melindungi martabat manusia.
“Jika satu link putus, kegiatan tidak transformatif. Jika semua link terhubung, maka peserta pulang bukan hanya dengan sertifikat, tapi dengan jalan baru,” demikian inti pesan dalam dokumen alur kegiatan TOT yang disampaikan Pater Domi.
Dari Membangun Kepercayaan hingga Membongkar Kejahatan
Tahap pertama dimulai bukan dengan ceramah tentang perdagangan orang, melainkan dengan perkenalan, membangun kontak, dan menyepakati agenda bersama.
Menurut rancangan pelatihan tersebut, peserta perlu membangun kepercayaan terlebih dahulu agar mampu berbicara terbuka tentang pengalaman, ketakutan, dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Perbedaan agama dan latar belakang tidak boleh menjadi penghalang dalam membangun solidaritas kemanusiaan.
Setelah ruang dialog terbentuk, peserta diajak memahami human trafficking sebagai kejahatan yang merendahkan manusia menjadi komoditas. Pembahasannya menggunakan tiga unsur utama, yakni proses, cara, dan tujuan, untuk membantu peserta mengenali bagaimana perdagangan orang dapat terjadi.
Namun, mengenali kejahatan saja tidak cukup. Peserta kemudian diajak bertanya mengapa masyarakat tetap rentan menjadi korban, meskipun migrasi berisiko dan berbagai bentuk eksploitasi telah banyak diberitakan.
Pertanyaan itu membawa pelatihan pada persoalan kemiskinan dan tekanan sosial yang dihadapi keluarga.
Kemiskinan, Utang, dan Migrasi Berisiko
Pater Domi mengajak peserta melihat kemiskinan secara lebih mendalam, bukan sekadar sebagai persoalan kurangnya uang atau rendahnya pendapatan.
Dalam materi tersebut, sejumlah tekanan sosial dan ekonomi diangkat sebagai persoalan yang perlu dikritisi bersama, antara lain belis yang mahal, tuntutan pesta adat dan pernikahan yang mewah, utang kepada rentenir, lahan yang tidak produktif, serta keterbatasan akses air.
Tekanan tersebut dapat memperbesar beban ekonomi keluarga. Ketika kebutuhan hidup dan tuntutan sosial tidak seimbang dengan kemampuan ekonomi, migrasi kerap dipandang sebagai jalan keluar tercepat.
Di sinilah risiko perdagangan orang dapat masuk melalui tawaran pekerjaan yang menjanjikan penghasilan besar, tetapi tidak selalu disertai informasi yang benar dan perlindungan memadai.
Pater Domi mengingatkan bahwa dampak migrasi bermasalah tidak hanya dialami orang yang berangkat. Keluarga yang ditinggalkan juga dapat menghadapi persoalan relasi, pengasuhan anak, tekanan sosial, dan beban utang.
Karena itu, pencegahan perdagangan orang perlu menyentuh kondisi yang membuat masyarakat rentan mengambil keputusan berisiko, bukan hanya memberikan peringatan setelah korban muncul.
Melawan Janji Manis Calo dengan Prinsip Saring Sebelum Sharing
Salah satu mata rantai penting dalam pelatihan adalah membangun kemampuan masyarakat untuk memeriksa informasi sebelum mengambil keputusan atau meneruskannya kepada orang lain.
Pater Domi menyoroti bagaimana janji gaji tinggi, pekerjaan ringan, dan kehidupan yang lebih baik dapat digunakan untuk memengaruhi calon pekerja migran. Informasi yang belum terverifikasi bisa menyebar dari satu orang ke orang lain hingga akhirnya dianggap benar.
Untuk melawannya, peserta diajak menerapkan prinsip “Saring Sebelum Sharing”, yakni berhenti sejenak, mengamati sumber informasi, mengajukan pertanyaan kritis, memeriksa ketentuan melalui jalur resmi seperti BP3MI, dan menilai keputusan bersama keluarga.
Pelatihan juga menekankan sikap asertif, yaitu kemampuan menolak tawaran yang meragukan secara tenang, jelas, dan tegas.
Dengan keterampilan tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan tekanan, rasa malu, atau janji keberhasilan yang belum terbukti.
Ketidakadilan Gender Membuat Perempuan Lebih Rentan
Setelah membahas kemiskinan dan migrasi, pelatihan bergerak ke persoalan yang dinilai lebih mendasar: relasi kuasa yang tidak setara.
Dalam materi Pater Domi, ketidakadilan gender dibahas melalui lima bentuk persoalan, yakni peminggiran ekonomi, penomorduaan perempuan, pelabelan yang merendahkan, budaya patriarki, serta kesenjangan akses pendidikan dan hukum.
Persoalan tersebut dapat membatasi kemampuan perempuan untuk menentukan pilihan hidup, mengakses sumber daya, menyampaikan pendapat, dan menolak keputusan yang merugikan dirinya.
Dalam kondisi demikian, perempuan berisiko semakin rentan terhadap perekrutan eksploitatif, terutama ketika tekanan ekonomi bertemu dengan relasi keluarga yang tidak adil.
Pater Domi mengajak peserta mengkritisi kebiasaan dan struktur sosial yang membatasi suara perempuan. Upaya pencegahan perdagangan orang, menurut kerangka pelatihan ini, harus berjalan bersama perubahan relasi dalam keluarga dan masyarakat agar perempuan memiliki ruang yang setara untuk mengambil keputusan.
Dari Luka Tubuh hingga Pemulihan Martabat Manusia
Tahap berikutnya membahas kesehatan seksual dan reproduksi serta dampak kekerasan yang dapat dialami korban perdagangan orang.
Materi tersebut menyoroti risiko kekerasan seksual, infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, serta dampak fisik dan psikologis lainnya. Peserta diajak memahami pentingnya perlindungan tubuh, akses terhadap informasi kesehatan, dan penghormatan terhadap martabat korban.
Pembahasan kemudian memasuki dimensi spiritual melalui tema cinta Tuhan kepada umat-Nya.
Pater Domi mengajak peserta melihat bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, keberhasilan bekerja di luar negeri, kondisi tubuh, maupun penilaian masyarakat. Seseorang yang pulang tanpa uang, mengalami kekerasan, atau mendapat stigma tetap memiliki martabat yang tidak boleh dirampas.
Dalam refleksi iman yang digunakan selama pelatihan, manusia dipandang sebagai Citra Allah. Karena itu, membela korban bukan sekadar tindakan belas kasihan, melainkan penghormatan terhadap nilai intrinsik setiap manusia.
Pendekatan ini penting agar korban tidak kembali mengalami kekerasan melalui stigma, penghakiman, atau perlakuan yang menyalahkan mereka atas penderitaan yang dialami.
Mengubah Ukuran Bahagia agar Tidak Terjebak dalam Lingkaran Utang
Pelatihan juga mengajak peserta memaknai ulang kebahagiaan.
Pater Domi mengkritik ukuran keberhasilan yang hanya bertumpu pada uang banyak, belis mahal, pesta mewah, kendaraan baru, atau rumah yang terlihat megah. Ketika standar tersebut menjadi tekanan sosial, keluarga dapat terdorong mengeluarkan uang di luar kemampuan hingga terjerat utang.
Dalam materi TOT, kebahagiaan ditawarkan melalui ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga yang saling menghormati, pembagian peran yang adil, anak-anak yang dapat bersekolah, lahan yang produktif, kehidupan tanpa kekerasan dalam rumah tangga, serta kesempatan berdoa dan hidup bersama tanpa terus dibayangi kecemasan utang.
Pesan ini menghubungkan pencegahan perdagangan orang dengan perubahan cara pandang terhadap keberhasilan hidup.
Masyarakat tidak cukup hanya diminta menolak tawaran kerja yang mencurigakan. Mereka juga perlu membangun pilihan ekonomi dan sosial yang memungkinkan keluarga hidup bermartabat tanpa harus mempertaruhkan keselamatan melalui jalur migrasi yang berbahaya.
Tahap Terakhir: Pilihan Mengubah Nasib
Seluruh rangkaian akhirnya bermuara pada tahap kesepuluh, yakni membuat pilihan untuk mengubah kehidupan dan memastikan perubahan itu berlanjut setelah pelatihan selesai.
Peserta diajak membawa pulang komitmen konkret: meninggalkan tuntutan kemewahan yang membebani keluarga, membangun relasi yang setara, memeriksa informasi sebelum membagikannya, serta mengembangkan kegiatan ekonomi keluarga sesuai potensi dan kemampuan yang tersedia.
Salah satu contoh yang diangkat dalam materi adalah pengolahan lahan untuk bank pakan ternak secara bersama-sama, disertai gagasan membangun koperasi keluarga. Inisiatif tersebut ditawarkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi rumah tangga, bukan sebagai jaminan bahwa semua risiko migrasi dapat dihilangkan.
Para pelatih juga diharapkan kembali ke komunitas masing-masing bukan sekadar sebagai penceramah, melainkan sebagai fasilitator yang membantu masyarakat mengenali hubungan antara kemiskinan, tekanan sosial, ketidakadilan gender, informasi menyesatkan, dan kerentanan terhadap perdagangan orang.
Pater Domi menekankan bahwa perubahan perlu dimulai dari kehidupan sehari-hari, termasuk dari cara keluarga mengelola uang, membagi tanggung jawab, menghormati suara perempuan, dan menentukan masa depan anak-anak.
Pencegahan Tidak Berhenti di Ruang Pelatihan
Sepuluh tahapan yang dirancang JPIC SVD Timor membentuk satu alur pendidikan yang saling berkaitan: membangun kepercayaan, mengenali perdagangan orang, menggali akar kemiskinan, memahami risiko migrasi, menyaring informasi, membongkar ketidakadilan gender, melindungi kesehatan reproduksi, memulihkan martabat melalui refleksi iman, memaknai ulang kebahagiaan, dan mengambil pilihan untuk berubah.
Kekuatan pendekatan ini terletak pada upayanya menghubungkan pencegahan kejahatan dengan perubahan sosial, ekonomi, keluarga, dan spiritualitas.
Meski demikian, pilihan individu perlu ditopang lingkungan yang memungkinkan perubahan berlangsung. Akses terhadap pekerjaan yang layak, informasi migrasi yang benar, perlindungan hukum, layanan bagi korban, serta dukungan pemerintah dan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan perdagangan orang.
Sebab, beban untuk menghentikan human trafficking tidak boleh diletakkan hanya di pundak calon migran atau keluarga yang rentan. Tanggung jawab juga berada pada pihak-pihak yang merekrut, mengeksploitasi, dan mengambil keuntungan dari kerentanan manusia, serta lembaga yang berkewajiban melindungi masyarakat.
Dari Aula Susteran SSPS Atambua, JPIC SVD Timor membawa satu pesan utama: memutus perdagangan orang berarti mengubah kondisi yang membuat manusia mudah dieksploitasi sekaligus memperkuat keberanian masyarakat untuk memilih kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.
Pelatihan baru mencapai tujuannya ketika pengetahuan berubah menjadi tindakan, tindakan tumbuh menjadi kebiasaan, dan kebiasaan melahirkan lingkungan yang tidak lagi memberi ruang bagi eksploitasi manusia. *

















