Renungan JPIC SVD Timor: Antara Kesibukan Profetik dan Keheningan Mistik
SOERDI OEBUFU, 6 Oktober 2026 — Seorang pejuang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan (JPIC) tidak cukup hanya memiliki kaki yang kuat untuk berjalan menemui persoalan masyarakat. Ia juga membutuhkan hati yang hening untuk mendengarkan Sabda Tuhan sebelum menentukan ke mana langkah perjuangannya diarahkan.
Pesan itu menjadi inti Renungan Jiwa – Untuk Keseimbangan Pejuang JPIC yang disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Berangkat dari Injil Lukas 10:38-42 tentang Marta dan Maria, P. Domi mengajak para pejuang JPIC di seluruh wilayah Provinsi SVD Timor menemukan kembali keseimbangan antara aksi dan kontemplasi.
Jika sehari sebelumnya umat diajak Yesus untuk pergi dan berbuat seperti Orang Samaria yang Baik Hati, maka melalui kisah Marta dan Maria, Yesus seakan mengajak para murid berhenti sejenak, duduk dan mendengarkan.
“Satu tarikan adalah AKSI, satu hembusan adalah KONTEMPLASI. Jika hanya satu yang kita lakukan, kita akan mati,” demikian inti refleksi tersebut.
Marta dan Maria: Dua Wajah dalam Satu Pejuang
Dalam refleksi itu, Marta dan Maria tidak ditempatkan sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dipandang sebagai dua wajah yang seharusnya hadir dalam satu hati seorang pejuang JPIC.
Marta menggambarkan wajah profetik: bergerak, bekerja dan melayani.
Ia adalah gambaran pejuang JPIC yang turun langsung ke lapangan—mengurus pemberdayaan masyarakat, melakukan survei, mendampingi kelompok rentan, memperjuangkan hak-hak masyarakat, mengadvokasi persoalan migran, hingga terlibat dalam berbagai program sosial.
“Tanpa Marta, tidak ada yang terjadi. Tanpa Marta, misi tidak berjalan,” demikian refleksi tersebut.
Namun, kesibukan itu dapat berubah menjadi jebakan ketika seorang pejuang terlalu sibuk bekerja untuk Tuhan sampai tidak lagi menyediakan waktu untuk mendengarkan Tuhan.
Marta bahkan akhirnya mengeluh kepada Yesus: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli?”
Pertanyaan itu menjadi cermin bagi para pejuang JPIC.
Apakah kesibukan dalam pelayanan pernah membuat seseorang merasa tidak dibantu? Apakah perjuangan menghadapi ketidakadilan justru membuat hati mudah marah kepada Tuhan, konfrater ataupun masyarakat?
Jika hal itu terjadi, menurut refleksi P. Domi, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali: keseimbangan antara aktivitas dan kehidupan batin.
JPIC Bukan Sekadar Aktivisme
Maria menghadirkan wajah yang lain.
Ia duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Sabda-Nya. Secara kasat mata, Maria tampak tidak melakukan banyak aktivitas. Namun, ia sedang melakukan sesuatu yang sangat mendasar: membangun kontak sadar dengan Tuhan dan Sabda-Nya.
Di sinilah letak perbedaan spiritualitas JPIC dengan aktivisme biasa.
Politisi dapat berjuang dengan data dan strategi. Lembaga swadaya masyarakat dapat bergerak melalui isu dan advokasi. Namun seorang pejuang JPIC, menurut refleksi tersebut, harus berangkat dari Sabda yang didengar, direnungkan dan diwujudkan dalam tindakan.
Sebab, tanpa keheningan dan doa, seorang pejuang dapat terjebak dalam kesibukan tanpa arah.
“Sangat mudah bagi kita untuk menjadi sangat sibuk, tetapi apakah kita sibuk dengan hal-hal yang benar?”
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu tantangan penting bagi para pejuang JPIC.
Sebab, pembangunan, pemberdayaan maupun advokasi tidak boleh hanya dilihat dari apa yang dapat dikerjakan, tetapi juga harus diuji melalui pertanyaan moral dan spiritual: untuk siapa perjuangan itu dilakukan? Siapa yang mendapatkan manfaat? Dan apakah jalan yang ditempuh sungguh berpihak kepada kehidupan?
Kontemplatif dalam Tindakan
Marta dan Maria akhirnya bertemu dalam diri Yesus sendiri.
Yesus bukan hanya pribadi yang berdoa dalam keheningan, tetapi juga Pribadi yang turun ke tengah penderitaan manusia.
Ia hadir di jalan, menyentuh luka, membalut penderitaan dan memulihkan kehidupan. Namun, sebelum mengambil keputusan-keputusan penting, Yesus juga mencari tempat sunyi untuk berjumpa dengan Bapa.
Inilah pola yang dalam tradisi spiritualitas dikenal sebagai “kontemplatif dalam tindakan.”
Tindakan bagi sesama harus lahir dari doa dan kontemplasi. Sebaliknya, doa yang benar harus membawa seseorang kembali kepada kenyataan hidup manusia.
Tanpa kontemplasi, tindakan dapat berubah menjadi aktivisme kosong: mudah lelah, mudah terbakar emosi, cepat kecewa dan akhirnya mengalami kejenuhan.
Sebaliknya, kontemplasi tanpa tindakan dapat berubah menjadi spiritualitas yang nyaman tetapi tidak peka terhadap penderitaan di sekitarnya.
Karena itu, seorang pejuang JPIC harus membangun ritme:
Dari kapel ke lahan, dan dari lahan kembali ke kapel.
Dari kapel ke kampus, dan dari kampus kembali ke kapel.
Masalah kemanusiaan dibawa ke dalam doa. Buah doa kemudian dibawa kembali ke tengah persoalan kemanusiaan.
Menguji Diri: Apakah Kita Masih Mendengarkan?
P. Domi mengajak para pejuang JPIC melakukan pemeriksaan batin secara jujur.
Jika seseorang mulai berkata, “Saya tidak punya waktu untuk berdoa atau kontemplasi setiap hari,” maka pertanyaan yang lebih mendalam perlu diajukan: apakah kesibukan pelayanan justru telah mengambil tempat Tuhan dalam kehidupan kita?
Ada beberapa pertanyaan sederhana yang layak direnungkan:
- Berapa menit hari ini kita duduk seperti Maria sebelum sibuk seperti Marta?
- Apakah advokasi kita lahir dari doa dan adorasi, atau hanya dari percakapan dan perdebatan di media sosial?
- Apakah kemarahan kita terhadap ketidakadilan lahir dari Sabda Allah yang direnungkan, atau hanya dari emosi sesaat?
Sebab, Marta yang tidak pernah belajar menjadi Maria dapat berubah menjadi aktivis yang pahit.
Sebaliknya, Maria yang tidak pernah belajar menjadi Marta dapat menjadi pribadi yang mandul dalam tindakan.
Tetapi Marta yang belajar duduk seperti Maria akan menjadi pejuang yang berbeda: tetap sibuk, tetapi damai; tetap berjuang, tetapi tidak kehilangan akar spiritualnya; tetap berani bersuara, tetapi tidak kehilangan kepekaan untuk mendengarkan.
Jangan Hanya Menjadi Kaki yang Berlari
Karena itu, pesan Injil hari ini bukanlah ajakan kepada Marta untuk berhenti melayani.
Yesus mengajaknya memilih bagian yang terbaik—mendengarkan terlebih dahulu agar pelayanan tidak kehilangan arah.
Bagi para pejuang JPIC di seluruh wilayah Provinsi SVD Timor, pesan ini menjadi panggilan untuk menjaga keseimbangan antara kesibukan profetik dan keheningan mistik.
“Jangan hanya menjadi kaki yang berlari untuk keadilan. Jadilah juga telinga yang mendengar Sabda keadilan itu sendiri,” demikian pesan refleksi tersebut.
Pada akhirnya, perjuangan JPIC bukan sekadar tentang membangun proyek, menjalankan program atau memenangkan advokasi.
Perjuangan itu adalah usaha menyiapkan ruang bagi Tuhan untuk hadir di tengah kehidupan manusia.
Tuhan lebih menginginkan hati yang mendengarkan daripada tangan yang hanya sibuk.
Dari Betania, Marta dan Maria mengajarkan satu hal penting kepada setiap pejuang JPIC: berjuanglah dengan tangan, tetapi arahkan perjuangan itu dengan hati yang terlebih dahulu mendengarkan Tuhan.
Tuhan memberkati setiap perjuangan—antara Marta dan Maria.
Soverdi Oebufu, Selasa, 6 Oktober 2026
P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor

















