Radar Perbatasan, Bintan – Aula Kantor Bupati Bandar Seri Bentan, pada Rabu, 17 Desember 2025, dipenuhi semangat yang berbeda dari biasanya. Pemerintah Kabupaten Bintan melalui DP3KB memperingati Hari Ibu (PHI) ke-97 tingkat kabupaten dengan satu pesan utama yang lantang disuarakan: perempuan bukan pelengkap pembangunan, melainkan penggeraknya.
Mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”, peringatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus apresiasi atas perjalanan panjang perempuan Indonesia, dari masa perjuangan hingga hari ini, dari ruang domestik hingga ruang-ruang strategis pengambilan keputusan.
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Ibu bukanlah seremoni tahunan yang berhenti pada bunga dan ucapan manis. Lebih dari itu, Hari Ibu adalah momentum untuk mengingat kembali perjuangan perempuan Indonesia dalam merebut hak, kesetaraan, dan peran yang adil dalam pembangunan bangsa.
“Peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember bukan Mother’s Day seperti di budaya lain. Ini adalah penghormatan bangsa kepada perempuan Indonesia yang telah berjuang dan terus berkontribusi dalam berbagai peran, di keluarga, masyarakat, hingga negara,” ujar Roby.
Dia mengingatkan, sejarah Indonesia tak pernah sepi dari jejak perempuan tangguh. Nama-nama seperti R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, Rasuna Said, hingga Laksamana Malahayati menjadi bukti bahwa perempuan selalu hadir di garis depan perjuangan.
Tak hanya bicara sejarah, Roby juga memaparkan capaian konkret. Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Bintan tahun 2024 tercatat sebesar 94,05, meningkat dari tahun sebelumnya dan melampaui rata-rata nasional. Angka ini mencerminkan meningkatnya partisipasi perempuan dalam pembangunan, termasuk di ranah politik dan ekonomi.
“Di Bintan, kita punya Ketua DPRD perempuan, 10 anggota DPRD perempuan, tujuh pejabat eselon II perempuan, dan banyak perempuan di posisi strategis lainnya. Ini bukan sekadar angka, tapi bukti kepercayaan dan kapasitas,” tambahnya.
Menurut Roby, kemajuan perempuan adalah prasyarat mutlak kemajuan Indonesia. Dengan jumlah hampir setengah dari populasi, perempuan harus mendapat ruang, kesempatan, dan perlindungan yang setara. Karena itu, komitmen pengarusutamaan gender telah dituangkan dalam RPJMD Kabupaten Bintan 2025-2029, mulai dari peningkatan kualitas keluarga, pemberdayaan perempuan, hingga pemenuhan hak anak.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Bintan, Hafizha Rahmadhani Putri, mengajak hadirin menengok kembali akar sejarah Hari Ibu. Peringatan ini, katanya, berangkat dari Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta, sebuah tonggak persatuan perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Dia juga menyoroti peran ibu sebagai tugas mulia sekaligus paling berat: mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, hingga mendidik anak-anak agar kelak tumbuh mandiri dan berkarakter.
Rangkaian peringatan Hari Ibu ke-97 di Bintan pun tak berhenti pada seremoni. TP PKK bersama GOW, Dharma Wanita Persatuan, dan DP3KB menggelar berbagai kegiatan, mulai dari lomba 10 Program Pokok PKK, anjangsana ke SLB Tanjung Uban dan SLB Kijang, seminar ESQ, hingga penguatan kapasitas SDM dan organisasi.
Pada puncak acara, digelar seminar public speaking, pelatihan penampilan di depan umum dan table manner, penyerahan hadiah lomba, serta bantuan sembako bagi keluarga kurang mampu di Bintan Buyu.
Menutup rangkaian kegiatan, Hafizha menyampaikan harapan sederhana namun bermakna:
“Selamat Hari Ibu ke-97. Semoga perempuan Kabupaten Bintan semakin berdaya, tangguh, dan mampu memberi kontribusi nyata menuju Indonesia Emas 2045.”
Di Bintan, Hari Ibu dirayakan bukan dengan nostalgia semata, melainkan dengan keyakinan bahwa masa depan bangsa akan jauh lebih kuat jika perempuan terus diberi ruang untuk tumbuh dan berkarya.
Editor: Budi Adriansyah

















