PANYABUNGAN — Sejarah tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dipahami agar generasi muda mampu membaca perjalanan bangsa dan menjaga persatuan di tengah perubahan zaman.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Orasi Kebangsaan Ketua DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina), H. Erwin Efendi Lubis, S.H., saat kegiatan nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI di Alun-Alun Taman Kota Panyabungan, Rabu (30/9/2026).
Di hadapan ribuan warga, Erwin mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak mengalami “amnesia sejarah” dan tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta nilai-nilai Pancasila.
Menurut Erwin, pemutaran film sejarah tersebut semestinya ditempatkan sebagai momentum untuk merawat ingatan kolektif bangsa, bukan sebagai sarana menumbuhkan dendam atau kebencian.
“Film ini mengingatkan kita betapa bahayanya ideologi komunisme yang bertentangan dengan Pancasila. Jika generasi muda amnesia sejarah, maka bangsa kita akan mudah diadu domba. Maka kewajiban kita untuk menjaga Madina agar tetap rukun dan Pancasilais,” tegas Erwin.
Sejarah sebagai Benteng Generasi Muda
Perspektif utama yang disampaikan Erwin adalah pentingnya generasi muda memahami sejarah sebagai bagian dari ketahanan kebangsaan.
Di tengah derasnya arus informasi, perubahan teknologi dan munculnya berbagai narasi di ruang publik, menurut dia, pemahaman sejarah diperlukan agar generasi muda tidak mudah kehilangan konteks mengenai perjalanan bangsa.
Erwin berharap nilai heroisme dan patriotisme para pahlawan Revolusi dapat menjadi bagian dari pendidikan sejarah bagi generasi muda, termasuk Gen Z dan generasi milenial.
Ia juga menyampaikan sikap politiknya terkait komunisme dan PKI.
“Kita hadir di sini untuk merawat ingatan. Kita hadir untuk menegaskan satu sikap yang tidak bisa ditawar-tawar bahwa tak ada tempat secuil pun bagi PKI dan komunisme di Kabupaten Madina,” katanya.
Pernyataan itu disampaikan di hadapan Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi, Pj Sekda Afrizal, unsur Forkopimda serta masyarakat yang menghadiri kegiatan tersebut.
Mandailing dan Ingatan Perjuangan
Erwin juga mengaitkan pendidikan sejarah dengan identitas perjuangan masyarakat Mandailing Natal.
Ia menyebut Mandailing Natal memiliki sejarah panjang perjuangan para tokoh bangsa, ulama dan pejuang. Salah satu tokoh yang disebut adalah Jenderal Besar Dr. Abdul Haris Nasution, yang menurut Erwin merupakan putra Mandailing dan memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.
“Darah heroisme Jenderal Nasution mengalir di dalam nadi kita, yang mengalir dalam darah setiap anak-anak Mandailing. Maka, jika ada yang mencoba-coba membangkitkan kembali paham komunisme di bumi Gordang Sambilan ini, kita akan berdiri di garis paling depan untuk menggayang!” tegasnya.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan dari warga yang hadir.
Erwin, yang juga Ketua DPC Partai Gerindra Madina, kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemuda memperkuat persatuan serta pendidikan kebangsaan.
Dari Nobar Menjadi Ruang Refleksi
Konsep kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemutaran film. Panitia mengemasnya sebagai ruang refleksi sejarah, pendidikan publik dan penguatan persatuan, disertai pagelaran budaya serta kegiatan sosial.
Ketua Panitia Nobar, Magrifatulloh Lubis, mengatakan kegiatan mengusung tema “Madina Bersatu Anti PKI: Bersama Menjaga Sejarah, Merawat Persatuan, Menolak Kebangkitan PKI.”
Menurut dia, kegiatan tersebut diarahkan untuk mengingat perjalanan sejarah bangsa sekaligus mengenang perjuangan para tokoh nasional, termasuk Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution.
“Tujuannya jelas refleksi historis, edukasi publik, menolak kebangkitan PKI, dan menjaga keutuhan NKRI. Kami ingin generasi muda paham betul nilai dari sebuah konsistensi perjuangan, persatuan bangsa dan kedaulatan negara,” ujar Magrifatulloh.
Rangkaian kegiatan juga diisi pagelaran adat dan budaya Tortor Naposo Nauli Bulung dari Sanggar Tari Bintang Maratur, kuis interaktif serta pembagian doorprize.
Dimensi sosial turut dihadirkan melalui pemberian santunan kepada 50 anak yatim yang disalurkan DPD IPK Kabupaten Madina.
Merawat Ingatan, Menjaga Persatuan
Kegiatan tersebut digagas secara bersama dan melibatkan sejumlah organisasi serta lembaga, antara lain DPD KNPI, Ikatan Pelajar Al-Washliyah (IPA), IPNU, Forum Lingkar Study Tulila, IDeA, PB Madina Institute, GMPI, Gerakan Pemuda Islam, TMGI, YPMH, SP3M, MCW, SIPLAH, KLIK-SK, LSM Fokrat, FITRA dan AMPEL.
Di penghujung orasinya, Erwin mengapresiasi panitia dan seluruh elemen yang terlibat. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin.
“Untuk ke depan, kegiatan ini harus rutin digelar tahunan di seluruh wilayah Kabupaten Madina dan kita akan support penuh,” sebutnya.
Pada akhirnya, pesan yang mengemuka dari kegiatan tersebut bukan sekadar soal sebuah film sejarah, melainkan bagaimana generasi muda ditempatkan sebagai pewaris ingatan bangsa.
Sejarah dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami masa lalu, sementara Pancasila dan persatuan menjadi nilai yang terus diperdebatkan, dihayati dan diterapkan dalam kehidupan kebangsaan masa kini.
Karena bangsa yang mengenal sejarah memiliki bekal untuk memahami perjalanan bangsanya—dan generasi muda menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana ingatan itu diwariskan kepada generasi berikutnya.
(Tim)

















