banner 728x250

Gempa Flores 7,7 SR: 352.794 Warga Sikka Terdampak, 54 Korban dan 4.248 Rumah Rusak

banner 120x600
banner 468x60

SIKKA — Dampak gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Flores masih dirasakan masyarakat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan pembaruan data hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 352.794 jiwa di Kabupaten Sikka tercatat terdampak bencana gempa tersebut. Dampak itu tersebar di 21 kecamatan dan 194 desa/kelurahan.

banner 325x300

Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan menjadi kelompok terbesar dari warga terdampak, yakni sekitar 51 persen, sedangkan laki-laki sekitar 49 persen.

Dari 21 kecamatan terdampak, Kecamatan Alok Timur tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penduduk terdampak paling banyak, yakni 35.202 jiwa.

Berikutnya Kecamatan Alok sebanyak 33.551 jiwa, Waigete 28.284 jiwa, Talibura 24.979 jiwa, dan Alok Barat 23.358 jiwa.

Selain itu, dampak gempa juga tercatat di Kecamatan Nita sebanyak 21.915 jiwa, Kangae 19.919 jiwa, Paga 17.814 jiwa, Kewapante 15.887 jiwa, Magepanda 15.887 jiwa, dan Mage 14.652 jiwa.

Wilayah lain yang turut terdampak yakni Doreng, Lela, Bola, Palue, Hewokloang, Tanawawo, Waiblama, Mapitara, Koting, hingga Nele.

54 orang menjadi korban

Infografis penanganan bencana Kabupaten Sikka juga mencatat 54 orang menjadi korban akibat gempa.

Dari jumlah tersebut, enam orang meninggal dunia, sementara 25 orang mengalami luka berat dan 23 orang mengalami luka ringan.

Data korban tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam penanganan pascagempa, mengingat dampak bencana tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

4.248 rumah mengalami kerusakan
Kerusakan paling besar tercatat pada rumah warga. Hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 4.248 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang berbeda.

Rinciannya, 2.457 rumah atau sekitar 57,8 persen mengalami rusak ringan, 852 rumah atau 20,1 persen rusak sedang, dan 939 rumah atau 22,1 persen mengalami rusak berat.

Dengan demikian, kerusakan rumah tidak hanya membutuhkan perbaikan ringan, tetapi juga penanganan terhadap ratusan rumah yang mengalami kerusakan berat dan berpotensi tidak dapat dihuni.

Berdasarkan sebaran kerusakan, Kecamatan Palue menjadi salah satu wilayah dengan jumlah rumah rusak paling tinggi.

Data pada infografis mencatat total kerusakan rumah di Palue mencapai 1.432 unit.

Selanjutnya, kerusakan rumah juga cukup besar terjadi di sejumlah kecamatan lain seperti Nita, Alok Timur, Magepanda dan wilayah terdampak lainnya.

270 fasilitas umum rusak

Gempa juga menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas umum yang menjadi penunjang aktivitas masyarakat.

Total terdapat 270 unit fasilitas umum yang tercatat mengalami kerusakan.

Kerusakan tersebut meliputi 75 tempat ibadah, 72 fasilitas kesehatan, 69 fasilitas pemerintahan, 37 fasilitas pendidikan, sembilan jembatan dan delapan ruas jalan.

Kerusakan fasilitas kesehatan dan pendidikan menjadi perhatian penting karena kedua sektor tersebut berkaitan langsung dengan pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana.

Sementara kerusakan jalan dan jembatan dapat memengaruhi mobilitas masyarakat sekaligus distribusi bantuan menuju wilayah-wilayah terdampak.

Bantuan logistik terus didistribusikan

Di tengah upaya penanganan dampak gempa, pemerintah bersama berbagai unsur terkait juga melakukan distribusi bantuan logistik kepada masyarakat.
Infografis mencatat distribusi logistik telah menjangkau 21 kecamatan dengan 79 item bantuan.

Distribusi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak, terutama masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan maupun warga yang harus mengungsi.

Penanganan bencana tersebut melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, tenaga kesehatan, Palang Merah Indonesia (PMI), Bulog, PLN, serta berbagai organisasi dan lembaga kemanusiaan lainnya.

Pemulihan menjadi pekerjaan berikutnya

Besarnya jumlah warga terdampak, korban jiwa, kerusakan rumah serta fasilitas umum menunjukkan bahwa penanganan gempa Sikka tidak berhenti pada fase tanggap darurat.

Tahap berikutnya adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus mempercepat pemulihan rumah warga, fasilitas kesehatan, sekolah, tempat ibadah, jalan dan jembatan yang rusak.

Dengan 352.794 jiwa terdampak, pemerintah dan seluruh unsur penanganan bencana menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan masyarakat Sikka dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal.

Slogan “Lekas Pulih Nian Sikka” yang tercantum dalam infografis menjadi gambaran semangat pemulihan Kabupaten Sikka setelah diterpa gempa bumi tektonik Flores 7,7 SR.

Yuven Fernandez

banner 325x300
error: Content is protected !!