banner 728x250

GANDUM DI TENGAH ILALANG: Memanfaatkan Kesabaran Allah untuk Berbenah dan Tetap Berbuah Baik di Lingkungan yang Toksik* ÷÷÷÷÷÷÷÷÷

banner 120x600
banner 468x60

Kefa, 12 – 07 – 2026

Pernahkah kita merasa gemas, kesal, atau bahkan protes kepada Tuhan ketika melihat kejahatan merajalela? Mengapa orang-orang yang curang, korup, menyebarkan hoaks, atau hidup egois tampak tenang-tenang saja, bahkan hidupnya terlihat makmur? Mengapa Tuhan tidak langsung “menyambar” atau melenyapkan mereka dari muka bumi agar dunia ini bersih dan menyisakan orang baik saja?

banner 325x300

Pertanyaan manusiawi ini dijawab dengan sangat indah melalui perumpamaan Yesus tentang gandum dan rumput liar (ilalang) dalam Injil hari Minggu ini. Ketika para hamba berniat mencabut rumput liar itu, sang pemilik ladang justru berkata: “Jangan, biarkan keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.”

1. *Kesabaran Allah adalah Ruang untuk Bertobat.*

Garis besar bacaan hari ini menegaskan satu hal penting: *Tuhan itu amat sabar terhadap manusia.* Namun, kita perlu meluruskan pemahaman kita. Kesabaran Allah bukanlah tanda kelemahan atau pembiaran terhadap dosa. Allah menunda pemisahan antara gandum dan rumput liar karena Dia tahu bahwa manusia bisa berubah. Rumput liar dalam dunia nyata selamanya akan menjadi rumput liar. Tetapi dalam “ladang kehidupan” Tuhan, seorang pendosa yang hari ini bertindak laksana rumput liar, atas rahmat Allah, besok bisa bertobat dan berbuah manis menjadi gandum yang berguna. *Tuhan memberikan waktu karena Dia mengasihi kita dan tidak ingin satu orang pun binasa.*

2. *Tantangan Aktual: Hidup di Tengah Campuran Kebaikan dan Kejahatan*

Mari kita bawa pesan ini ke dalam realitas hidup kita saat ini. Kita hidup di era digital di mana kebaikan dan kejahatan tercampur sangat tipis dalam genggaman tangan kita. Di media sosial, kita melihat konten khotbah yang sejuk berdampingan dengan komentar caci maki. Di lingkungan kerja, kejujuran sering kali diuji oleh sistem yang manipulatif. Di dalam rumah tangga sekalipun, karakter yang baik dan egoisme kerap kali saling bergesekan.

*Kita sering kali tergoda menjadi “hakim” yang ingin cepat-cepat mencabut orang lain yang kita anggap sebagai “rumput liar”. Kita dengan mudah memberi label buruk pada sesama, melakukan cancel culture, atau mengucilkan mereka.*

Melalui Kitab Kebijaksanaan, Tuhan mengingatkan bahwa kekuasaan-Nya yang mutlak justru dinyatakan melalui keadilan yang melindungi dan belas kasih yang merangkul. Dasar kesombongan kita akan runtuh jika kita merasa diri paling suci dan berhak menghakimi sesama.

3. *Fokus Menjadi Gandum yang Berakar Kuat.*

*Tugas utama kita sebagai murid Kristus bukanlah sibuk mengurusi atau menghakimi rumput liar di sekitar kita.*

*Tugas kita adalah memastikan diri kita tetap menjadi gandum yang berkualitas, yang akarnya tertanam kuat pada firman Tuhan, sehingga tidak mudah layu atau terhimpit oleh kejahatan.*

*Jika di tempat kerja atau lingkunganmu dipenuhi oleh “ilalang” kebohongan, jadilah gandum kejujuran.*

*Jika di sekitarmu penuh dengan ilalang kebencian, jadilah gandum pengampunan.*

*Energi kita terlalu berharga jika dihabiskan untuk membenci situasi; lebih baik gunakan energi itu untuk menghasilkan buah-buah kebaikan.*

Sebelum kita melanjutkan Liturgi Ekaristi ini, mari kita menundukkan kepala. Sadar atau tidak, di dalam hati kita masing-masing pun sering kali tumbuh gandum dan rumput liar secara bersamaan. Ada saatnya kita sangat baik dan penuh kasih, tetapi ada saatnya kesombongan, keirihatian, dan kepalsuan menguasai kita.
Masa penuaian pasti akan tiba. Sebelum lumbung Allah dibuka dan api pengadilan dinyalakan, *mari gunakan waktu “kesabaran Tuhan” ini untuk menyelisik hati kita.* Mari akui segala kekurangan kita dengan rendah hati, mohon ampun agar rahmat Allah mencabut akar-akar kejahatan di dalam diri kita, sehingga kelak kita dilayakkan masuk ke dalam lumbung surgawi-Nya.

Tuhan memberkati kita semua. **

banner 325x300
error: Content is protected !!