JAKARTA — Dua fenomena langit yang menghiasi September 2026 menjadi momentum refleksi bagi Ketua Umum sekaligus Pendiri LSM Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), Hadysa Prana.
Fenomena Bulan sabit yang berdampingan dengan Venus pada 14 September, disusul Bulan Purnama Harvest Moon pada 26 September, menurut Hadysa Prana, tidak hanya menarik perhatian dari sisi keindahan alam, tetapi juga dapat menjadi ruang perenungan manusia tentang kehidupan, waktu, dan hubungan dengan Sang Pencipta.
“Bulan sabit bersanding Venus, kemudian hadirnya Bulan Purnama Harvest Moon—semuanya adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan. Ayat-ayat nyata di langit yang patut membuat kita berhenti sejenak, merenung, dan bertanya kepada diri sendiri: Siapakah aku? Dari mana aku datang? Untuk apa aku ada di dunia ini? Dan ke mana aku akan kembali?” ujar Hadysa Prana, Minggu (27/9/2026).
Bagi Hadysa, fenomena alam tersebut semestinya tidak disikapi dengan ketakutan berlebihan. Sebaliknya, keindahan langit dapat dijadikan pengingat bahwa kehidupan manusia terus bergerak dan setiap orang pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan perjalanan hidupnya.
Dikaitkan dengan Renungan Akhir Zaman
Dalam refleksinya, Hadysa juga mengaitkan fenomena tersebut dengan kajian keagamaan mengenai tanda-tanda akhir zaman dan pembahasan tentang Al-Imam Al-Mahdi.
Ia mengutip sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Sa’id bin Abu Waqqas RA tentang usia umat Islam. Dalam sejumlah kajian ulama, riwayat tersebut kemudian dikaitkan dengan pembahasan mengenai perkiraan rentang usia umat Islam.
Hadysa menyebut adanya kajian yang memperkirakan usia umat Islam lebih dari 1.000 tahun tetapi tidak mencapai 1.500 tahun. Dengan usia kalender Hijriah yang kini telah memasuki 1448 H, ia menjadikan hitungan tersebut sebagai bahan renungan mengenai keterbatasan waktu manusia, bukan sebagai penetapan kapan kiamat akan terjadi.
“Bukan berarti kita menetapkan tanggal pasti hari kiamat, karena itu hak mutlak Allah. Namun, berbagai kajian tersebut dapat menjadi pengingat bagi kita untuk semakin bertakwa dan tidak terbuai oleh kehidupan dunia,” tegasnya.
Ia mengingatkan, pembahasan mengenai akhir zaman seharusnya tidak berhenti pada perdebatan mengenai kapan waktunya, tetapi justru mendorong manusia memperbaiki perilaku dan tanggung jawab sosial.
Jangan Sampai Langit Terang, Hati Justru Gelap
Hadysa kemudian menghubungkan refleksi tersebut dengan berbagai persoalan kehidupan yang masih terjadi di tengah masyarakat, mulai dari konflik, bencana, korupsi, ketidakadilan hingga keserakahan.
Menurut dia, berbagai persoalan tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi bersama agar manusia tidak hanya mengejar jabatan, kekuasaan dan materi.
“Ketika langit begitu indah dan menjadi pengingat kebesaran Tuhan, jangan sampai hati kita justru semakin gelap. Korupsi, ketidakadilan dan keserakahan tidak akan membuat seseorang membawa jabatan dan harta ke akhirat. Semua akan ditinggalkan. Yang dibawa adalah amal dan keimanan,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa A@ Prana itu juga mengajak jajaran MAUNG dan RAJAWALI di seluruh Indonesia menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi bersama.
“Eling lan waspada. Kembali kepada fitrah. Perbaiki diri, perbaiki hubungan dengan sesama, dan tegakkan kebenaran di bumi. Itulah persiapan terbaik menghadapi masa depan, baik di dunia maupun di akhirat,” katanya.
Fenomena Alam sebagai Cermin Kehidupan
Menurut Hadysa, langit tidak perlu dijadikan sumber ketakutan, melainkan dapat menjadi cermin untuk mengingatkan manusia bahwa tidak ada yang abadi dalam kehidupan dunia.
Fenomena astronomi akan terus datang dan berlalu. Namun, bagi manusia, setiap pergantian waktu semestinya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kehidupan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menunggu datangnya peristiwa besar untuk berubah.
“Jangan menunggu waktu habis untuk memperbaiki diri. Jadilah orang yang bermanfaat, tegakkan kebenaran di mana pun berada, dan berbuat baik kepada sesama. Sebab, yang akan menemani perjalanan pulang bukan harta maupun jabatan, melainkan amal tulus dan hati yang bersih,” pungkasnya.
Ia berharap refleksi tersebut menjadi pengingat bersama agar masyarakat semakin menjaga hubungan dengan Tuhan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.
“Semoga kita termasuk golongan yang teringat, terbangun, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin.”
Publisher: TIM/RED
Penulis: TIM + RAJAWALI
Ket Foto: Ilustrasi (Ist)

















