banner 728x250

*DUNIA PANGGUNG SANDIWARA* Di Luar Putih, Di Dalam Hitam, Akhirnya Berubah Jadi Orange. Refleksi Keprihatinan. *Oleh: Yohanes Tafaib Amloki*

banner 120x600
banner 468x60

 

*PENGANTAR*

banner 325x300

Negeri ini terlalu sering dikhianati oleh orang yang bersumpah setia.
Dikhianati bukan dengan senjata, tetapi dengan tanda tangan.
Bukan di medan perang, tetapi di ruang ber-AC.
Bukan oleh musuh, tetapi oleh yang kita pilih,
kita percaya,
kita panggil “Bapak”.

Berapa banyak sekolah yang roboh karena semen diganti angin?
Berapa banyak obat yang tidak sampai karena uangnya mampir dulu?
Berapa banyak siswa yang menanak jagung, sementara uang anaknya dipakai pesta?

Hari ini kita bicara tentang sandiwara.
Tentang warna.
Tentang putih yang membohongi, hitam yang membusuk, dan orange yang menelanjangi.

*PANGGUNG DIBUKA*

Dunia ini panggung.
Tirai terbuka, lampu sorot menyala.
Muncul tokoh dengan jas rapi, dasi mengkilap, senyum dipoles.
Pidatonya tentang “rakyat kecil”. Tangannya melambai untuk kamera.
Di luar, putih bersih. Seperti kapas. Seperti malaikat.
Seolah tak ada dosa yang bisa menempel.

*TOPENG DITURUNKAN*

Lalu diberi jabatan. Diberi kuasa. Diberi stempel emas.
Panggung yang sama, tetapi sekarang tirai belakang terbuka.
Di dalam gelap. Gelap yang disengaja.
Diam-diam tangan masuk ke uang rakyat.
Diam-diam proyek dikapling, anggaran dipotong, janji dijual kiloan.
Hitam. Pekat. Seperti kuburan harapan.

*SANDIWARA BERAKHIR*

Tetapi sandiwara tak selamanya.
APH datang. Ketuk pintu tengah malam. Borgol berdenting.
Flash kamera membutakan.
Dan tiba-tiba… putih itu runtuh.
Bukan putih baju. Bukan putih hati.

*ORANGE.*
Warna seragam tahanan.
Warna yang menyamakan menteri dan maling.
Warna yang menelanjangi semua topeng.

*PERTANYAAN DI UJUNG SENJA*

Kapan dunia akan baik?
Selama kita masih bertepuk tangan untuk pidato, bukan untuk bukti?
Selama jabatan dianggap hadiah, bukan amanah?
Mungkin dunia baru akan baik,
ketika rasa malu lebih sakit dari rasa penjara.
Ketika sumpah lebih berat dari setoran.

*CATATAN NYATA: KETIKA ORANGE MENJADI GURU BANGSA*

Ini bukan dongeng. Ini luka yang sudah divonis:

1.*Syahrul Yasin Limpo* Mantan Menteri Pertanian
Divonis 10 tahun penjara + denda Rp300 juta + uang pengganti Rp14,14 miliar. Korupsi di kementerian yang mengurusi perut rakyat.
2.*Thomas Trikasih Lembong* Mantan Menteri Perdagangan
Divonis 4,5 tahun penjara karena impor gula. Hakim: tidak melindungi rakyat agar harga terjangkau.
3.*Idrus Marham* – Mantan Menteri Sosial
Divonis 3 tahun penjara* karena suap proyek PLTU. Ironis: menteri sosial, tapi menyakiti sosial.
4.*Karen Agustiawan* Mantan Dirut Pertamina
Divonis 13 tahun penjara karena kasus LNG. Negara rugi US$113,84 juta.
5.*Prasetyo Boeditjahjono* Eks Dirjen Kemenhub
Divonis 7 tahun 6 bulan penjara. Proyek kereta rugikan negara Rp562,5 miliar.
6.*Nadiem Makarim* Mantan Menteri Pendidikan
4 September 2025 ditetapkan tersangka dan ditahan 20 hari. Dugaan korupsi laptop Chromebook Rp9,3 Triliun, potensi kerugian negara Rp1,98 Triliun.

Dan deretan panjang yang tak putus putus

Dari Soekarno sampai hari ini, dari menteri sampai dirut.
Semuanya pernah putih. Semuanya berakhir orange.

*PENUTUP: AGAR ORANGE TIDAK MUBAZIR*

Baju orange itu mahal sekali.
Harganya: 1 atap sekolah yang bocor.
Harganya: 1 kotak obat yang tidak pernah sampai.
Harganya: keringat neno yang menanak jagung jam 4 pagi.
Harganya: kepercayaan anak-anak yang mulai tidak percaya pada orang dewasa.

Semoga jeruji itu mengajari.
Semoga vonis itu menyadarkan.
Bukan untuk dendam. Tetapi untuk malu.
Malu pada Tuhan.
Malu pada sumpah. Malu pada rakyat.

Dan semoga kita, yang masih diberi kepercayaan sekecil apapun, tidak ikut bermain sandiwara.
Semoga kita berani menolak amplop, menolak proyek siluman, menolak “uang duduk” yang mengotori tangan.
Karena perubahan tidak akan datang dari orasi di panggung.
Perubahan datang ketika ada satu orang yang memilih jujur di meja kerjanya, di kelasnya, di desanya.

Dunia akan baik,
ketika yang di atas ingat: kekuasaan itu titipan.
Ketika yang di bawah ingat: kita berhak menuntut jujur.

Karena bangsa ini tidak butuh lagi aktor.
Bangsa ini butuh manusia.
Yang berani tetap putih…
baik saat disorot lampu,
maupun saat gelap dan tak ada yang lihat.

*Dari Tun Feu Bieli, Teras Oebufu*
*Kupang, 15 September 2026*
*Yohanes Tafaib Amloki*

banner 325x300
error: Content is protected !!