Maumere, Sikka. Radar Perbatasan. Com
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, mengatakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Sikka memprogramkan kegiatan trauma healing bagi anak-anak dan pelajar selama masa tanggap darurat bencana gempa bumi tektonik yang melanda wilayah Kabupaten Sikka.
Kadis Very Awales mengatakan hal itu, saat ditemui di sela-sela kegiatan Posko Tanggap Darurat Gempa bumi tektonik, BPBD Kabupaten Sikka, Jalan Mawar, Jum’at, 21/08/2026
Kegiatan trauma healing dilaksanakan di sejumlah camp pengungsian maupun lokasi pengungsian mandiri yang tersebar di wilayah terdampak. Program ini menjadi bagian dari upaya Disarpus Sikka untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak dan pelajar yang mengalami dampak langsung maupun tidak langsung dari bencana gempa bumi.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, mengatakan bahwa dalam situasi bencana, anak-anak membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus agar mereka tidak terus berada dalam suasana takut dan cemas.
Menurut Very Awales, trauma healing tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan hiburan, tetapi menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali bermain, belajar, membaca, berinteraksi dan mengekspresikan diri secara positif setelah mengalami situasi yang penuh tekanan akibat gempa bumi dan gempa susulan.
“Kita ingin anak-anak kembali tersenyum, bermain dan belajar. Mereka perlu diberikan ruang yang aman dan menyenangkan agar secara perlahan rasa takut dan kecemasan akibat gempa dapat berkurang,” ujar Very Awales.
Dalam pelaksanaannya, Disarpus Sikka menggandeng Bunda Literasi Kabupaten Sikka dan Pokja Bunda Literasi Kabupaten Sikka. Kegiatan dikemas melalui aktivitas literasi dan edukasi seperti membaca buku, bercerita, permainan edukatif, menggambar, bernyanyi serta aktivitas kreatif lainnya yang disesuaikan dengan usia dan kondisi anak-anak di lokasi pengungsian.
Very Awales menegaskan, kegiatan tersebut akan menyasar bukan hanya anak-anak yang berada di camp pengungsian resmi, tetapi juga anak-anak dan pelajar yang mengungsi secara mandiri bersama keluarga.
“Kita akan berupaya hadir di camp pengungsian maupun di lokasi-lokasi pengungsian mandiri. Anak-anak harus tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar, bermain dan beraktivitas secara positif meskipun dalam kondisi darurat,” katanya.
Ia juga mengajak Bunda Literasi Kecamatan dan Bunda Literasi Kelurahan untuk ikut bergerak di wilayah masing-masing dengan melaksanakan kegiatan trauma healing, literasi dan aktivitas kreatif bagi anak-anak terdampak bencana.
“Kami berharap Bunda Literasi Kecamatan dan Bunda Literasi Kelurahan dapat mengambil bagian dan bergerak di wilayah masing-masing. Tidak harus dengan kegiatan yang besar. Yang paling penting adalah kehadiran, perhatian dan pendampingan kepada anak-anak,” ungkap Very Awales.
Menurutnya, gerakan bersama ini penting agar jangkauan pendampingan terhadap anak-anak korban gempa semakin luas dan tidak hanya terpusat pada lokasi pengungsian tertentu.
Ia menambahkan, pemulihan pascabencana bukan hanya berkaitan dengan pembangunan kembali rumah dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan, tetapi juga menyangkut pemulihan mental dan psikologis masyarakat, terutama anak-anak.
“Anak-anak adalah generasi masa depan Sikka. Di tengah situasi bencana seperti ini, mereka harus tetap kita jaga semangatnya untuk belajar, membaca, bermain dan bermimpi. Kita ingin dari tengah suasana sulit ini tetap tumbuh harapan,” pungkas Very Awales.
Melalui kolaborasi Disarpus Sikka, Bunda Literasi Kabupaten Sikka, Pokja Bunda Literasi, Bunda Literasi Kecamatan dan Bunda Literasi Kelurahan, kegiatan trauma healing diharapkan dapat menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan rasa aman, kegembiraan dan harapan bagi anak-anak selama masa tanggap darurat gempa bumi tektonik di Kabupaten Sikka..
Yuven Fernandez

















