banner 728x250

Dari Tanah Rantau Kembali ke Tanah Kelahiran Bob Solokana, Putra TTU yang Pulang Membawa Mimpi untuk Kota BERADAT Kefamenanu

banner 120x600
banner 468x60

KEFAMENANU ,RADAR PERBATASAN—

Kesuksesan di tanah rantau tidak selalu membuat seseorang lupa pada tanah kelahirannya. Bagi Flos Florens Bob Solokana, justru keberhasilan yang diraih di perantauan menjadi alasan untuk kembali menanamkan harapan di tanah leluhur.

banner 325x300


Putra asli Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, boleh dibilang telah cukup sukses membangun dunia usahanya di tanah rantau. Namun, di balik perjalanan panjangnya sebagai seorang pengusaha, tersimpan satu kerinduan yang terus tumbuh: membangun tanah kelahiran dan memberi sesuatu yang dapat dirasakan oleh masyarakat TTU.

Kini, kerinduan itu mulai diwujudkan melalui rencana dan pengembangan Hotel, yang beralamat di Jalan Kenari, Kelurahan Kefamenanu Tengah, Kecamatan Kota Kefamenanu.


Hotel tersebut dipersiapkan bukan sekadar sebagai bangunan tempat orang menginap. Lebih dari itu, Hotel ini diharapkan menjadi bagian dari wajah baru Kota Kefamenanu—sebuah kota yang terus bertumbuh di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.

*“Keinginan saya membangun hotel yang berkualitas, nyaman ,berkelas dan representatif di Kefamenanu adalah bagian dari kerinduan untuk turut menghidupkan perekonomian daerah sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi putra-putri TTU,”* ungkap *Bob Solokana,* yang merupakan mantan Seminari Lalian dan alumnus STIE KERJASAMA Yogyakarta,yang ditemui di sela-sela ngopi bareng di salah satu restoran di Kefamenanu (5/9/26).

Baginya, Kefamenanu memiliki potensi yang besar. Letaknya yang berada tidak jauh dari kawasan perbatasan RI–Timor-Leste-Australia menjadikan TTU memiliki peluang untuk berkembang sebagai salah satu pintu pertumbuhan ekonomi, perdagangan, jasa, pariwisata, maupun mobilitas masyarakat antar daerah dan antar negara.

Karena itu, menurut Bob, daerah perbatasan membutuhkan fasilitas penginapan yang tidak hanya sekadar ada, tetapi berkualitas, nyaman, aman, bersih, representatif dan mampu memberikan pelayanan terbaik.

Hotelnya diproyeksikan hadir dengan fasilitas yang berstandar Internasional dan pelayanan yang prima, sehingga dapat menjadi pilihan bagi masyarakat, para pelaku perjalanan, pebisnis, tamu pemerintahan, wisatawan maupun masyarakat dari berbagai daerah maupun mancanegara yang berkunjung ke Kefamenanu.

*Membangun Bukan Sekadar Gedung, tetapi Harapan*

Bagi Bob Solokana , membangun hotel di kampung halaman bukan semata-mata persoalan bisnis.
*Di balik setiap kamar yang dibangun, ada harapan akan lahirnya lapangan pekerjaan. Di balik setiap tamu yang datang, ada perputaran ekonomi bagi masyarakat. Di balik setiap pelayanan yang diberikan, ada wajah Kefamenanu yang diperkenalkan kepada dunia.*

Ia ingin investasi tersebut menjadi mata rantai ekonomi baru yang menghubungkan hotel dengan pelaku UMKM, petani, peternak, pedagang, pengrajin, sopir, pekerja kreatif, seniman, hingga berbagai usaha masyarakat lainnya.

Hotel tidak boleh berdiri sendiri seperti sebuah pulau. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, keberadaan Hotelnya diharapkan dapat ikut mendorong masyarakat lokal untuk menghasilkan produk-produk unggulan yang dapat dinikmati para tamu, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya, kuliner dan keramahan masyarakat TTU.

*Dari Medan, Yogyakarta, Kembali ke Kefamenanu.*

Perjalanan Bob Solokana dalam dunia usaha telah membawanya jauh dari tanah kelahirannya Kefamenanu.
Ia merupakan pemilik *UD Sasando Putra Prima* , sebuah usaha yang dibangunnya di tanah rantau. Ia juga memiliki vila di Yogyakarta yang telah berjalan dengan cukup baik.
Namun kesuksesan tersebut tidak membuat akar kecintaannya kepada TTU menjadi layu.
Justru dari kejauhan, ia melihat kampung halaman dengan perspektif yang berbeda: Kefamenanu memiliki potensi besar yang belum semuanya digarap.
Karena itu, investasi di kampung halaman baginya merupakan sebuah bentuk tanggung jawab moral seorang anak daerah.
Ia ingin menunjukkan bahwa merantau bukan berarti memutus tali dengan tanah kelahiran.
Sebaliknya, merantau adalah perjalanan untuk belajar, bekerja, bertumbuh, kemudian suatu saat kembali membawa sesuatu untuk tanah yang telah membesarkan kita.
Menanam Investasi, Menanam Masa Depan
Hotel ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat persinggahan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang pertumbuhan Kota Kefamenanu.

Kehadirannya diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor bahwa TTU memiliki ruang yang menjanjikan untuk pengembangan sektor jasa dan pariwisata.
Lebih jauh lagi, investasi ini diharapkan mampu:
membuka lapangan pekerjaan bagi putra-putri TTU;
meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat lokal;
memperkuat sektor UMKM melalui kemitraan dengan hotel;
memperkenalkan kuliner dan produk lokal kepada para tamu;
mendukung perkembangan wisata dan budaya TTU;
menjadi tempat yang nyaman bagi tamu dari berbagai daerah maupun dari manca negara untuk
meningkatkan citra Kefamenanu sebagai kota perbatasan yang modern, ramah dan berdaya saing;
serta mendorong semakin banyak putra daerah untuk berani berinvestasi di tanah kelahirannya.

 

*Kota BERADAT, Kefamenanu Kota yang Harus Terus Bertumbuh*

Kefamenanu dikenal sebagai Kota *BERADAT—Bersih, Agamis, Damai, Aman dan Tenteram.*
Semangat itu, menurut Bob, bukan hanya slogan. Nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan ke dalam pembangunan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Karena itu, pembangunan hotel yang berkualitas diharapkan dapat menjadi bagian kecil dari perjalanan besar membangun Kefamenanu sebagai kota yang semakin maju, terbuka dan berdaya saing, tanpa kehilangan jati diri serta akar budayanya.

“Tanah kelahiran bukan hanya tempat kita dilahirkan. Ia adalah tempat di mana nama kita pertama kali dipanggil, tempat kaki kita pertama kali berpijak, dan tempat kenangan pertama kita ditanam.”
Mungkin itulah yang sedang dilakukan Bob Solokana.
Ia tidak hanya sedang membangun sebuah hotel.
Ia sedang membangun sebuah tanda cinta.
Sebuah tanda bahwa kesuksesan di rantau pada akhirnya memiliki makna yang lebih dalam ketika sebagian buahnya dapat dibawa pulang untuk dinikmati oleh tanah kelahiran.
Sebab pada akhirnya, bangunan dapat berdiri karena batu dan semen, tetapi sebuah pembangunan akan memiliki jiwa ketika di dalamnya terdapat cinta kepada manusia dan tanah kelahiran.

Dari Medan, Yogyakarta dan perjalanan panjang di tanah rantau, Bob Solokana kini menatap kembali Kefamenanu.
Di kota kecil di jantung TTU itu, sebuah mimpi sedang ditanam.

*Harapan dan Doa: Semoga Usaha Menjadi Berkat bagi Banyak Orang*

Di balik seluruh ikhtiar dan perjalanan panjangnya membangun usaha, Bob Solokana menyimpan sebuah harapan sederhana namun penuh makna.
Ia berharap seluruh usaha yang telah dirintis dan dikembangkan—baik yang berada di Kota Medan, Yogyakarta, maupun usaha yang kini sedang dirintis dan dibangun di Kefamenanu—senantiasa mendapat penyertaan dan berkat Tuhan.

Baginya, keberhasilan sebuah usaha tidak semata-mata diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
“ *Semoga semua usaha yang kami jalankan, baik di Medan, Yogyakarta maupun di Kefamenanu, diberkati Tuhan, berjalan dengan baik dan lancar, serta dapat menjadi berkat bagi banyak orang,”* demikian harapannya.
Harapan itu menjadi doa yang sederhana, tetapi dalam.

Sebab ia percaya, ketika Tuhan memberkati sebuah usaha, keberhasilan tidak berhenti pada pemiliknya. Berkat itu harus mengalir kepada keluarga, para pekerja, masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya.

Ia berharap setiap usaha yang dibangun dapat membuka pintu rezeki bagi orang lain, menciptakan lapangan pekerjaan, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berkarya dan mengembangkan potensi mereka di tanah sendiri.

Terlebih untuk Hotelnya di Kefamenanu yang kini sedang dalam proses pembangunan, Bob berharap kehadirannya kelak bukan hanya menjadi sebuah bangunan yang megah, tetapi menjadi rumah bagi pelayanan, ruang bagi kesempatan, dan jembatan bagi kesejahteraan masyarakat.

Dari Medan ia menanam pengalaman,
dari Yogyakarta ia merawat perjuangan,
dan di Kefamenanu ia sedang menanam harapan.
*
Semoga semua benih usaha yang ditanam dengan kerja keras, ketekunan dan niat baik itu tumbuh subur dalam penyertaan Tuhan.
Karena rezeki yang paling indah bukan hanya ketika kita menerima berkat, tetapi ketika melalui tangan kita, berkat itu dapat mengalir dan menjadi kehidupan bagi banyak orang.
Semoga Tuhan memberkati seluruh usaha Bob Solokana dan keluarga, melancarkan setiap proses pembangunan Hotel Eva, serta menjadikannya sebuah karya yang membawa kemajuan, kesejahteraan dan berkat bagi masyarakat TTU dan Kota Kefamenanu.

Semoga Hotelnya bukan hanya menjadi tempat orang beristirahat, tetapi menjadi tempat harapan tumbuh, ekonomi bergerak, lapangan pekerjaan tercipta, dan nama Kefamenanu semakin dikenal sebagai kota perbatasan yang berkelas, ramah dan berdaya saing.
Karena pulang bukan sekadar kembali ke kampung halaman.

Pulang adalah membawa pulang keberhasilan, lalu menjadikannya benih bagi masa depan.

*Vinsentius Sintu Lopes (jurnalis)*

banner 325x300
error: Content is protected !!