Laporan : Sebastian – Batam
Batam – Suasana lapangan apel pagi di Lembaga Pemasyarakatan Batam pada Senin (8/6) terasa berbeda dari biasanya.
Di tengah barisan rapi para pejabat manajerial dan pegawai, berlangsung sebuah momen yang sarat makna: penyematan tanda kenaikan pangkat kepada Kepala Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Kasubsi Bimkemaswat).
Namun, bagi jajaran Lapas Batam, kenaikan pangkat bukan sekadar perubahan tanda di pundak. Di balik penghargaan tersebut tersimpan pesan yang lebih besar tentang dedikasi, tanggung jawab, dan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Lapas Batam, Yosafat Rizanto, dalam amanatnya menegaskan bahwa setiap kenaikan pangkat merupakan bentuk apresiasi negara atas pengabdian dan kinerja pegawai.
Pada saat yang sama, penghargaan itu juga menjadi amanah yang harus dijawab dengan profesionalisme yang lebih tinggi.
Menurutnya, seorang aparatur tidak boleh berhenti pada pencapaian yang telah diraih. Pangkat yang bertambah harus sejalan dengan peningkatan kapasitas diri, kedisiplinan, serta semangat untuk memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi.
“Kenaikan pangkat harus menjadi motivasi untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi organisasi. Semakin tinggi pangkat dan jabatan yang diemban, maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus dilaksanakan,” ujarnya di hadapan peserta apel.
Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkuat pesan tentang pentingnya integritas dalam pelaksanaan tugas pemasyarakatan.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin transparan dan akuntabel, seluruh jajaran diingatkan agar senantiasa bekerja sesuai aturan serta menjunjung tinggi kode etik sebagai Aparatur Sipil Negara.
Pesan itu sejalan dengan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan yang menekankan pentingnya menjaga integritas serta menghindari segala bentuk penyalahgunaan kewenangan.
Bagi institusi pemasyarakatan, integritas bukan hanya slogan, melainkan fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Yosafat menegaskan bahwa penyalahgunaan wewenang sekecil apa pun dapat merusak citra institusi dan mengikis kepercayaan publik yang selama ini dibangun dengan susah payah.
Karena itu, setiap pegawai dituntut untuk menempatkan kepentingan negara dan pelayanan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Integritas harus menjadi komitmen bersama. Jangan pernah menyalahgunakan kewenangan yang diberikan negara, karena jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Di balik prosesi penyematan pangkat yang berlangsung sederhana, tersimpan refleksi mendalam tentang makna pengabdian.
Bahwa setiap jenjang karier yang diraih bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Sebuah pengingat bahwa keberhasilan seorang aparatur negara tidak hanya diukur dari pangkat yang disandang, tetapi juga dari integritas, loyalitas, dan manfaat yang diberikan bagi masyarakat.
Melalui apel pagi yang dirangkaikan dengan penyematan tanda kenaikan pangkat tersebut, Lapas Batam kembali meneguhkan komitmennya untuk membangun budaya kerja yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan.
Sebab pada akhirnya, kepercayaan publik lahir dari konsistensi aparatur dalam menjaga amanah yang dipercayakan negara di pundaknya.**

















