Radar Perbatasan, Batam – Angka investasi Rp69 triliun yang berhasil dibukukan Batam sepanjang 2025 bukan sekadar catatan statistik. Di balik angka besar tersebut, tersimpan tantangan sekaligus peluang: bagaimana investasi yang masuk benar-benar memberi dampak langsung bagi perekonomian lokal, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Isu inilah yang mengemuka dalam Exclusive Podcast “Inside The Figure” yang digelar di Kampus IIBN Batam Centre, pada Rabu, 29 Januari 2026. Hadir sebagai narasumber, Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis memaparkan arah baru kebijakan investasi Batam yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga kualitas dampak ekonomi.
“Batam tidak bisa lagi hanya berbicara soal besarnya investasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana investasi itu terhubung dengan ekonomi lokal dan mampu menggerakkan UMKM,” ujar Fary dalam dialog tersebut.
UMKM dalam Rantai Industri
Fary menjelaskan, selama ini tantangan utama kawasan industri adalah keterputusan antara perusahaan besar dan pelaku usaha lokal. Padahal, UMKM memiliki potensi besar untuk terlibat dalam rantai pasok industri, mulai dari jasa pendukung, logistik, hingga kebutuhan produksi non-inti.
Menurutnya, capaian investasi Rp69 triliun justru harus dijadikan momentum untuk memperkuat ekosistem usaha lokal.
“Kalau UMKM bisa masuk ke dalam supply chain industri, maka efek penggandanya besar. Lapangan kerja tercipta, kapasitas usaha meningkat, dan ekonomi daerah menjadi lebih tahan terhadap guncangan,” jelasnya.
Investasi Harus Inklusif dan Berkelanjutan
Diskusi yang dipandu Lakuntara Pallahidu ini tidak berhenti pada optimisme. Lakuntara menekankan pentingnya desain kebijakan investasi yang inklusif dan berorientasi jangka panjang. Dia menilai, investasi yang sehat adalah investasi yang mampu membangun fondasi ekonomi daerah, bukan sekadar mengejar pertumbuhan sesaat.
“Nilai strategis investasi terletak pada dampaknya. Ketika investasi mampu meningkatkan kualitas SDM, memperkuat UMKM, dan menciptakan lapangan kerja, di situlah investasi benar-benar bekerja untuk daerah,” kata Lakuntara.
Dia juga menyoroti perlunya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran kampus dan dunia pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap bersaing di kawasan industri.
Batam Menuju Model Kawasan Investasi Berkeadilan
Dalam dialog yang berlangsung interaktif tersebut, kedua narasumber sepakat bahwa Batam memiliki peluang besar untuk menjadi model kawasan investasi nasional, kompetitif di mata investor, namun tetap berkeadilan bagi pelaku ekonomi lokal.
Tantangan seperti kesiapan UMKM, kualitas SDM, hingga sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah masih menjadi pekerjaan rumah. Namun dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, investor, dunia usaha, dan institusi pendidikan, peluang tersebut dinilai semakin terbuka.
Program Inside The Figure yang disiarkan melalui kanal YouTube Citcat Creative dan Institut Indobaru Nasional ini mendapat sambutan positif dari pelaku usaha dan akademisi. Dialog ini diharapkan dapat memperluas perspektif publik bahwa investasi bukan sekadar angka, melainkan instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, baik bagi Batam maupun Indonesia secara regional.
Editor: Budi Adriansyah

















