Malaka –
Di tengah terus bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah, harapan agar program tersebut menjangkau seluruh peserta didik juga datang dari pelosok Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Salah satunya dari keluarga besar SMA Negeri Io Kufeu. Hingga kini, sekolah tersebut belum menerima program MBG. Kondisi itu mendorong pihak sekolah dan para siswa menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian terhadap satuan pendidikan yang belum tersentuh program tersebut.
Bagi mereka, MBG bukan sekadar seporsi makanan yang dibagikan kepada siswa. Lebih dari itu, program tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan gizi, kesehatan, serta tumbuh kembang generasi muda.
Plt. Kepala SMAN Io Kufeu, Magdalena Bui, S.Pd., mengatakan pihak sekolah sangat mendukung pelaksanaan program MBG dan berharap sekolah yang dipimpinnya segera memperoleh kesempatan untuk menerima manfaat program tersebut.
“Kami sangat mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Kami berharap SMAN Io Kufeu dapat segera memperoleh program tersebut karena manfaatnya sangat besar bagi peserta didik, terutama dalam mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan mereka,” ungkap Magdalena.
Menurut dia, peserta didik di wilayah pelosok memiliki kebutuhan yang sama dengan anak-anak sekolah di wilayah lain.
Karena itu, ia berharap aspek pemerataan menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan program nasional tersebut.
“Kami berharap sekolah-sekolah yang belum mendapatkan MBG juga mendapat perhatian. Anak-anak di sini memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan pelayanan dari pemerintah. Jangan sampai karena berada jauh dari pusat kota, mereka justru terlambat merasakan program yang ditujukan untuk peserta didik,” ujarnya.
“Kami Juga Anak Indonesia”
Harapan tersebut kemudian disuarakan lebih lantang oleh para siswa.
Salah satunya Korleone Efandy Bouk yang akrab disapa Fandi Bouk. Siswa SMAN Io Kufeu itu mengatakan, sebagai bagian dari generasi muda Indonesia, siswa di sekolahnya juga ingin merasakan manfaat program pemerintah yang diperuntukkan bagi peserta didik.
“Kami ini bagian dari negara Indonesia. Mengapa program pemerintah pusat belum merata? Jangan jadikan kami yang di pelosok hanya sebagai penonton. Kami juga ingin merasakan program pemerintah seperti yang dirasakan teman-teman kami di sekolah lain,” ungkap Fandi.
Menurutnya, para siswa tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap memperoleh kesempatan yang sama seperti peserta didik di sekolah lain yang telah menerima program MBG.
“Kami tidak mau dianaktirikan hanya karena kami berada di daerah yang jauh. Kami juga anak Indonesia. Kami juga belajar, punya cita-cita dan ingin mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah,” kata Fandi.
Pernyataan Fandi menjadi gambaran sederhana tentang harapan siswa di wilayah pelosok: jarak geografis tidak seharusnya menjadi batas untuk merasakan manfaat program pemerintah.
Bagi Fandi dan siswa lainnya, kehadiran MBG di sekolah bukan hanya persoalan memperoleh makanan secara gratis.
Program tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, terutama bagi siswa yang menjalani aktivitas belajar sejak pagi hingga siang hari.
“Kalau program ini memang untuk membantu anak-anak sekolah mendapatkan makanan bergizi, kami berharap manfaatnya juga sampai kepada kami. Kami ingin belajar dengan baik dan tetap sehat. Kami hanya berharap sekolah kami tidak dilupakan,” tutup Fandi.
Harapan tersebut juga disampaikan pihak sekolah kepada pemerintah dan pemangku kepentingan terkait agar memberikan perhatian terhadap satuan pendidikan yang hingga kini belum memperoleh program MBG.
Sekolah berharap proses perluasan penerima manfaat dapat dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan setiap wilayah, termasuk sekolah-sekolah yang berada jauh dari pusat pemerintahan.
Menunggu Kehadiran Program Pemerintah
SMAN Io Kufeu menyatakan dukungannya terhadap program MBG. Namun, sekolah juga berharap pelaksanaannya kelak tidak hanya memperhatikan aspek pemerataan, tetapi juga kualitas dan keamanan pangan.
Guru dan siswa berharap, jika program tersebut nantinya hadir di SMAN Io Kufeu, makanan yang diberikan benar-benar memenuhi standar gizi, kebersihan, keamanan, serta kebutuhan peserta didik.
“Kami mendukung program pemerintah. Kami hanya ingin agar pelaksanaannya semakin merata. Jangan sampai ada sekolah yang sudah menikmati, sementara sekolah lain masih terus menunggu tanpa kepastian,” tutup Ibu Magdalena.
Harapan dari SMAN Io Kufeu sejatinya sederhana: mereka tidak meminta lebih, hanya ingin mendapatkan kesempatan yang sama.
Di balik suara para siswa tersebut terdapat sebuah pesan kepada pemerintah: ketika sebuah program nasional dirancang untuk anak-anak Indonesia, maka anak-anak di pelosok pun berharap tidak dilupakan.
Mereka belajar di ruang kelas yang sama-sama mengajarkan tentang Indonesia. Mereka menghafal Pancasila, menyanyikan lagu kebangsaan, dan menggantungkan cita-cita pada masa depan bangsa.
Kini, mereka hanya menunggu satu hal—agar perhatian negara juga sampai ke sekolah mereka.
Dari pelosok Malaka, suara itu datang dengan sederhana, tetapi penuh makna:
“Kami juga anak Indonesia. Kami juga ingin merasakan MBG.”
Penulis: Jery Manek

















