Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Yulius jatuh cinta pada Yohana. Mungkin sejak pertama kali Yohana tertawa sambil menutup mulutnya di kantin itu, tawa yang malu-malu. Mungkin sejak Yohana bercerita tentang ibunya di kampung dengan mata berkaca-kaca.
Yang jelas, selama lima tahun mereka selalu bertemu. Tidak pernah janjian, tetapi selalu ada.
Duduk lama.
Cerita hangat mengalir sampai kopi menjadi dingin, sampai senja habis, sampai penjaga kantin menyapu lantai di bawah kaki mereka.
Yohana hafal cara Yulius mengaduk kopi, tiga kali searah jarum jam. Yulius hafal cara Yohana menghela napas pelan saat menahan sedih.
Mereka jatuh cinta, sungguh jatuh. Jatuh yang dalam. Tetapi cinta itu mereka kunci rapat-rapat di dalam dada.
Tidak ada yang berani membuka pertama.
Sampai sore itu. Hujan turun pelan di antara mereka.
“Yohana…”
Yulius menatap meja, bukan wajahnya.
“Saya mau menikah minggu depan.
Dengan Ana.”
Dunia Yohana runtuh saat itu juga. Hancur tanpa suara. Tetapi ia menelan semua air matanya kembali ke dalam hati.
Ia tersenyum.
“Bahagia kau, Yulius. Kau harus bahagia, e.”
*Kado dan Sepucuk Surat*
Hari pernikahan Yulius tiba.
Yohana datang dengan kebaya sederhana yang ia jahit sendiri semalaman.
Ia membawa kado kecil dibungkus kertas cokelat.
Ia menyalami Ana dengan senyum tulus. Ia menyalami Yulius dengan tangan gemetar.
Tidak ada yang tahu, di dalam kado itu Yohana menyelipkan sepucuk surat yang ia tulis semalaman dengan air mata.
Yulius baru membacanya tengah malam, setelah pesta selesai.
_Untuk Yulius,
Cinta Pertamaku,_
_Selamat berbahagia, Yulius. Hari ini ko menjadi milik orang lain. Saya datang membawa kado kecil, tetapi sesungguhnya saya datang membawa hati saya yang sudah lama saya titip pada kau._
_Lima tahun kita duduk di kantin itu, saya kira kita akan selamanya begitu. Saya hafal caramu mengaduk kopi. Saya hafal caramu tertawa. Dan saya simpan semuanya dalam diam, seperti orang menyimpan luka._
_Maafkan saya karena tidak pernah berani bilang. Kita dua pengecut yang saling mencintai dalam diam._
_Saya akan belajar mencintai kau dari jauh saja, Yulius. Dengan cara yang paling sedih, yaitu dengan mendoakan kau bahagia dengan perempuan lain._
_Jaga kau punya rumah tangga, Yulius._
_Dari yang selalu menunggu dalam diam,_
_Yohana_
Malam itu Yulius menangis dalam diam. Surat itu ia lipat rapi, ia simpan di dalam Alkitabnya, di halaman Mazmur 31, selama dua puluh tahun.
*Menunggu Dua Puluh Tahun*
Yulius menikah. Punya lima anak. Rumahnya ramai. Yohana memilih sepi. Dua puluh tahun berlalu, rambut mulai beruban.
Kaget Ana sakit mendadak.
Lalu Ana pergi untuk selamanya.
Kabar itu sampai ke Yohana jam dua malam. Tanpa pikir panjang ia berlari menerobos hujan ke rumah itu.
Sejak hari itu Yohana ada. Tidak sebagai pengganti. Ia hanya ada. Mencuci baju, memasak sayur daun pepaya, menemani belajar sampai larut.
Cinta mereka masih di sana, lebih dalam dari sebelumnya. Tetapi mereka tetap diam. Menahan rindu seperti menahan napas di dalam air. Dada sesak, tetapi tetap ditahan.
Sampai Tuhan menguji lewat Tony, si bungsu. Paru-parunya infeksi. Tiga bulan di RSUD.
Dan tiga bulan itu, Yohana tidak pernah lepas dari selang infus Tony. Ia yang mengganti popoknya saat Yulius tertidur kelelahan di kursi besi.
Malam Tony sembuh,
Tony memeluk Yohana erat.
“Mama Yohana… boleh saya ikut Mama ka? Saya sudah anggap Mama sebagai mama saya sendiri.”
*Pulang*
Tony pindah ke rumah Yohana yang dua puluh tahun sunyi. Kekosongan di rumah Yulius itu yang akhirnya membuat bendungan dua puluh lima tahun jebol.
Malam Minggu, setelah hujan reda, Yulius datang membawa bunga kaktus yang baru mekar sekali dalam setahun.
“Yohana,” suara Yulius pecah.
“Dua puluh lima tahun saya bawa kau di dalam dada saya. Suratmu itu masih ada
di Alkitab saya. Maafkan saya karena baru berani sekarang.”
Yohana maju selangkah, memeluk Yulius. Pelukan pertama setelah dua puluh lima tahun.
” Yulius…
Saya tunggu pelukan ini sejak kau masih panggil saya Nona.
Saya tidak pernah pergi.
Saya di sini terus.”
Akhirnya mereka hidup bersama sebagai suami istri dengan bahagia yang bercampur air mata. Di hari pernikahan mereka yang sederhana, Yulius membalas surat itu dengan puisi:
_Di kantin tua, kopi kita pernah dingin,_
_Kau hafal sedihku, ku hafal tawamu yang bening._
_Kau titip surat di dalam kado di hari pernikahanku,_
_Ku simpan di Alkitab, menjadi doaku yang paling pilu._
_Tony sakit, kau jaga siang dan malam tanpa lelah,_
_Kau ajar saya, cinta sejati tidak pernah menyerah._
_Kini di uban dan sisa umur yang Tuhan kasih,_
_Karena cinta yang dulu kita pendam dalam perih,_
_Akhirnya pulang, untuk tidak pergi lagi._
*TAMAT.*
_Tun Feu Bijeli, Teras Batin Oebufu, Akhir September 2026._
*Tentang Penulis:*
Yohanes Tafaib Amloki adalah penulis fiksi asal Kupang yang menetap di Oebufu. Karya-karyanya banyak mengangkat tema, adat, budaya, sejarah, pendidikan, cinta dan keluarga…

















