Opini –
Dalam perencanaan organisasi, SWOT digunakan untuk membaca empat sisi utama: Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats—kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.
Metode ini membedakan faktor internal organisasi dari faktor eksternal yang berada di luar kendalinya dan dapat menjadi dasar penyusunan strategi.
Untuk PK NTT Batam, SWOT seharusnya tidak dibuat sebagai dokumen akademis yang kemudian disimpan di lemari.
Ia harus menjadi peta jalan organisasi.
S — Strengths: Kekuatan
PK NTT mempunyai beberapa modal besar.
Pertama, jumlah dan jaringan komunitas.
Dengan keberadaan 22 paguyuban kabupaten/kota, PK NTT mempunyai struktur sosial yang tidak kecil.
Kedua, identitas budaya.
Orang NTT mempunyai ikatan kekerabatan, adat, agama, budaya dan sejarah yang relatif kuat. Ini adalah modal sosial yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Ketiga, sumber daya manusia.
Di Batam terdapat orang NTT dari berbagai profesi. Jika dikelola dengan baik, PK NTT sesungguhnya memiliki dokter, advokat, akademisi, pengusaha, pekerja profesional, birokrat, aktivis, wartawan, teknisi, pelaut, pekerja industri, tokoh agama dan anak-anak muda terdidik.
Persoalannya bukan apakah sumber daya itu ada.
Persoalannya adalah apakah organisasi mampu mengonsolidasikannya.
Keempat, jaringan perantauan.
Diaspora NTT bukan hanya berada di Batam. Ada jaringan NTT di Jakarta, Surabaya, Bali, Kalimantan, Papua, Malaysia, bahkan berbagai negara lain.
Jika jaringan tersebut dihubungkan, diaspora NTT dapat menjadi kekuatan ekonomi dan intelektual.
W — Weaknesses: Kelemahan yang Harus Berani Diakui
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang mengatakan dirinya sempurna.
Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani melakukan otokritik.
Salah satu risiko organisasi paguyuban adalah kegiatan berhenti pada rutinitas: rapat, acara seremonial, pertandingan olahraga, kegiatan sosial dan agenda kebudayaan.
Semua itu penting.
Tetapi tidak cukup.
Kelemahan lain yang harus diantisipasi adalah potensi fragmentasi berdasarkan kabupaten, kelompok, profesi, generasi atau kepentingan tertentu.
Jika 22 paguyuban hanya berjalan sendiri-sendiri, maka kekuatan besar itu justru menjadi 22 kekuatan kecil.
Karena itu, PK NTT harus mempunyai prinsip:
Paguyuban kabupaten/kota tetap kuat, tetapi PK NTT harus menjadi rumah bersama.
Kelemahan berikutnya adalah kemungkinan organisasi terlalu bergantung kepada figur ketua.
Ini harus diubah.
Organisasi modern tidak boleh bergantung kepada satu orang.
Ketua boleh berganti.
Sekretaris boleh berganti.
Pengurus boleh berganti.
Tetapi sistem harus tetap hidup.
Karena itu dibutuhkan database anggota, sistem administrasi, mekanisme kaderisasi, transparansi keuangan, program kerja tahunan dan indikator keberhasilan.
O — Opportunities: Batam adalah Laboratorium Besar Diaspora NTT
Batam memberikan peluang yang sangat besar.
Kota ini bukan hanya tempat orang NTT bekerja.
Batam adalah kawasan ekonomi strategis dengan hubungan perdagangan, industri dan mobilitas manusia yang tinggi.
Artinya, PK NTT sebenarnya berada di sebuah kota yang dapat menjadi laboratorium pengembangan diaspora NTT.
Peluangnya sangat luas.
Pertama: ekonomi diaspora
PK NTT dapat membangun NTT Business Network Batam.
Isinya bukan hanya pengusaha besar.
Pedagang kecil, UMKM, pekerja mandiri, kontraktor, nelayan, pekerja jasa, pemilik usaha kuliner dan anak-anak muda yang baru membangun usaha harus masuk dalam ekosistem.
Organisasi dapat membangun direktori usaha warga NTT.
Kemudian membuat forum bisnis.
Kemudian membangun kemitraan.
Bahkan dalam jangka panjang, bukan mustahil lahir koperasi atau lembaga ekonomi bersama yang profesional dan transparan.
Kedua: lapangan kerja
Salah satu kebutuhan paling nyata masyarakat perantauan adalah pekerjaan.
Maka PK NTT perlu memiliki Pusat Informasi Kerja Diaspora NTT.
Bukan sekadar membagikan lowongan di WhatsApp.
Tetapi membuat sistem:
informasi lowongan;
pelatihan kerja;
sertifikasi;
peningkatan keterampilan;
konsultasi CV;
perlindungan pekerja;
jejaring perusahaan;
pendataan pencari kerja.
Dengan demikian, organisasi tidak hanya berkata, “kita bersaudara.”
Tetapi membuktikan persaudaraan itu dalam bentuk akses kesempatan.
Ketiga: Pendidikan dan Generasi Muda
Ini mungkin salah satu agenda paling strategis.
Generasi pertama diaspora NTT mungkin sibuk bertahan hidup.
Generasi kedua mulai membangun kehidupan.
Tetapi generasi ketiga akan menghadapi pertanyaan identitas:
Apa hubungan mereka dengan NTT?
Kalau organisasi tidak hadir di ruang pendidikan dan generasi muda, maka identitas diaspora perlahan dapat menjadi sekadar nama keluarga.
PK NTT harus memiliki NTT Youth Forum Batam.
Forum ini dapat bergerak pada:
beasiswa;
mentoring;
kepemimpinan;
debat;
literasi digital;
kewirausahaan;
teknologi;
bahasa;
kebudayaan;
olahraga;
pendidikan politik kebangsaan.
Anak muda NTT jangan hanya dijadikan panitia acara.
Mereka harus diberi ruang menjadi pengambil keputusan.
Keempat: Rumah Advokasi Diaspora
Ini gagasan yang menurut saya sangat penting.
PK NTT perlu mempunyai Pusat Bantuan dan Advokasi Warga NTT.
Tidak berarti organisasi menjadi lembaga hukum.
Tetapi organisasi harus mempunyai jaringan profesional: advokat, paralegal, akademisi, pekerja sosial dan tokoh masyarakat.
Ketika warga NTT menghadapi persoalan hukum, ketenagakerjaan, administrasi kependudukan, kekerasan, sengketa pekerjaan atau persoalan sosial lainnya, mereka tidak boleh merasa sendirian.
Organisasi harus menjadi pintu pertama untuk memperoleh informasi dan pendampingan.
Inilah makna sesungguhnya dari solid dalam persaudaraan.
T — Threats: Ancaman yang Harus Diantisipasi
Ancaman terbesar organisasi bukan selalu berasal dari luar.
Sering kali ancaman terbesar datang dari dalam:
perpecahan.
Jika kontestasi ketua berubah menjadi perang kelompok, maka Mubes menghasilkan pemenang tetapi organisasi menghasilkan luka.
Itu harus dihindari.
Kompetisi adalah sehat.
Tetapi setelah pemilihan selesai, semua kandidat harus kembali menjadi satu keluarga besar.
Karena itu saya berpandangan bahwa ketiga kandidat—M. Agung Teibang, Dominggus R. Woge dan Edward Kamaling, SH., MH.—seharusnya tidak hanya menawarkan diri sebagai calon ketua.
Mereka harus menawarkan gagasan tentang masa depan PK NTT.
Bukan:
“Pilih saya.”
Tetapi:
“Inilah yang akan saya bangun bersama Anda.”** ( bersambung)

















