BINTAN, Radar Perbatasan.com – Langit malam di kawasan Km.16 Bintan mendadak merah membara, namun bukan karena amarah. Ratusan obor yang menyala terang menjadi saksi bisu gegap gempita ribuan masyarakat yang tumpah ruah ke jalanan untuk merayakan malam takbiran Hari Raya Idul Fitri 1447 H, pada Jumat malam, 20 Maret 2026.
Pawai Obor tingkat Kabupaten Bintan yang dipusatkan di Kecamatan Toapaya ini berhasil menciptakan atmosfer yang berbeda. Jika biasanya malam takbir identik dengan deru mesin kendaraan hias, tahun ini Bintan memilih jalan kesederhanaan yang sarat akan makna.
Pesona 13 Kafilah dan Cahaya Tradisi
Dilepas langsung oleh Bupati Bintan, Roby Kurniawan, sebanyak 13 kafilah yang terdiri dari Jemaah Masjid, Musholla, hingga Majelis Taklim se-Kecamatan Toapaya berbaris rapi. Dimulai dari Lapangan Bola Kampung Simpangan, para peserta berjalan kaki membawa obor menuju Bundaran Km.16 dan kembali lagi ke titik awal.
Gema takbir yang bersahut-sahutan di sela-sela jilatan api obor menciptakan pemandangan yang magis sekaligus mengharukan. Masyarakat yang memadati bahu jalan tampak antusias mengabadikan momen langka ini dengan ponsel mereka.
Makna di Balik Kesederhanaan
Dalam sambutannya, Bupati Roby Kurniawan menekankan bahwa perubahan format pawai tahun ini, dari kendaraan hias ke pawai obor, adalah upaya untuk mencari kekhusyukan yang lebih dalam.
“Tahun ini kita laksanakan hal berbeda. Lebih sederhana, namun tidak mengurangi nilai dan makna gema takbir yang dikumandangkan. Khusyuk dalam rasa syukur, dan tentunya penuh semangat,” ujar Roby dengan nada optimis.
Bagi Roby, Idul Fitri 1447 H bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momen kelulusan dari “madrasah” Ramadan. Dia mengajak seluruh warga untuk mengevaluasi diri agar benar-benar menjadi “pemenang” saat memasuki bulan Syawal.
Tertib dalam Kegembiraan
Menutup arahannya, orang nomor satu di Bintan ini memberikan pesan khusus kepada para peserta agar tetap menjaga ketertiban umum. Dia ingin kegembiraan menyambut hari yang fitri ini tidak ternoda oleh tindakan yang merugikan orang lain.
“Jaga kekompakkan kita, semuanya harus tertib. Jangan ada yang mendahului, kita gemakan alunan takbir dengan semangat,” pungkasnya sebelum secara resmi melepas rombongan.
Kini, cahaya obor di Toapaya tidak hanya menerangi jalanan Bintan, tetapi juga menjadi simbol harapan baru bagi seluruh masyarakat untuk melangkah lebih baik di hari yang suci.
Editor: Budi Adriansyah

















