banner 728x250

BERBURU SURGA di LUAR, LUPA HARTA KARUN TERMAHAL di RUMAH: Keluarga Adalah Ladang Kerajaan Allah* 1 Raj. 3: 5.7-12 | Rom. 8: 28-30 | Mat. 13: 44-52 ===========

banner 120x600
banner 468x60

Pengantar*
Sering kali kita sibuk mencari kebahagiaan, pengakuan, dan “harta karun” di luar rumah, sampai lupa bahwa ladang paling subur dan harta terindah dan termahal justru ada di dalam rumah kita sendiri—yakni keluarga, rumah tangga, orangtua, kakek-nenek, dan para leluhur.

Sayangnya, harta ini sering diabaikan, bahkan terlupakan di sudut-sudut kehidupan kita. Kita lebih mudah mengejar kesuksesan di luar sana, kita kejar popularitas, kita kejar jabatan, kita kejar aneka hal murahan, tapi lalai merawat kebun kasih di dalam keluarga!

banner 325x300

Hari ini, mari kita renungkan bersama dalam hati kita masing-masing:

1. *Apakah selama ini kita lebih banyak menghabiskan energi untuk mengejar hal-hal di luar, sementara orang-orang tercinta di rumah hanya mendapatkan sisa-sisa waktu dan kelelahan kita?*

2. *Sudahkah kita menjadikan rumah kita sebagai tempat yang penuh kedamaian, atau justru kita sedang membiarkan ladang paling berharga itu kering dan terabaikan?*

*I. Ladang itu Ada di Rumah Sendiri.*

1. *Yesus mengibaratkan Kerajaan Allah seperti harta yang terpendam di ladang.* Ladang itu bukan hanya dunia di luar sana, tapi pertama-tama adalah keluarga kita sendiri.

2. *Betapa sering kita mencari makna hidup ke mana-mana, padahal kebahagiaan, kedamaian, dan kekuatan terbesar justru ada di rumah*—di senyum pasangan, di pelukan anak-anak, di doa orangtua, dan dalam kenangan para leluhur.

3. *Keluarga adalah Altar Pertama, tempat kita belajar mengasihi, tempat kita belajar sopan santun, tempat kita belajar omong, tempat kita belajar berpakaian yang sopan, tempat mengampuni, dan tempat bertumbuh dalam iman.*

Persoalannya, apakah bapak-bapak dan mama-mama sudah cukup matang dan dewasa, adalah bapak-bapak dan mama-mama yang baik.

*Perkawinan sekarang adalah perkawinan buruh-buruh dan kaget-kaget, belum siap jadi bapak dan mama!*

*Ingatlah, jika model perkawinan seperti ini terus dibiarkan tanpa kedewasaan, maka rumah tangga kita tidak akan pernah harmonis, dan sudah jelas akan hilanglah ladang rumah tangga kita sebagai harta yang paling indah!*

*II. Memuliakan Orangtua, Kakek-Nenek, dan Para Leluhur.*

1. *Orangtua, kakek-nenek, dan para leluhur adalah “permata tak ternilai” dalam rumah kita.* Mereka adalah akar yang menumbuhkan pohon keluarga, sumber nilai, pengalaman, dan doa yang menopang perjalanan hidup kita.

2. *Sering, kita baru sadar betapa berharganya mereka ketika mereka sudah tiada.* Terlambat sudah! Jangan tunggu kehilangan untuk menyesal.

3. *Hormati, sayangi, dan dengarkan mereka selagi masih ada, sebab merekalah warisan rohani dan jembatan rahmat bagi generasi berikutnya.*

*III. Doa dan Ekaristi Kudus sebagai Aliran Kasih.*

1. *Bagi orangtua, kakek-nenek, dan leluhur yang telah berpulang, jangan biarkan kasih terputus oleh kematian.* Alirkan cinta melalui doa-doa kudus dan perayaan Ekaristi.

2. *Setiap kali kita berdoa dan mempersembahkan misa untuk mereka, kita sedang menanam benih kasih yang akan tumbuh menjadi berkat bagi seluruh keluarga.*

3. *Jangan biarkan “ladang rumah” menjadi kering karena ego, pertengkaran, atau kelelahan rutinitas.* Sirami dengan waktu berkualitas, perhatian, dan pengampunan.

4. *Jangan anggap enteng kehadiran anggota keluarga yang paling lemah atau sudah renta;* justru merekalah yang menyimpan rahasia kekuatan dan kedewasaan keluarga.

5. *Harta karun terbesar bukanlah emas atau pencapaian di luar, uang, karier, dan jabatan, melainkan keutuhan, sukacita, kebahagiaan, dan kedamaian yang kita bangun dan rawat di dalam rumah.*

*IV. Kesaksian Nyata Ladang yang Subur.*

Saksi hidup dari indahnya ladang subur keluarga ini dapat kita lihat secara nyata dalam perayaan ekaristi kita hari ini. Kita bersyukur atas kehadiran Bapak John Amsikan, seorang musikus yang sudah lama mengadakan kursus pelatihan musik organ Gloria Kefamenanu untuk anak-anak sekolah dasar. Bapak John membawa anak-anak itu dengan 4 keyboard. Anak-anak sedang memainkan musik organ dengan mengiringi seluruh lagu liturgi proprium dan ordinarium, dan anak-anak juga membaca Kitab Suci dan membacakan doa umat. Hemat saya, inilah contoh indah tentang bagaimana keluarga dan komunitas menjadi ladang yang subur dan harta yang mahal untuk pendidikan rohani serta talenta anak-anak kita.

*V. Penutup.*
Mari pulang dengan komitmen baru:

* Temukan kembali harta karun terindah dan termahal di rumah sendiri.

* Perlakukan keluarga, orangtua, kakek-nenek, dan para leluhur sebagai hadiah termahal dari Tuhan.

* Rawat, doakan, dan syukuri mereka—sebab keluarga adalah ladang rahmat dan ladang sumber berkat yang tak akan habis!

Salam sukacita: Tuhan memberkati kita semua. Amin.

banner 325x300
error: Content is protected !!