banner 728x250

APKASI Expo 2026 Bukan Sekadar Pameran, Wamendagri Tantang Daerah Buktikan Investasi Nyata

banner 120x600
banner 468x60

TANGERANG — Pemerintah kabupaten se-Indonesia ditantang tidak menjadikan APKASI Otonomi Expo (AOE) 2026 sekadar panggung memamerkan produk dan potensi daerah.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan, ukuran keberhasilan expo yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, bukan hanya banyaknya pengunjung atau nota kesepahaman (MoU), tetapi harus terlihat dari transaksi dan realisasi investasi.

banner 325x300

Pesan tersebut mengemuka saat pembukaan APKASI Otonomi Expo 2026 yang berlangsung 27–29 Agustus 2026.
AOE 2026 mengusung tema Trade, Tourism, Investment & Procurement dan mempertemukan pemerintah kabupaten, pelaku usaha, investor, buyer serta berbagai pemangku kepentingan ekonomi daerah.

Bima Arya mendorong pemerintah daerah keluar dari pola lama promosi yang hanya berhenti pada pameran.

Menurutnya, potensi daerah harus dipertemukan dengan pasar dan investor sehingga menghasilkan kerja sama ekonomi yang benar-benar memberikan dampak kepada masyarakat.

“Indikatornya tidak hanya jumlah pengunjung, tetapi jumlah transaksi dan realisasi investasi,” demikian penekanan Wamendagri dalam pembukaan kegiatan.

Pesan tersebut menjadi penting bagi pemerintah kabupaten karena investasi pada akhirnya diharapkan tidak hanya meningkatkan angka ekonomi daerah, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan, memperluas pasar produk lokal dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Ketua Umum APKASI Bursah Zarnubi juga mendorong agar kegiatan tersebut menghasilkan pertukaran komoditas dan transaksi yang berkelanjutan.

APKASI sebelumnya telah menyiapkan AOE 2026 dengan konsep yang melampaui pameran konvensional. Salah satu agenda utamanya adalah Business Matching Komoditi dan Investasi, yang mempertemukan pemerintah kabupaten dengan investor dan buyer untuk menjajaki perdagangan komoditas, investasi serta kerja sama pariwisata.

Dengan demikian, tantangan terbesar setelah expo bukan lagi soal bagaimana produk daerah dipajang, tetapi bagaimana produk tersebut benar-benar masuk pasar.

Bagi daerah seperti Kabupaten Malaka, momentum tersebut membuka pertanyaan penting: seberapa jauh potensi lokal mampu dikonversi menjadi investasi, pasar dan lapangan kerja bagi masyarakat?

Sebab, promosi produk daerah baru memiliki arti ketika setelah pameran terdapat pembeli, investor, kerja sama perdagangan dan peningkatan nilai ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat.

APKASI sendiri menempatkan penguatan ekonomi daerah sebagai salah satu alasan utama penyelenggaraan AOE 2026.

Potensi daerah dinilai tidak cukup hanya dikenal, tetapi harus dikemas, dipromosikan dan dipasarkan secara lebih profesional.

Expo yang berlangsung hingga Sabtu (29/8/2026) tersebut akhirnya menjadi ujian bersama bagi pemerintah daerah: apakah pameran hanya menghasilkan foto dan seremoni, atau benar-benar melahirkan transaksi dan investasi baru.

Laporan : Polman Manalu
Editor : Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!